<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kasus Pencucian Uang Bupati Nonaktif Probolinggo, KPK Panggil Camat hingga Tabib</title><description>Penyidik KPK memeriksa camat hingga tabib untuk mengusut kasus pencucian uang bupati nonaktif Probolinggo.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/06/06/337/2606238/kasus-pencucian-uang-bupati-nonaktif-probolinggo-kpk-panggil-camat-hingga-tabib</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/06/06/337/2606238/kasus-pencucian-uang-bupati-nonaktif-probolinggo-kpk-panggil-camat-hingga-tabib"/><item><title>Kasus Pencucian Uang Bupati Nonaktif Probolinggo, KPK Panggil Camat hingga Tabib</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/06/06/337/2606238/kasus-pencucian-uang-bupati-nonaktif-probolinggo-kpk-panggil-camat-hingga-tabib</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/06/06/337/2606238/kasus-pencucian-uang-bupati-nonaktif-probolinggo-kpk-panggil-camat-hingga-tabib</guid><pubDate>Senin 06 Juni 2022 10:04 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/06/337/2606238/kasus-pencucian-uang-bupati-nonaktif-probolinggo-kpk-panggil-camat-hingga-tabib-XjJYFQeeK3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KPK memanggil camat hingga tabib untuk mengusut kasus pencucian uang bupati nonaktif Probolinggo. (Okezone)  </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/06/337/2606238/kasus-pencucian-uang-bupati-nonaktif-probolinggo-kpk-panggil-camat-hingga-tabib-XjJYFQeeK3.jpg</image><title>KPK memanggil camat hingga tabib untuk mengusut kasus pencucian uang bupati nonaktif Probolinggo. (Okezone)  </title></images><description>JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus  mengusut dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Bupati nonaktif Probolinggo, Puput Tantriana Sari (PTS) dan suaminya, Hasan Aminuddin (HA). Hal ini ditandai dengan pemanggilan 3 saksi pada hari ini, Senin (6/6/2022).
Ketiga saksi itu adalah Camat Besuk, Puja Kurniawan; Pegawai Negeri Sipil (PNS), Syamsul Hadi; serta seorang Tabib, Jumali Firdaus. Ketiga saksi tersebut rencananya diperiksa tim penyidik KPK di Mapolres Probolinggo.
&quot;Hari ini, pemeriksaan saksi TPPU tersangka PTS. Pemeriksaan dilakukan di Polres Kabupaten Probolinggo, atas nama saksi tersebut,&quot; kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Senin (6/6/2022).
Sekadar informasi, KPK kembali menetapkan Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin sebagai tersangka. Kali ini, pasangan suami-istri (pasutri) itu ditetapkan sebagai tersangka penerima gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Penetapan tersangka gratifikasi serta TPPU terhadap Puput dan Hasan merupakan pengembangan dari perkara sebelumnya. Sebelumnya, KPK telah lebih dulu menetapkan Puput dan Hasan yang merupakan mantan Anggota DPR RI sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait jual beli jabatan kepala desa (kades) di Probolinggo.
KPK menetapkan 20 orang lainnya yang mayoritas para calon kepala desa sebagai tersangka. Adapun 20 orang tersangka lainnya itu adalah Sumarto; Ali Wafa; Mawardi; Mashudi; Maliha; Mohammad Bambang; Masruhen.
BACA JUGA:Bupati Nonaktif Probolinggo Diduga Sembunyikan Aset Hasil Korupsi Pakai Nama Orang Lain
Kemudian, Abdul Wafi; Kho'im; Akhmad Saifullah; Jaelani; Uhar; Nurul Hadi; Nuruh Huda; Hasan; Sahir; Sugito; Samsuddin; Doddy Kurniawan; serta Muhamad Ridwan. Mereka adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Probolinggo.Dalam perkara suapnya, Hasan Aminuddin dan Puput Tantriana diduga mematok harga sekira Rp20 juta ditambah upeti penyewaan tanah kas desa Rp5 juta per hektar, untuk jabatan kepala desa di Probolinggo.
Hasan dan Puput meminta uang suap dari para calon kepala desa melalui camat atau pejabat desa. KPK berhasil menyita uang Rp362,5 juta saat OTT yang diduga merupakan suap dari para calon kepala desa untuk Puput Tantriana dan Hasan.
Kasus suap jual beli jabatan kepala desa tersebut sudah masuk proses persidangan. Bahkan, sejumlah pihak yang terlibat sudah diputus bersalah. Saat ini, KPK masih menyidik dugaan penerimaan gratifikasi serta TPPU Puput Tantriana Sari dan Hasan Aminuddin.</description><content:encoded>JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus  mengusut dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Bupati nonaktif Probolinggo, Puput Tantriana Sari (PTS) dan suaminya, Hasan Aminuddin (HA). Hal ini ditandai dengan pemanggilan 3 saksi pada hari ini, Senin (6/6/2022).
Ketiga saksi itu adalah Camat Besuk, Puja Kurniawan; Pegawai Negeri Sipil (PNS), Syamsul Hadi; serta seorang Tabib, Jumali Firdaus. Ketiga saksi tersebut rencananya diperiksa tim penyidik KPK di Mapolres Probolinggo.
&quot;Hari ini, pemeriksaan saksi TPPU tersangka PTS. Pemeriksaan dilakukan di Polres Kabupaten Probolinggo, atas nama saksi tersebut,&quot; kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Senin (6/6/2022).
Sekadar informasi, KPK kembali menetapkan Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin sebagai tersangka. Kali ini, pasangan suami-istri (pasutri) itu ditetapkan sebagai tersangka penerima gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Penetapan tersangka gratifikasi serta TPPU terhadap Puput dan Hasan merupakan pengembangan dari perkara sebelumnya. Sebelumnya, KPK telah lebih dulu menetapkan Puput dan Hasan yang merupakan mantan Anggota DPR RI sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait jual beli jabatan kepala desa (kades) di Probolinggo.
KPK menetapkan 20 orang lainnya yang mayoritas para calon kepala desa sebagai tersangka. Adapun 20 orang tersangka lainnya itu adalah Sumarto; Ali Wafa; Mawardi; Mashudi; Maliha; Mohammad Bambang; Masruhen.
BACA JUGA:Bupati Nonaktif Probolinggo Diduga Sembunyikan Aset Hasil Korupsi Pakai Nama Orang Lain
Kemudian, Abdul Wafi; Kho'im; Akhmad Saifullah; Jaelani; Uhar; Nurul Hadi; Nuruh Huda; Hasan; Sahir; Sugito; Samsuddin; Doddy Kurniawan; serta Muhamad Ridwan. Mereka adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Probolinggo.Dalam perkara suapnya, Hasan Aminuddin dan Puput Tantriana diduga mematok harga sekira Rp20 juta ditambah upeti penyewaan tanah kas desa Rp5 juta per hektar, untuk jabatan kepala desa di Probolinggo.
Hasan dan Puput meminta uang suap dari para calon kepala desa melalui camat atau pejabat desa. KPK berhasil menyita uang Rp362,5 juta saat OTT yang diduga merupakan suap dari para calon kepala desa untuk Puput Tantriana dan Hasan.
Kasus suap jual beli jabatan kepala desa tersebut sudah masuk proses persidangan. Bahkan, sejumlah pihak yang terlibat sudah diputus bersalah. Saat ini, KPK masih menyidik dugaan penerimaan gratifikasi serta TPPU Puput Tantriana Sari dan Hasan Aminuddin.</content:encoded></item></channel></rss>
