<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Di Webinar Partai Perindo, Peneliti INDEF Ungkap Pemicu Startup di Indonesia Berangsur Bangkrut</title><description>Keberadaan startup atau perusahaan rintisan teknologi di Indonesia saat ini seperti diterjang ombak besar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/06/10/337/2609428/di-webinar-partai-perindo-peneliti-indef-ungkap-pemicu-startup-di-indonesia-berangsur-bangkrut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/06/10/337/2609428/di-webinar-partai-perindo-peneliti-indef-ungkap-pemicu-startup-di-indonesia-berangsur-bangkrut"/><item><title>Di Webinar Partai Perindo, Peneliti INDEF Ungkap Pemicu Startup di Indonesia Berangsur Bangkrut</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/06/10/337/2609428/di-webinar-partai-perindo-peneliti-indef-ungkap-pemicu-startup-di-indonesia-berangsur-bangkrut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/06/10/337/2609428/di-webinar-partai-perindo-peneliti-indef-ungkap-pemicu-startup-di-indonesia-berangsur-bangkrut</guid><pubDate>Jum'at 10 Juni 2022 17:37 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/10/337/2609428/di-webinar-partai-perindo-peneliti-indef-ungkap-pemicu-startup-di-indonesia-berangsur-bangkrut-lMZrWXQuaD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Peneliti INDEF Nailul Huda (Foto: Dok)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/10/337/2609428/di-webinar-partai-perindo-peneliti-indef-ungkap-pemicu-startup-di-indonesia-berangsur-bangkrut-lMZrWXQuaD.jpg</image><title>Peneliti INDEF Nailul Huda (Foto: Dok)</title></images><description>JAKARTA - Keberadaan startup atau perusahaan rintisan teknologi di Indonesia saat ini seperti diterjang ombak besar. Banyak startup di antaranya mulai goyah hingga bangkrut dengan mem-PHK karyawan.
Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda mengatakan saat awal kemunculannya, startup di Indonesia terus mengalami perkembangan yang berjumlahnya mencapai ribuan dan berada di urutan ke-5 besar dunia.
&quot;Jumlah startup (Indonesia) urutan ke- 5, perkembangan startup  di Indonesia cukup pesat di mana jumlah startup mencapai 2,379,&quot; kata Nailul Huda dalam paparannya di webinar Partai Perindo bertajuk &quot;Startup Mulai Berguguran, Ada Apa?&quot; di Jakarta Jumat (10/6/2022).
BACA JUGA:DPP Partai Perindo Sosialisasi Pencalegan Kepada Tokoh Masyarakat di Sulawesi Utara

Berada di peringkat ke-5 dunia dengan jumlah sebanyak 2,379 startup. Indonesia masih di bawah Amerika Serikat, India, United Kingdom (UK) atau Inggris dan Kanada yang mendominasi banyaknya jumlah startup di dunia.
&quot;Indonesia cuma kalah dari Amerika, India, UK dan Kanada. China hanya punya 618 startup,&quot; ungkapnya.
Dikatakannya pada 2021 terjadi kenaikan yang cukup tajam dalam investasi ke startup digital Indonesia dari perusahaan modal ventura atau Venture Capital Company di luar negeri.
&quot;Tahun 2021, investasi startup mencapai puncaknya dengan Rp144,06 triliun atau naik hingga 195%,&quot; ungkapnya.
BACA JUGA:10 Parpol Elektabilitas Tertinggi, dari PDIP hingga PerindoAkan tetapi memasuki tahun ini, beberapa startup mulai bertumbangan. Padahal, di masa pandemi Covid-19 begitu banyak masyarakat Indonesia yang mengandalkan digital online untuk belanja dan melakukan transaksi.&amp;nbsp;
Pemicunya, suntikan dana dari luar negeri mulai menipis dan investor selektif dalam mencairkan fulus ke startup. &quot;Namun pada tahun 2022, nampaknya terjadi penurunan investasi di mana hingga tengah tahun investasi ke startup Indonesia belum mencapai 50% dari tahun lalu,&quot; ucap Huda.
Ketika terjadi penurunan investasi karenanya adanya seleksi yang ketat dalam pendanaan dari luar negeri. Startup di Indonesia malah jor-joran melakukan ekspansi pasarnya dan merekrut karyawan secara besar-besaran.
Suntikan dana dari luar negeri ke startup Indonesia menipis, ia mencontohkan jika ada kebijakan baru di Amerika Serikat terkait pendanaan, sehingga investor yang menanamkan modalnya di Indonesia akan semakin berkurang dan selektif mencairkan dana.
&quot;Nah, pada tahun ini mereka sepertinya gagal untuk mendapatkan pendanaan yang semakin selektif. Pendanaannya susah, tetapi mereka sudah terlanjur melakukan ekspansi pasar dan sudah meng-hire karyawan yang cukup masif,&quot; ujarnya.
Merosotnya investasi dari luar negeri menyebabnya keberadaan startup di Indonesia kelimpungan di tengah jalan. Akibatnya startup kalah saing karena tidak memiliki dana lagi hingga akhirnya mem-PHK karyawan.
&quot;Efeknya mereka tidak bisa beroperasional, tidak bisa memberikan insentif bagi konsumen, sehingga mereka melakukan efisiensi. Akhirnya dipilih jalan keluar yaitu mereka melepas karyawan secara masif,&quot; ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Keberadaan startup atau perusahaan rintisan teknologi di Indonesia saat ini seperti diterjang ombak besar. Banyak startup di antaranya mulai goyah hingga bangkrut dengan mem-PHK karyawan.
Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda mengatakan saat awal kemunculannya, startup di Indonesia terus mengalami perkembangan yang berjumlahnya mencapai ribuan dan berada di urutan ke-5 besar dunia.
&quot;Jumlah startup (Indonesia) urutan ke- 5, perkembangan startup  di Indonesia cukup pesat di mana jumlah startup mencapai 2,379,&quot; kata Nailul Huda dalam paparannya di webinar Partai Perindo bertajuk &quot;Startup Mulai Berguguran, Ada Apa?&quot; di Jakarta Jumat (10/6/2022).
BACA JUGA:DPP Partai Perindo Sosialisasi Pencalegan Kepada Tokoh Masyarakat di Sulawesi Utara

Berada di peringkat ke-5 dunia dengan jumlah sebanyak 2,379 startup. Indonesia masih di bawah Amerika Serikat, India, United Kingdom (UK) atau Inggris dan Kanada yang mendominasi banyaknya jumlah startup di dunia.
&quot;Indonesia cuma kalah dari Amerika, India, UK dan Kanada. China hanya punya 618 startup,&quot; ungkapnya.
Dikatakannya pada 2021 terjadi kenaikan yang cukup tajam dalam investasi ke startup digital Indonesia dari perusahaan modal ventura atau Venture Capital Company di luar negeri.
&quot;Tahun 2021, investasi startup mencapai puncaknya dengan Rp144,06 triliun atau naik hingga 195%,&quot; ungkapnya.
BACA JUGA:10 Parpol Elektabilitas Tertinggi, dari PDIP hingga PerindoAkan tetapi memasuki tahun ini, beberapa startup mulai bertumbangan. Padahal, di masa pandemi Covid-19 begitu banyak masyarakat Indonesia yang mengandalkan digital online untuk belanja dan melakukan transaksi.&amp;nbsp;
Pemicunya, suntikan dana dari luar negeri mulai menipis dan investor selektif dalam mencairkan fulus ke startup. &quot;Namun pada tahun 2022, nampaknya terjadi penurunan investasi di mana hingga tengah tahun investasi ke startup Indonesia belum mencapai 50% dari tahun lalu,&quot; ucap Huda.
Ketika terjadi penurunan investasi karenanya adanya seleksi yang ketat dalam pendanaan dari luar negeri. Startup di Indonesia malah jor-joran melakukan ekspansi pasarnya dan merekrut karyawan secara besar-besaran.
Suntikan dana dari luar negeri ke startup Indonesia menipis, ia mencontohkan jika ada kebijakan baru di Amerika Serikat terkait pendanaan, sehingga investor yang menanamkan modalnya di Indonesia akan semakin berkurang dan selektif mencairkan dana.
&quot;Nah, pada tahun ini mereka sepertinya gagal untuk mendapatkan pendanaan yang semakin selektif. Pendanaannya susah, tetapi mereka sudah terlanjur melakukan ekspansi pasar dan sudah meng-hire karyawan yang cukup masif,&quot; ujarnya.
Merosotnya investasi dari luar negeri menyebabnya keberadaan startup di Indonesia kelimpungan di tengah jalan. Akibatnya startup kalah saing karena tidak memiliki dana lagi hingga akhirnya mem-PHK karyawan.
&quot;Efeknya mereka tidak bisa beroperasional, tidak bisa memberikan insentif bagi konsumen, sehingga mereka melakukan efisiensi. Akhirnya dipilih jalan keluar yaitu mereka melepas karyawan secara masif,&quot; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
