<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2 Pujangga Majapahit yang Terlupakan dengan 3 Kitab yang Dikarangnya</title><description>Nama Mpu Tanakung dan Mpu Dusun, tidaklah sepopuler Mpu Prapanca dan Mpu Santosa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/07/07/337/2625040/2-pujangga-majapahit-yang-terlupakan-dengan-3-kitab-yang-dikarangnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/07/07/337/2625040/2-pujangga-majapahit-yang-terlupakan-dengan-3-kitab-yang-dikarangnya"/><item><title>2 Pujangga Majapahit yang Terlupakan dengan 3 Kitab yang Dikarangnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/07/07/337/2625040/2-pujangga-majapahit-yang-terlupakan-dengan-3-kitab-yang-dikarangnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/07/07/337/2625040/2-pujangga-majapahit-yang-terlupakan-dengan-3-kitab-yang-dikarangnya</guid><pubDate>Kamis 07 Juli 2022 05:57 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/07/337/2625040/2-pujangga-majapahit-yang-terlupakan-dengan-3-kitab-yang-dikarangnya-vOWqiK9jsQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dua pujangga Majapahit yang terlupakan</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/07/337/2625040/2-pujangga-majapahit-yang-terlupakan-dengan-3-kitab-yang-dikarangnya-vOWqiK9jsQ.jpg</image><title>Dua pujangga Majapahit yang terlupakan</title></images><description>NAMA dua sastrawan Kerajaan Majapahit ini mungkin asing di mata masyarakat awam. Nama mereka kalah dari kebesaran nama Mpu Prapanca dan Mpu Santosa yang menulis empat kitab di era Kerajaan Hayam Wuruk. Dua nama sastrawan Mpu Tanakung dan Mpu Dusun. Kedua sastrawan ini menuliskan tiga kitab.

Kakawin Lubadhaka menjadi kitab yang ditulis Mpu Tanakung pada pertengahan abad 15 di bawah lindungan Sri Adisuraprabhawa atau raja Majapahit Dyah Suraprabhawa yang memimpin pada 1466-1474 Masehi. Sebagaimana dikutip dari buku &quot;Perang Bubat 1279 Saka, Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit,&quot; dari Sri Wintala Achmad.

Keunikan kakawin ini terletak pada tokohnya yang merupakan serorang pemburu. Kakawin ini mengisahkan sorang pemburu yang mencapai surga karena menghormati lingga pada malam Siwa.

Kitab berikutnya yang ditulis Mpu Tanakung adalah Wrttansancana. Kakawin ini ditulis untuk memberikan kaidah-kaidah metrum. Perihal pesan moral yang tersirat dari kisah perpisahan dan pertemuan seorang putri dengan kekasihnya melalui sepasang itik dalam karya tersebut. Tanakung mengisahkan bagaimana perpisahan dan pertemuan manusia juga dialami Mpu Tanakung.

Mpu Tanakung mengisahkan tak ada keabadian di dunia melalui Kakawin Wrttansancana. Setiap pertemuan merupakan ambang perpisahan, dan perpisahan merupakan ambang pertemuan. Karenanya dalam kitab kakawin ini dikisahkan bagaimana larangan bersedih sewaktu berpisah.

BACA JUGA:Kewajiban Bayar Pajak saat Hayam Wuruk Pimpin Majapahit

Tanakung juga mengkritisi adanya pendapat bahwa seluruh manusia adalah umat Tuhan yang mulia. Menurut Tanakung, tingkatan nilai manusia ditentukan oleh budi pekertinya, banyak manusia kaya raya yang tidak memiliki nilai tinggi di hadapan Tuhan, karena hidup sebagai penjahat. Namun sebaliknya banyak manusia miskin atau papa, sebagaimana dilukiskan sebagai binatang itik yang bernilai tinggi, karena suka menolong pada seluruh makhluk Tuhan.

Pujangga terakhir yang juga mengarang kakawin di era Kerajaan Majapahit yakni Mpu Dusun. Mpu Dusun merupakan seorang sastrawan yang tinggal di daerah pedalaman Majapahit. Kitab kakawinnya bernama Kakawin Kunjarakarna Dharmakarthana ia lahirkan.

Bila dicermati dengan seksama, kakawin tersebut bersifat Buddhistis, namun masih dalam kerangka religius Siwa-Buddha. Terdapat dugaaan yang menyatakan, kakawin tersebut digubah sebelum Kakawin Siwaratrtkalpa.

Kisah dalam kakawin Kunjarakarna Dharmakarthana dapat disaksikan melalui relief-relief di Candi Jago. Versi kisah pada relief-relief tersebut belum dapat ditentukan. Tampaklah bahwa kisah Kunjarakarna Dharmakarthana telah dikenal sebelum dituliskan.
</description><content:encoded>NAMA dua sastrawan Kerajaan Majapahit ini mungkin asing di mata masyarakat awam. Nama mereka kalah dari kebesaran nama Mpu Prapanca dan Mpu Santosa yang menulis empat kitab di era Kerajaan Hayam Wuruk. Dua nama sastrawan Mpu Tanakung dan Mpu Dusun. Kedua sastrawan ini menuliskan tiga kitab.

Kakawin Lubadhaka menjadi kitab yang ditulis Mpu Tanakung pada pertengahan abad 15 di bawah lindungan Sri Adisuraprabhawa atau raja Majapahit Dyah Suraprabhawa yang memimpin pada 1466-1474 Masehi. Sebagaimana dikutip dari buku &quot;Perang Bubat 1279 Saka, Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit,&quot; dari Sri Wintala Achmad.

Keunikan kakawin ini terletak pada tokohnya yang merupakan serorang pemburu. Kakawin ini mengisahkan sorang pemburu yang mencapai surga karena menghormati lingga pada malam Siwa.

Kitab berikutnya yang ditulis Mpu Tanakung adalah Wrttansancana. Kakawin ini ditulis untuk memberikan kaidah-kaidah metrum. Perihal pesan moral yang tersirat dari kisah perpisahan dan pertemuan seorang putri dengan kekasihnya melalui sepasang itik dalam karya tersebut. Tanakung mengisahkan bagaimana perpisahan dan pertemuan manusia juga dialami Mpu Tanakung.

Mpu Tanakung mengisahkan tak ada keabadian di dunia melalui Kakawin Wrttansancana. Setiap pertemuan merupakan ambang perpisahan, dan perpisahan merupakan ambang pertemuan. Karenanya dalam kitab kakawin ini dikisahkan bagaimana larangan bersedih sewaktu berpisah.

BACA JUGA:Kewajiban Bayar Pajak saat Hayam Wuruk Pimpin Majapahit

Tanakung juga mengkritisi adanya pendapat bahwa seluruh manusia adalah umat Tuhan yang mulia. Menurut Tanakung, tingkatan nilai manusia ditentukan oleh budi pekertinya, banyak manusia kaya raya yang tidak memiliki nilai tinggi di hadapan Tuhan, karena hidup sebagai penjahat. Namun sebaliknya banyak manusia miskin atau papa, sebagaimana dilukiskan sebagai binatang itik yang bernilai tinggi, karena suka menolong pada seluruh makhluk Tuhan.

Pujangga terakhir yang juga mengarang kakawin di era Kerajaan Majapahit yakni Mpu Dusun. Mpu Dusun merupakan seorang sastrawan yang tinggal di daerah pedalaman Majapahit. Kitab kakawinnya bernama Kakawin Kunjarakarna Dharmakarthana ia lahirkan.

Bila dicermati dengan seksama, kakawin tersebut bersifat Buddhistis, namun masih dalam kerangka religius Siwa-Buddha. Terdapat dugaaan yang menyatakan, kakawin tersebut digubah sebelum Kakawin Siwaratrtkalpa.

Kisah dalam kakawin Kunjarakarna Dharmakarthana dapat disaksikan melalui relief-relief di Candi Jago. Versi kisah pada relief-relief tersebut belum dapat ditentukan. Tampaklah bahwa kisah Kunjarakarna Dharmakarthana telah dikenal sebelum dituliskan.
</content:encoded></item></channel></rss>
