<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Viral! Pria Jepang Dibayar Rp1 Juta Untuk 'Tidak Melakukan Apa-Apa'</title><description>Dengan pekerjaan yang aneh ini, Morimoto bisa mendapatkan satu atau dua pelanggan setiap harinya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/06/18/2661992/viral-pria-jepang-dibayar-rp1-juta-untuk-tidak-melakukan-apa-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/09/06/18/2661992/viral-pria-jepang-dibayar-rp1-juta-untuk-tidak-melakukan-apa-apa"/><item><title>Viral! Pria Jepang Dibayar Rp1 Juta Untuk 'Tidak Melakukan Apa-Apa'</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/06/18/2661992/viral-pria-jepang-dibayar-rp1-juta-untuk-tidak-melakukan-apa-apa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/09/06/18/2661992/viral-pria-jepang-dibayar-rp1-juta-untuk-tidak-melakukan-apa-apa</guid><pubDate>Selasa 06 September 2022 18:05 WIB</pubDate><dc:creator>Adinda Tasya Mutiara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/06/18/2661992/viral-pria-jepang-dibayar-rp1-juta-untuk-tidak-melakukan-apa-apa-vkYPoFacMn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Shoji Morimoto menggunakan ponselnya saat menemani kliennya Aruna Chida di sebuah kafe di Tokyo, Jepang, 31 Agustus 2022. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/06/18/2661992/viral-pria-jepang-dibayar-rp1-juta-untuk-tidak-melakukan-apa-apa-vkYPoFacMn.jpg</image><title>Shoji Morimoto menggunakan ponselnya saat menemani kliennya Aruna Chida di sebuah kafe di Tokyo, Jepang, 31 Agustus 2022. (Foto: Reuters)</title></images><description>TOKYO &amp;ndash; Seorang pria di Jepang berhasil meraih kesuksesan dengan secara harfiah &amp;ldquo;tidak melakukan apa-apa&amp;rdquo;. Pria bernama Shoji Morimoto ini menghasilkan banyak uang dengan menyewakan dirinya untuk sekedar menemani pelanggannya saja.
Warga Tokyo yang berusia 38 tahun ini menjadi seorang selebriti di Jepang hanya dalam waktu dua tahun. Dia memiliki lebih dari 270 ribu pengikut di akun Twitternya dan kerap muncul di sejumlah program televisi, buku serta majalah dengan kisahnya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Pria Ini Sukses Berbaring Selama 60 Jam Nonstop, Kaum Rebahan Sejati!
Morimoto mengaku bahwa dirinya memberi tarif biaya 10.000 yen (sekitar Rp1 juta) per jam untuk menjadi pendamping pelanggannya. Ia juga menjelaskan bahwa selama empat tahun terakhir ini, dirinya berhasil menjadi pendamping selama 4.000 sesi.
&amp;ldquo;Pada dasarnya, saya menyewakan diri saya sendiri. Tugas saya adalah berada di mana pun klien saya menginginkannya dan saya tidak melakukan apa pun secara khusus,&amp;rdquo; kata Morimoto, dikutip dari Reuters.
Pria ini berhasil sampai titik suksesnya karena pekerjaan yang pada dasarnya mengharuskan ia untuk tidak melakukan apa-apa, selain bertemu dengan orang, mendengarkan cerita pelanggan, atau secara fisik berada di samping pelanggannya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;7 Pekerjaan Paling Aneh di Dunia, Kamu Enggak Bakalan Nyangka
Sebelum bertemu pelanggan, Morimoto memberi tahu mereka bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa selain makan, minum, dan bergaul. Bahkan Morimoto pernah menolak tawaran untuk memindahkan lemari, pergi menuju Kamboja, dan ia sangat menolak keras apa pun yang bersifat seksual.
Mengutip dari Reuters, Morimoto memiliki pengalaman dengan pelanggannya, yakni Aruna Chida seorang analis data berusia 27 tahun. Saat itu, Chida yang mengenakan kain sari hanya perlu ditemani berbincang sambil minum teh dan makan kue.

Chida merasa hanya dengan Morimoto ia bisa menjadi dirinya sendiri dengan keinginannya memakai pakaian khas India (kain sari) dan tidak khawatir teman-temannya malu akan dirinya. Jadi, Chida memilih Morimoto untuk menemaninya sebagai pengganti teman-temannya.
&amp;ldquo;Dengan teman-teman saya, saya harus menghibur mereka. Tetapi dengan si pria sewaan (Morimoto) saya tidak merasa perlu melakukan hal tersebut,&amp;rdquo; jelas Chida kepada&amp;nbsp;Reuters.
Bisnis yang Morimoto tekuni saat ini menjadi satu-satunya sumber pendapatannya. Dengan pekerjaan itu, ia bisa menghidupi istri dan anaknya.
Meskipun Morimoto menolak untuk mengungkapkan berapa banyak yang dia hasilkan selama ini, namun ia menjelaskan bahwa dalam satu hari dia menemani satu atau dua pelanggan dalam sehari. Bahkan, sebelum pandemi dia berhasil mendapatkan tiga atau empat pelanggan setiap harinya.
Yang banyak orang tidak ketahui, Morimoto sering merenungkan perkerjaannya dan mempertanyakan masyarakat Jepang yang sangat menghargai produktivitas dan menilai ketidakbergunaan seseorang, apalagi pekerjaan yang Morimoto tekuni dinilai tidak melakukan apa-apa.
&quot;Orang cenderung berpikir bahwa 'tidak melakukan apa-apa' itu tidak berguna. Saya berharga karena berguna (bagi orang lain). Orang tidak harus berguna dengan cara tertentu,&quot; katanya.</description><content:encoded>TOKYO &amp;ndash; Seorang pria di Jepang berhasil meraih kesuksesan dengan secara harfiah &amp;ldquo;tidak melakukan apa-apa&amp;rdquo;. Pria bernama Shoji Morimoto ini menghasilkan banyak uang dengan menyewakan dirinya untuk sekedar menemani pelanggannya saja.
Warga Tokyo yang berusia 38 tahun ini menjadi seorang selebriti di Jepang hanya dalam waktu dua tahun. Dia memiliki lebih dari 270 ribu pengikut di akun Twitternya dan kerap muncul di sejumlah program televisi, buku serta majalah dengan kisahnya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Pria Ini Sukses Berbaring Selama 60 Jam Nonstop, Kaum Rebahan Sejati!
Morimoto mengaku bahwa dirinya memberi tarif biaya 10.000 yen (sekitar Rp1 juta) per jam untuk menjadi pendamping pelanggannya. Ia juga menjelaskan bahwa selama empat tahun terakhir ini, dirinya berhasil menjadi pendamping selama 4.000 sesi.
&amp;ldquo;Pada dasarnya, saya menyewakan diri saya sendiri. Tugas saya adalah berada di mana pun klien saya menginginkannya dan saya tidak melakukan apa pun secara khusus,&amp;rdquo; kata Morimoto, dikutip dari Reuters.
Pria ini berhasil sampai titik suksesnya karena pekerjaan yang pada dasarnya mengharuskan ia untuk tidak melakukan apa-apa, selain bertemu dengan orang, mendengarkan cerita pelanggan, atau secara fisik berada di samping pelanggannya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;7 Pekerjaan Paling Aneh di Dunia, Kamu Enggak Bakalan Nyangka
Sebelum bertemu pelanggan, Morimoto memberi tahu mereka bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa selain makan, minum, dan bergaul. Bahkan Morimoto pernah menolak tawaran untuk memindahkan lemari, pergi menuju Kamboja, dan ia sangat menolak keras apa pun yang bersifat seksual.
Mengutip dari Reuters, Morimoto memiliki pengalaman dengan pelanggannya, yakni Aruna Chida seorang analis data berusia 27 tahun. Saat itu, Chida yang mengenakan kain sari hanya perlu ditemani berbincang sambil minum teh dan makan kue.

Chida merasa hanya dengan Morimoto ia bisa menjadi dirinya sendiri dengan keinginannya memakai pakaian khas India (kain sari) dan tidak khawatir teman-temannya malu akan dirinya. Jadi, Chida memilih Morimoto untuk menemaninya sebagai pengganti teman-temannya.
&amp;ldquo;Dengan teman-teman saya, saya harus menghibur mereka. Tetapi dengan si pria sewaan (Morimoto) saya tidak merasa perlu melakukan hal tersebut,&amp;rdquo; jelas Chida kepada&amp;nbsp;Reuters.
Bisnis yang Morimoto tekuni saat ini menjadi satu-satunya sumber pendapatannya. Dengan pekerjaan itu, ia bisa menghidupi istri dan anaknya.
Meskipun Morimoto menolak untuk mengungkapkan berapa banyak yang dia hasilkan selama ini, namun ia menjelaskan bahwa dalam satu hari dia menemani satu atau dua pelanggan dalam sehari. Bahkan, sebelum pandemi dia berhasil mendapatkan tiga atau empat pelanggan setiap harinya.
Yang banyak orang tidak ketahui, Morimoto sering merenungkan perkerjaannya dan mempertanyakan masyarakat Jepang yang sangat menghargai produktivitas dan menilai ketidakbergunaan seseorang, apalagi pekerjaan yang Morimoto tekuni dinilai tidak melakukan apa-apa.
&quot;Orang cenderung berpikir bahwa 'tidak melakukan apa-apa' itu tidak berguna. Saya berharga karena berguna (bagi orang lain). Orang tidak harus berguna dengan cara tertentu,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
