<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saat Habibie 'Nembak' Ainun: Apakah Ainun Sudah Memiliki Kawan Dekat?</title><description>Setelah mereka berjalan kurang lebih satu jam, Habibie memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kepada Ainun.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/06/337/2661730/saat-habibie-nembak-ainun-apakah-ainun-sudah-memiliki-kawan-dekat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/09/06/337/2661730/saat-habibie-nembak-ainun-apakah-ainun-sudah-memiliki-kawan-dekat"/><item><title>Saat Habibie 'Nembak' Ainun: Apakah Ainun Sudah Memiliki Kawan Dekat?</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/06/337/2661730/saat-habibie-nembak-ainun-apakah-ainun-sudah-memiliki-kawan-dekat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/09/06/337/2661730/saat-habibie-nembak-ainun-apakah-ainun-sudah-memiliki-kawan-dekat</guid><pubDate>Selasa 06 September 2022 17:35 WIB</pubDate><dc:creator>Nadilla Syabriya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/06/337/2661730/saat-habibie-nembak-ainun-apakah-ainun-sudah-memiliki-kawan-dekat-0uAAyFN9CT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BJ Habibie dan Ainun. (Foto: Ant)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/06/337/2661730/saat-habibie-nembak-ainun-apakah-ainun-sudah-memiliki-kawan-dekat-0uAAyFN9CT.jpg</image><title>BJ Habibie dan Ainun. (Foto: Ant)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Setelah shalat Id dan menemani Ibunda berkunjung ke beberapa keluarga di Bandung, Habibie mendapat kesempatan berkunjung ke Rangga Malela, rumah Ainun.
Tanpa ia sadari pandangan mata Ainun semalam saat dia berkunjung telah menimbulkan perasaan rindu untuk berpandangan lagi. Habibie pun berusaha melupakan perasaan itu, karena telah memahami dan mengerti pesan kawan-kawan di Imam Bonjol. Mereka bermaksud baik dan mempersiapkan kekecewaan, jikalau Habibie kelak ditolak oleh Ainun.
&amp;ldquo;Tetapi mengapa pandangan mata itu dapat memukau? Mengapa pandangan mata Ainun dan saya itu tanpa ucapan telah memberi perasaan yang belum pernah saya alami? Apakah perasaan Ainun juga sama seperti saya? Ah, lupakan saja! Jangan berkhayal dan berfantasi. Datang saja ke rumah Pak Besari untuk memohon maaf dan bersilaturahmi,&amp;rdquo; gumamnya dalam Buku Habibie&amp;amp;Ainun
BACA JUGA:Ketika Habibie Digertak untuk Tinggalkan Ainun: Sainganmu dari Keluarga Terkemuka Indonesia
BACA JUGA:Kisah Romantis Habibie-Ainun: Malam Takbiran Tahun 1962 Jadi Kenangan Manis Sepanjang Masa

Di rumah Rangga Malela no. 11 B, banyak tamu yang hadir. Baik yang muda mau pun yang sudah lanjut usianya.
Habibie sebenarnya bermaksud mengajak Ainun untuk nonton film, namun karena malam itu kebetulan tidak hujan dan cuaca dibandingkan dengan cuaca di Jerman jika malam masih dingin, maka ia mengajak Ainun untuk berjalan kaki dari rumah Rangga Malela ke kampus Fakultas Teknik Universitas Indonesia, sekarang ITB, melewati bekas sekolah mereka berdua, SMAK, di Jalan Dago dan kembali ke Rangga Malela.
Setelah mereka berjalan kurang lebih satu jam, Habibie memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kepada Ainun, &quot;Ainun maafkan sebelumnya, jikalau saya mengajukan pertanyaan yang mungkin dapat menyinggung perasaanmu. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu rencana masa depanmu. Apakah Ainun sudah memiliki kawan dekat?&quot; tanya Habibie.
Ainun diam.Karena tidak mendapat jawaban, Habibie mengulangi pertanyaan dengan menekankan pentingnya ketulusan mengemukakan isi hati mereka berdua apa adanya.
&quot;Saya tidak memiliki kawan atau teman dekat dan khusus,&amp;rdquo; jawab Ainun sambil memandang mata Habibie.
Hati Habibie berdebar mendengar jawaban Ainun dan matanya bertemu lagi dengan pandangan mata yang sejak kemarin beberapa kali bertemu. Mata Ainun yang sejak kemarin telah memberi getaran jiwa dan Habibie rindukan sepanjang masa.
Tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu dan mereka berdua sambil berpegangan tangan tiba kembali di rumah Rangga Malela. Masih banyak tamu dan beberapa pemuda duduk di depan rumah memperhatikan kedatangan kami.
Sejak itu Habibie secara batin tidak pernah berpisah dengan Ainun dan demikian pula Ainun dengan Habibie.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Setelah shalat Id dan menemani Ibunda berkunjung ke beberapa keluarga di Bandung, Habibie mendapat kesempatan berkunjung ke Rangga Malela, rumah Ainun.
Tanpa ia sadari pandangan mata Ainun semalam saat dia berkunjung telah menimbulkan perasaan rindu untuk berpandangan lagi. Habibie pun berusaha melupakan perasaan itu, karena telah memahami dan mengerti pesan kawan-kawan di Imam Bonjol. Mereka bermaksud baik dan mempersiapkan kekecewaan, jikalau Habibie kelak ditolak oleh Ainun.
&amp;ldquo;Tetapi mengapa pandangan mata itu dapat memukau? Mengapa pandangan mata Ainun dan saya itu tanpa ucapan telah memberi perasaan yang belum pernah saya alami? Apakah perasaan Ainun juga sama seperti saya? Ah, lupakan saja! Jangan berkhayal dan berfantasi. Datang saja ke rumah Pak Besari untuk memohon maaf dan bersilaturahmi,&amp;rdquo; gumamnya dalam Buku Habibie&amp;amp;Ainun
BACA JUGA:Ketika Habibie Digertak untuk Tinggalkan Ainun: Sainganmu dari Keluarga Terkemuka Indonesia
BACA JUGA:Kisah Romantis Habibie-Ainun: Malam Takbiran Tahun 1962 Jadi Kenangan Manis Sepanjang Masa

Di rumah Rangga Malela no. 11 B, banyak tamu yang hadir. Baik yang muda mau pun yang sudah lanjut usianya.
Habibie sebenarnya bermaksud mengajak Ainun untuk nonton film, namun karena malam itu kebetulan tidak hujan dan cuaca dibandingkan dengan cuaca di Jerman jika malam masih dingin, maka ia mengajak Ainun untuk berjalan kaki dari rumah Rangga Malela ke kampus Fakultas Teknik Universitas Indonesia, sekarang ITB, melewati bekas sekolah mereka berdua, SMAK, di Jalan Dago dan kembali ke Rangga Malela.
Setelah mereka berjalan kurang lebih satu jam, Habibie memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kepada Ainun, &quot;Ainun maafkan sebelumnya, jikalau saya mengajukan pertanyaan yang mungkin dapat menyinggung perasaanmu. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu rencana masa depanmu. Apakah Ainun sudah memiliki kawan dekat?&quot; tanya Habibie.
Ainun diam.Karena tidak mendapat jawaban, Habibie mengulangi pertanyaan dengan menekankan pentingnya ketulusan mengemukakan isi hati mereka berdua apa adanya.
&quot;Saya tidak memiliki kawan atau teman dekat dan khusus,&amp;rdquo; jawab Ainun sambil memandang mata Habibie.
Hati Habibie berdebar mendengar jawaban Ainun dan matanya bertemu lagi dengan pandangan mata yang sejak kemarin beberapa kali bertemu. Mata Ainun yang sejak kemarin telah memberi getaran jiwa dan Habibie rindukan sepanjang masa.
Tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu dan mereka berdua sambil berpegangan tangan tiba kembali di rumah Rangga Malela. Masih banyak tamu dan beberapa pemuda duduk di depan rumah memperhatikan kedatangan kami.
Sejak itu Habibie secara batin tidak pernah berpisah dengan Ainun dan demikian pula Ainun dengan Habibie.</content:encoded></item></channel></rss>
