<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Hisashi Ouchi Korban Paparan Radiasi Terburuk di Dunia</title><description>Ouchi dijaga tetap hidup selama 83 hari meski kulitnya meleleh dan mengalami kesakitan yang luar biasa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/19/18/2670723/kisah-hisashi-ouchi-korban-paparan-radiasi-terburuk-di-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/09/19/18/2670723/kisah-hisashi-ouchi-korban-paparan-radiasi-terburuk-di-dunia"/><item><title>Kisah Hisashi Ouchi Korban Paparan Radiasi Terburuk di Dunia</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/19/18/2670723/kisah-hisashi-ouchi-korban-paparan-radiasi-terburuk-di-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/09/19/18/2670723/kisah-hisashi-ouchi-korban-paparan-radiasi-terburuk-di-dunia</guid><pubDate>Senin 19 September 2022 20:05 WIB</pubDate><dc:creator>Alfilya Tri Maulina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/19/18/2670723/kisah-hisashi-ouchi-korban-paparan-radiasi-terburuk-di-dunia-8ih6j5WOVm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hishashi Ouchi korban insiden nuklir di PLTN Tokaimura, Jepang. (Foto: LADBible)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/19/18/2670723/kisah-hisashi-ouchi-korban-paparan-radiasi-terburuk-di-dunia-8ih6j5WOVm.jpg</image><title>Hishashi Ouchi korban insiden nuklir di PLTN Tokaimura, Jepang. (Foto: LADBible)</title></images><description>JAKARTA - Pada 30 September 1999 telah terjadi insiden kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Tokaimura, Jepang. Insiden tersebut telah terjadi 23 tahun yang lalu dan menjadi kecelakaan nuklir terburuk di Jepang.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah 'Manusia Radioaktif' Hishashi Ouchi, Dijaga Tetap Hidup Meski Kulit Meleleh dan Menangis Darah
Sebanyak 49 orang sama ruangan terpapar radiasi yang berbahaya dan berdampak ke pemukiman warga. Salah satu teknisi bernama Hisashi Ouchi, (35) menjadi korban dengan luka cukup parah sebagian kulitnya hilang meleleh, juga mengeluarkan air mata darah.
Insiden ini berawal dari penelitian khusus yang dilakukan Japan Nuclear Fuel Conversion Co. (JCO) di PLTN Tokaimura. Namun, perusahaan operator PLTN itu kurang memperhatikan langkah-langkah keamanan, bahkan mengambil jalan singkat untuk memenuhi target waktu yang diestimasikan.
Pada hari nahas itu JCO memerintahkan kepada Ouchi dan dua rekan kerja lainnya untuk mencampur bahan bakar nuklir baru.
Ouchi bersama dua rekannya, Masato Shinohara, (29) dan Yutaka Yokokawa, (54) ternyata tidak berpengalaman dan terlatih dalam menjalankan tugas yang telah di perintahkan itu. Dengan tidak sengaja mereka asal menuangkan cairan Uranium tujuh kali lipat ke dalam tangki yang tidak layak pakai.
BACA JUGA:&amp;nbsp;10 Tahun Bencana Nuklir Fukushima, Nasib Energi Nuklir Jepang Dinilai Suram
Ketika Cairan tersebut tercampur dan tidak bertahan lama lalu melepaskan radiasi neutron dan sinar gamma yang berbahaya mengenai seluruh isi ruangan dan menyebabkan ledakan hebat.
Ketiga pekerja itu terpapar radiasi akibat ledakan tersebut. Ouchi bahkan terkena radiasi level 17 sierverts (Sv) atau 10 Sv melebihi dosis yang semestinya.Bagi Ouchi, cobaan berat yang tidak pernah ia inginkan baru saja dimulai. Setelah ledakan itu Ouchi dibawa ke Institut Nasional Ilmu Radiologi di Chiba, sebelum dibawa ke rumah sakit Universitas Tokyo tiga hari kemudian.
Paparan radiasi yang parah menghancurkan sel darah putih dan Ouchi, menyebabkannya kehilangan kesadaran dan sistem kekebalan tubuhnya. Rasa sakit yang dialami membuat Ouchi menangis darah sementara kulitnya meleleh.
Dia bertahan hidup selama 83 hari dengan bantuan alat dari rumah sakit.
Satu minggu pertama Ouchi menggunakan perawatan intensif dalam pengawasan dokter yang ketat. Dokter berusaha menambah sel darah putih Ouchi dengan bantuan pengobatan kanker revolusioner, selalu menjalani transfusi darah juga cangkok kulit.
Rasa sakit yang dialami membuat Ouchi memohon agar perawatan dihentikan.
&amp;ldquo;Aku tidak tahan lagi. Aku bukan kelinci percobaan,&amp;rdquo; kata Ouchi.
Namun, perawatannya terus dilanjutkan.
Pada hari ke-59 Ouchi mengalami serangan jantung sebanyak tiga kali dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Pihak keluarga setuju bahwa dia harus diresusitasi jika terjadi kematian. Para dokter akan menghidupkan kembali jika terjadi serangan jantung.
Di hari ke-83, tepatnya pada 21 Desember 1999, Hishashi Ouchi tutup usia, membebaskannya dari rasa sakit. Ouchi meninggal dunia akibat mengalami kegagalan pada beberapa organnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pada 30 September 1999 telah terjadi insiden kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Tokaimura, Jepang. Insiden tersebut telah terjadi 23 tahun yang lalu dan menjadi kecelakaan nuklir terburuk di Jepang.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Kisah 'Manusia Radioaktif' Hishashi Ouchi, Dijaga Tetap Hidup Meski Kulit Meleleh dan Menangis Darah
Sebanyak 49 orang sama ruangan terpapar radiasi yang berbahaya dan berdampak ke pemukiman warga. Salah satu teknisi bernama Hisashi Ouchi, (35) menjadi korban dengan luka cukup parah sebagian kulitnya hilang meleleh, juga mengeluarkan air mata darah.
Insiden ini berawal dari penelitian khusus yang dilakukan Japan Nuclear Fuel Conversion Co. (JCO) di PLTN Tokaimura. Namun, perusahaan operator PLTN itu kurang memperhatikan langkah-langkah keamanan, bahkan mengambil jalan singkat untuk memenuhi target waktu yang diestimasikan.
Pada hari nahas itu JCO memerintahkan kepada Ouchi dan dua rekan kerja lainnya untuk mencampur bahan bakar nuklir baru.
Ouchi bersama dua rekannya, Masato Shinohara, (29) dan Yutaka Yokokawa, (54) ternyata tidak berpengalaman dan terlatih dalam menjalankan tugas yang telah di perintahkan itu. Dengan tidak sengaja mereka asal menuangkan cairan Uranium tujuh kali lipat ke dalam tangki yang tidak layak pakai.
BACA JUGA:&amp;nbsp;10 Tahun Bencana Nuklir Fukushima, Nasib Energi Nuklir Jepang Dinilai Suram
Ketika Cairan tersebut tercampur dan tidak bertahan lama lalu melepaskan radiasi neutron dan sinar gamma yang berbahaya mengenai seluruh isi ruangan dan menyebabkan ledakan hebat.
Ketiga pekerja itu terpapar radiasi akibat ledakan tersebut. Ouchi bahkan terkena radiasi level 17 sierverts (Sv) atau 10 Sv melebihi dosis yang semestinya.Bagi Ouchi, cobaan berat yang tidak pernah ia inginkan baru saja dimulai. Setelah ledakan itu Ouchi dibawa ke Institut Nasional Ilmu Radiologi di Chiba, sebelum dibawa ke rumah sakit Universitas Tokyo tiga hari kemudian.
Paparan radiasi yang parah menghancurkan sel darah putih dan Ouchi, menyebabkannya kehilangan kesadaran dan sistem kekebalan tubuhnya. Rasa sakit yang dialami membuat Ouchi menangis darah sementara kulitnya meleleh.
Dia bertahan hidup selama 83 hari dengan bantuan alat dari rumah sakit.
Satu minggu pertama Ouchi menggunakan perawatan intensif dalam pengawasan dokter yang ketat. Dokter berusaha menambah sel darah putih Ouchi dengan bantuan pengobatan kanker revolusioner, selalu menjalani transfusi darah juga cangkok kulit.
Rasa sakit yang dialami membuat Ouchi memohon agar perawatan dihentikan.
&amp;ldquo;Aku tidak tahan lagi. Aku bukan kelinci percobaan,&amp;rdquo; kata Ouchi.
Namun, perawatannya terus dilanjutkan.
Pada hari ke-59 Ouchi mengalami serangan jantung sebanyak tiga kali dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Pihak keluarga setuju bahwa dia harus diresusitasi jika terjadi kematian. Para dokter akan menghidupkan kembali jika terjadi serangan jantung.
Di hari ke-83, tepatnya pada 21 Desember 1999, Hishashi Ouchi tutup usia, membebaskannya dari rasa sakit. Ouchi meninggal dunia akibat mengalami kegagalan pada beberapa organnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
