<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>UNICEF: Anak yang Hidup dalam Krisis Kemanusiaan Hadapi Krisis Pendidikan</title><description>Russell menegaskan pihaknya akan bekerja keras untuk memastikan agar semua anak dapat belajar hal-hal mendasar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/20/18/2671198/unicef-anak-yang-hidup-dalam-krisis-kemanusiaan-hadapi-krisis-pendidikan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/09/20/18/2671198/unicef-anak-yang-hidup-dalam-krisis-kemanusiaan-hadapi-krisis-pendidikan"/><item><title>UNICEF: Anak yang Hidup dalam Krisis Kemanusiaan Hadapi Krisis Pendidikan</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/20/18/2671198/unicef-anak-yang-hidup-dalam-krisis-kemanusiaan-hadapi-krisis-pendidikan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/09/20/18/2671198/unicef-anak-yang-hidup-dalam-krisis-kemanusiaan-hadapi-krisis-pendidikan</guid><pubDate>Selasa 20 September 2022 12:46 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/20/18/2671198/unicef-anak-yang-hidup-dalam-krisis-kemanusiaan-hadapi-krisis-pendidikan-so2QuuDT2U.jpg" expression="full" type="image/jpeg">UNICEF menyatakan anak-anak yang hidup dalam krisis kemanusiaan akan menghadapi krisis pendidikan (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/20/18/2671198/unicef-anak-yang-hidup-dalam-krisis-kemanusiaan-hadapi-krisis-pendidikan-so2QuuDT2U.jpg</image><title>UNICEF menyatakan anak-anak yang hidup dalam krisis kemanusiaan akan menghadapi krisis pendidikan (Foto: AP)</title></images><description>NEW YORK -&amp;nbsp; Direktur Eksekutif Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) Catherine Russell mengatakan &amp;ldquo;sangat jelas bahwa anak-anak, terutama anak-anak yang paling terpinggirkan &amp;ndash; yaitu anak perempuan, penyandang disabilitas dan yang hidup dalam krisis kemanusiaan &amp;ndash; menghadapi krisis pendidikan yang sesungguhnya.&amp;rdquo;

Russell berbicara dalam diskusi panel&amp;nbsp; Konferensi Transformasi Pendidikan pada Senin (19/9/2022) di sela-sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Russell menegaskan pihaknya akan bekerja keras untuk memastikan agar semua anak dapat belajar hal-hal mendasar.
Baca juga:&amp;nbsp;Banjir Dahsyat Pakistan, UNICEF: 3,4 Juta Anak-Anak Butuh Alat Pendukung Kehidupan
&amp;ldquo;Mereka harus dapat membaca, berhitung, dan terus belajar. Kami akan mendukung kesehatan mental mereka dan memastikan inklusi digital,&amp;rdquo; terangnya, dikutip VOA.
Baca juga:&amp;nbsp;PBB Peringatkan Anak-Anak Disabilitas Dilecehkan dan Diabaikan di Panti Asuhan Ukraina
&amp;ldquo;Kita perlu mendukung guru, kepala sekolah dan orang tua, serta  kita perlu memantau dan mengukur kemajuan kita untuk memastikan keberhasilan dan mengetahui kegagalan mereka, jadi kita tahu dan dapat mengkajinya,&amp;rdquo; lanjutnya.

Secara khusus, Russell menyoroti urgensi anggaran.
&amp;ldquo;Pendanaan yang memadai sangat penting untuk mencapai hal ini, dan kita semua memiliki peran untuk membantu pemerintah mendanai pendidikan,&amp;rdquo; ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima, yang juga berbicara dalam diskusi itu, mengatakan setiap minggu terdapat sekitar 4.900 remaja putri berusia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV. Di wilayah sub-Sahara Afrika, enam dari tujuh infeksi HIV baru di kalangan remaja berusia 15-19 tahun terjadi di kalangan anak perempuan.

Sementara Komisaris Tinggi PBB Untuk Pengungsi Filippo Grandi menyoroti soal pendidikan untuk anak-anak pengungsi.



&amp;ldquo;Fokusnya adalah memasukkan mereka ke dalam sistem pendidikan nasional. Inklusi tidak berarti integrasi selamanya, berarti inklusi selama periode di mana mereka membutuhkan perlindungan negara lain. Ini berlaku untuk pengungsi, anak-anak perempuan, kelompok disabilitas, semua orang yang terdampak krisis. Ini berarti kita memerlukan kebijakan inklusi yang baik, dan juga sumber daya,&amp;rdquo; paparnya.

</description><content:encoded>NEW YORK -&amp;nbsp; Direktur Eksekutif Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) Catherine Russell mengatakan &amp;ldquo;sangat jelas bahwa anak-anak, terutama anak-anak yang paling terpinggirkan &amp;ndash; yaitu anak perempuan, penyandang disabilitas dan yang hidup dalam krisis kemanusiaan &amp;ndash; menghadapi krisis pendidikan yang sesungguhnya.&amp;rdquo;

Russell berbicara dalam diskusi panel&amp;nbsp; Konferensi Transformasi Pendidikan pada Senin (19/9/2022) di sela-sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Russell menegaskan pihaknya akan bekerja keras untuk memastikan agar semua anak dapat belajar hal-hal mendasar.
Baca juga:&amp;nbsp;Banjir Dahsyat Pakistan, UNICEF: 3,4 Juta Anak-Anak Butuh Alat Pendukung Kehidupan
&amp;ldquo;Mereka harus dapat membaca, berhitung, dan terus belajar. Kami akan mendukung kesehatan mental mereka dan memastikan inklusi digital,&amp;rdquo; terangnya, dikutip VOA.
Baca juga:&amp;nbsp;PBB Peringatkan Anak-Anak Disabilitas Dilecehkan dan Diabaikan di Panti Asuhan Ukraina
&amp;ldquo;Kita perlu mendukung guru, kepala sekolah dan orang tua, serta  kita perlu memantau dan mengukur kemajuan kita untuk memastikan keberhasilan dan mengetahui kegagalan mereka, jadi kita tahu dan dapat mengkajinya,&amp;rdquo; lanjutnya.

Secara khusus, Russell menyoroti urgensi anggaran.
&amp;ldquo;Pendanaan yang memadai sangat penting untuk mencapai hal ini, dan kita semua memiliki peran untuk membantu pemerintah mendanai pendidikan,&amp;rdquo; ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima, yang juga berbicara dalam diskusi itu, mengatakan setiap minggu terdapat sekitar 4.900 remaja putri berusia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV. Di wilayah sub-Sahara Afrika, enam dari tujuh infeksi HIV baru di kalangan remaja berusia 15-19 tahun terjadi di kalangan anak perempuan.

Sementara Komisaris Tinggi PBB Untuk Pengungsi Filippo Grandi menyoroti soal pendidikan untuk anak-anak pengungsi.



&amp;ldquo;Fokusnya adalah memasukkan mereka ke dalam sistem pendidikan nasional. Inklusi tidak berarti integrasi selamanya, berarti inklusi selama periode di mana mereka membutuhkan perlindungan negara lain. Ini berlaku untuk pengungsi, anak-anak perempuan, kelompok disabilitas, semua orang yang terdampak krisis. Ini berarti kita memerlukan kebijakan inklusi yang baik, dan juga sumber daya,&amp;rdquo; paparnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
