<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Strategi Cerdik Nambi Mahapatih Pertama Majapahit Usir Tentara Tartar dari Pulau Jawa   </title><description>Nambi di Kerajaan Majapahit mungkin kalah tenarnya dengan sosok Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675531/strategi-cerdik-nambi-mahapatih-pertama-majapahit-usir-tentara-tartar-dari-pulau-jawa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675531/strategi-cerdik-nambi-mahapatih-pertama-majapahit-usir-tentara-tartar-dari-pulau-jawa"/><item><title> Strategi Cerdik Nambi Mahapatih Pertama Majapahit Usir Tentara Tartar dari Pulau Jawa   </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675531/strategi-cerdik-nambi-mahapatih-pertama-majapahit-usir-tentara-tartar-dari-pulau-jawa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675531/strategi-cerdik-nambi-mahapatih-pertama-majapahit-usir-tentara-tartar-dari-pulau-jawa</guid><pubDate>Selasa 27 September 2022 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/27/337/2675531/strategi-cerdik-nambi-mahapatih-pertama-majapahit-usir-tentara-tartar-dari-pulau-jawa-qRaypQeWL8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mahapati Majapahit, Gajah Mada (foto: istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/27/337/2675531/strategi-cerdik-nambi-mahapatih-pertama-majapahit-usir-tentara-tartar-dari-pulau-jawa-qRaypQeWL8.jpg</image><title>Mahapati Majapahit, Gajah Mada (foto: istimewa)</title></images><description>
SEPAK terjang Nambi di Kerajaan Majapahit mungkin kalah tenarnya dengan sosok Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya. Namun siapa sangka sosok Nambi merupakan mahapatih pertama Majapahit yang berhasil mengusir pasukan Tartar Mongol dari tanah Jawa.

Sosok Nambi dan Gajah Mada memang berada di zaman berbeda, dengan raja yang berbeda. Sebagaimana dikisahkan pada buku &quot;Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit&quot; karya Slamet Muljana, mahapatih Gajah Mada memerintah pada masa Raja Hayam Wuruk, sebagaimana tercantum dalam Kakawin Negarakertagama.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Momen Gajah Mada Sarankan Gayatri Naik Tahta Raja Majapahit Tapi Ditolaknya
Di Negarakertagama diketahui Gajah Mada bergelar rakyan sang mantri mukyapatih i Majapahit sang pranaleng kadatwan, artinya sang perdana menteri Patih Majapahit, perantara keraton. Sedangkan Nambi yang menjadi mahapatih di kala raja Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana dan Jayanagara.

Gelar resmi patih Nambi adalah patih amungku bhumi, gelar patih amangku bhumi hanya digunakan oleh patih Kerajaan Majapahit untuk membedakannya dari gelar patih di berbagai daerah di wilayah negara Majapahit.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Hadiah Istimewa Kerajaan Malaka ke Mahapatih Majapahit
Dikisahkan Patih Amangku Bumi itu sama dengan patih seluruh negara amatya ring sanagara. Para adipati di wilayah negara Majapahit, misalnya rani Kahuripan dan Raja Kediri masing - masing juga mempunyai patih. Raja Jayakatwang Kediri mempunyai patih bernama Kebo Mundarang.

Konon pada masa Patih Nambi inilah Majapahit harus menghadapi serangan dari Kediri dan berhasil menaklukkannya. Tak hanya itu di bawah Patih Nambi sebagai patih amangku bhumi, Majapahit juga mengusir pasukan Tartar dari Kekaisaran Mongol.

Strategi cerdiknya membuat pasukan Mongol yang mabuk kemenangan atas Kediri dibuat menyerah. Alhasil tentara Tartar pun berhasil diusir dari tanah Jawa, sehingga kelangsungan Kerajaan Majapahit bisa berjalan hingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan besar.

Konon di masa pemerintahan Raja Raden Wijaya pasukan di bawah pimpinan Nambi mengalami kekalahan dari Ranggalawe, dalam pertempuran yang terjadi di Sungai Tambak Beras.

Nambi sendiri berhasil menyelematkan diri setelah kuda yang dinaikinya Brahma Cikur mati tertusuk oleh Ranggalawe. Nambi dan pasukannya kemudian berhasil dipukul mundur oleh Ranggalawe dan kalah perang. Hal ini membuat pemerintahan Raja Dyah Wijaya dibuat geram dan berencana melakukan serangan kedua dengan jumlah yang lebih besar di bawah komando Mahisa Nabrang.

Pertempuran inilah yang menjadi pertempuran pertama mengawali pergolakan di Kerajaan Majapahit sebelum Hayam Wuruk dan Gajah Mada-nya naik tahta, dan membawa Kerajaan Majapahit bisa menguasai nusantara.

Pada masa pemerintahan Bhre Kahuripan dan Hayam Wuruk, jabatan yang demikian itu dipegang sendiri oleh patih amangku bhumi Gajah Mada. Saat itulah politik pemerintahan negara Majapahit sepenuhnya ada di tangan Gajah Mada.

Sayang sosok sepeninggal Nambi dan Gajah Mada peran kedua sosok ini tak bisa digantikan satu sosok. Alhasil Dewan Pertimbangan Agung terpaksa mengangkat enam orang untuk menopang jabatan mahapatih di Kerajaan Majapahit.</description><content:encoded>
SEPAK terjang Nambi di Kerajaan Majapahit mungkin kalah tenarnya dengan sosok Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya. Namun siapa sangka sosok Nambi merupakan mahapatih pertama Majapahit yang berhasil mengusir pasukan Tartar Mongol dari tanah Jawa.

Sosok Nambi dan Gajah Mada memang berada di zaman berbeda, dengan raja yang berbeda. Sebagaimana dikisahkan pada buku &quot;Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit&quot; karya Slamet Muljana, mahapatih Gajah Mada memerintah pada masa Raja Hayam Wuruk, sebagaimana tercantum dalam Kakawin Negarakertagama.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Momen Gajah Mada Sarankan Gayatri Naik Tahta Raja Majapahit Tapi Ditolaknya
Di Negarakertagama diketahui Gajah Mada bergelar rakyan sang mantri mukyapatih i Majapahit sang pranaleng kadatwan, artinya sang perdana menteri Patih Majapahit, perantara keraton. Sedangkan Nambi yang menjadi mahapatih di kala raja Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana dan Jayanagara.

Gelar resmi patih Nambi adalah patih amungku bhumi, gelar patih amangku bhumi hanya digunakan oleh patih Kerajaan Majapahit untuk membedakannya dari gelar patih di berbagai daerah di wilayah negara Majapahit.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Hadiah Istimewa Kerajaan Malaka ke Mahapatih Majapahit
Dikisahkan Patih Amangku Bumi itu sama dengan patih seluruh negara amatya ring sanagara. Para adipati di wilayah negara Majapahit, misalnya rani Kahuripan dan Raja Kediri masing - masing juga mempunyai patih. Raja Jayakatwang Kediri mempunyai patih bernama Kebo Mundarang.

Konon pada masa Patih Nambi inilah Majapahit harus menghadapi serangan dari Kediri dan berhasil menaklukkannya. Tak hanya itu di bawah Patih Nambi sebagai patih amangku bhumi, Majapahit juga mengusir pasukan Tartar dari Kekaisaran Mongol.

Strategi cerdiknya membuat pasukan Mongol yang mabuk kemenangan atas Kediri dibuat menyerah. Alhasil tentara Tartar pun berhasil diusir dari tanah Jawa, sehingga kelangsungan Kerajaan Majapahit bisa berjalan hingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan besar.

Konon di masa pemerintahan Raja Raden Wijaya pasukan di bawah pimpinan Nambi mengalami kekalahan dari Ranggalawe, dalam pertempuran yang terjadi di Sungai Tambak Beras.

Nambi sendiri berhasil menyelematkan diri setelah kuda yang dinaikinya Brahma Cikur mati tertusuk oleh Ranggalawe. Nambi dan pasukannya kemudian berhasil dipukul mundur oleh Ranggalawe dan kalah perang. Hal ini membuat pemerintahan Raja Dyah Wijaya dibuat geram dan berencana melakukan serangan kedua dengan jumlah yang lebih besar di bawah komando Mahisa Nabrang.

Pertempuran inilah yang menjadi pertempuran pertama mengawali pergolakan di Kerajaan Majapahit sebelum Hayam Wuruk dan Gajah Mada-nya naik tahta, dan membawa Kerajaan Majapahit bisa menguasai nusantara.

Pada masa pemerintahan Bhre Kahuripan dan Hayam Wuruk, jabatan yang demikian itu dipegang sendiri oleh patih amangku bhumi Gajah Mada. Saat itulah politik pemerintahan negara Majapahit sepenuhnya ada di tangan Gajah Mada.

Sayang sosok sepeninggal Nambi dan Gajah Mada peran kedua sosok ini tak bisa digantikan satu sosok. Alhasil Dewan Pertimbangan Agung terpaksa mengangkat enam orang untuk menopang jabatan mahapatih di Kerajaan Majapahit.</content:encoded></item></channel></rss>
