<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Pertarungan Sengit Ranggalawe dan Pasukan Majapahit di Sungai Tambak Beras   </title><description>Raden Wijaya yang tengah menjabat sebagai raja pada 1309 - 1293 bersumpah akan mengalahkan Ranggalawe&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675538/pertarungan-sengit-ranggalawe-dan-pasukan-majapahit-di-sungai-tambak-beras</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675538/pertarungan-sengit-ranggalawe-dan-pasukan-majapahit-di-sungai-tambak-beras"/><item><title> Pertarungan Sengit Ranggalawe dan Pasukan Majapahit di Sungai Tambak Beras   </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675538/pertarungan-sengit-ranggalawe-dan-pasukan-majapahit-di-sungai-tambak-beras</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/09/27/337/2675538/pertarungan-sengit-ranggalawe-dan-pasukan-majapahit-di-sungai-tambak-beras</guid><pubDate>Selasa 27 September 2022 07:01 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/09/27/337/2675538/pertarungan-sengit-ranggalawe-dan-pasukan-majapahit-di-sungai-tambak-beras-oCqZEU5RIj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang kerajaan (foto: dok wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/09/27/337/2675538/pertarungan-sengit-ranggalawe-dan-pasukan-majapahit-di-sungai-tambak-beras-oCqZEU5RIj.jpg</image><title>Perang kerajaan (foto: dok wikipedia)</title></images><description>KEKALAHAN Majapahit dari Ranggalawe membuat sang raja marah. Dyah Wijaya atau yang dikenal Raden Wijaya yang tengah menjabat sebagai raja pada 1309 - 1293 bersumpah akan mengalahkan Ranggalawe. Ia pun berujar akan menghancurkan Kotapraja Majapahit sendiri, bila tak berhasil menaklukkan Ranggalawe.

Alhasil Dyah Wijaya dan pasukannya langsung kembali menyusun strategi menyerang Tuban. Dikisahkan dalam buku &quot;Hitam Putih Kekuasaan Raja - Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita&quot; tulisan Sri Wintala Achmad, pertempuran antara pasukan Majapahit dan Tuban tak terhindarkan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Gempa Bumi Tandai Perubahan Besar di Internal Kerajaan Majapahit
Guna menghindari banyak korban dan menyadari kekuatan Tuban, Lembu Sora meminta izin kepada Raden Wijaya untuk menghadapi Ranggalawe, ia pun lantas mengizinkannya

Konon Ranggalawe akhirnya dikepung dari tiga arah, Mahisa Nabrang dari timur, Gagak Sarkara dari barat, dan Majang Mekar menyerbu dari arah utara. Pertempuran sengit terjadi di arah timur antara pasukan Ranggalawe dengan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Mahisa Sabrang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Misteri Gajah Mada yang Disebut Jadi Aktor Utama Pembunuhan Raja Majapahit Jayanagara
Kuda Mahisa Nabrang berhasil dilumpuhkan oleh Ranggalawe, namun penunggangnya berhasil menyelamatkan diri. Hari selanjutnya, Mahisa Nabrang yang giliran melawan Ranggalawe. Perang itu berlangsung di seberang Sungai Tambak Beras.

Peperangan sengit antara Ranggalawe dan Mahisa Nabrang bertarung dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya masing-masing. Pertarungan pun berlanjut ke dalam air sungai. Ranggalawe berhasil mendesak Mahisa Nabrang, namun ketika sampai di tengah Mahisa Nabrang berhasil menikam kuda Ranggalawe.

Ranggalawe yang terpeleset batu berhasil ditenggelamkan ke air oleh Mahisa Nabrang. Sesudah kehabisan napas, Ranggalawe gugur di tempat. Mengetahui Ranggalawe tewas, Lembu Sora menikam Mahisa Nabrang dari belakang hingga tewas. Panglima Majapahit itu pun turut meregang nyawa di Sungai Tambak Beras.

Setelah tewasnya Ranggalawe pada 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati kepada Dyah Wijaya dan memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Arya Wiraraja menagih janji Dyah Wijaya yang diucapkan di Sumenep melalui Perjanjian Songeneb, untuk membagi wilayah Majapahit menjadi dua bagian.

Janji itu pun dipenuhi oleh Dyah Wijaya, Majapahit bagian timur hingga selatan sampai pantai diserahkan ke Arya Wiraraja. Sesudah mendapat kekuasaan, Arya Wiraraja menjadi raja Majapahit Timur dengan pusat pemerintahan di Lumajang. Sementara Majapahit Barat dengan pusat pemerintahan di Majakerta, tetap dikuasai oleh Dyah Wijaya.</description><content:encoded>KEKALAHAN Majapahit dari Ranggalawe membuat sang raja marah. Dyah Wijaya atau yang dikenal Raden Wijaya yang tengah menjabat sebagai raja pada 1309 - 1293 bersumpah akan mengalahkan Ranggalawe. Ia pun berujar akan menghancurkan Kotapraja Majapahit sendiri, bila tak berhasil menaklukkan Ranggalawe.

Alhasil Dyah Wijaya dan pasukannya langsung kembali menyusun strategi menyerang Tuban. Dikisahkan dalam buku &quot;Hitam Putih Kekuasaan Raja - Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita&quot; tulisan Sri Wintala Achmad, pertempuran antara pasukan Majapahit dan Tuban tak terhindarkan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Gempa Bumi Tandai Perubahan Besar di Internal Kerajaan Majapahit
Guna menghindari banyak korban dan menyadari kekuatan Tuban, Lembu Sora meminta izin kepada Raden Wijaya untuk menghadapi Ranggalawe, ia pun lantas mengizinkannya

Konon Ranggalawe akhirnya dikepung dari tiga arah, Mahisa Nabrang dari timur, Gagak Sarkara dari barat, dan Majang Mekar menyerbu dari arah utara. Pertempuran sengit terjadi di arah timur antara pasukan Ranggalawe dengan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Mahisa Sabrang.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Misteri Gajah Mada yang Disebut Jadi Aktor Utama Pembunuhan Raja Majapahit Jayanagara
Kuda Mahisa Nabrang berhasil dilumpuhkan oleh Ranggalawe, namun penunggangnya berhasil menyelamatkan diri. Hari selanjutnya, Mahisa Nabrang yang giliran melawan Ranggalawe. Perang itu berlangsung di seberang Sungai Tambak Beras.

Peperangan sengit antara Ranggalawe dan Mahisa Nabrang bertarung dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya masing-masing. Pertarungan pun berlanjut ke dalam air sungai. Ranggalawe berhasil mendesak Mahisa Nabrang, namun ketika sampai di tengah Mahisa Nabrang berhasil menikam kuda Ranggalawe.

Ranggalawe yang terpeleset batu berhasil ditenggelamkan ke air oleh Mahisa Nabrang. Sesudah kehabisan napas, Ranggalawe gugur di tempat. Mengetahui Ranggalawe tewas, Lembu Sora menikam Mahisa Nabrang dari belakang hingga tewas. Panglima Majapahit itu pun turut meregang nyawa di Sungai Tambak Beras.

Setelah tewasnya Ranggalawe pada 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati kepada Dyah Wijaya dan memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Arya Wiraraja menagih janji Dyah Wijaya yang diucapkan di Sumenep melalui Perjanjian Songeneb, untuk membagi wilayah Majapahit menjadi dua bagian.

Janji itu pun dipenuhi oleh Dyah Wijaya, Majapahit bagian timur hingga selatan sampai pantai diserahkan ke Arya Wiraraja. Sesudah mendapat kekuasaan, Arya Wiraraja menjadi raja Majapahit Timur dengan pusat pemerintahan di Lumajang. Sementara Majapahit Barat dengan pusat pemerintahan di Majakerta, tetap dikuasai oleh Dyah Wijaya.</content:encoded></item></channel></rss>
