<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mesranya Hubungan Pajajaran-Portugis Ketika Prabu Siliwangi Berkuasa</title><description>Konon hubungan bilateral antara Portugis dan Pajajaran pada tahun 1513 Masehi, cukup intensif dan mesra.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/08/337/2683002/mesranya-hubungan-pajajaran-portugis-ketika-prabu-siliwangi-berkuasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/08/337/2683002/mesranya-hubungan-pajajaran-portugis-ketika-prabu-siliwangi-berkuasa"/><item><title>Mesranya Hubungan Pajajaran-Portugis Ketika Prabu Siliwangi Berkuasa</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/08/337/2683002/mesranya-hubungan-pajajaran-portugis-ketika-prabu-siliwangi-berkuasa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/08/337/2683002/mesranya-hubungan-pajajaran-portugis-ketika-prabu-siliwangi-berkuasa</guid><pubDate>Sabtu 08 Oktober 2022 05:21 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/08/337/2683002/mesranya-hubungan-pajajaran-portugis-ketika-prabu-siliwangi-berkuasa-WkmSgDvfYc.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Prabu Siliwangi. (Foto: Wikimedia Commons)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/08/337/2683002/mesranya-hubungan-pajajaran-portugis-ketika-prabu-siliwangi-berkuasa-WkmSgDvfYc.jpeg</image><title>Prabu Siliwangi. (Foto: Wikimedia Commons)</title></images><description>KERAJAAN Pajajaran di bawah pimpinan Sri Baduga yang bergelar Prabu Siliwangi memiliki hubungan baik dengan Portugis. Kala itu Portugis menguasai Malaka, konon hubungan bilateral antara Portugis dan Pajajaran pada tahun 1513 Masehi, cukup intensif dan mesra.&amp;nbsp;

Dikisahkan pada buku &quot;Hitam Putih Pajajaran: dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran&quot; tulisan Fery Taufiq El Jaquene. Portugis dan Pajajaran kerap bertukar utusan. Portugis saat itu memang tengah menjalin komunikasi intens dengan sejumlah pihak.&amp;nbsp;

Beberapa partner Portugis dalam perdagangan via laut yakni Cina, Keling, Persia, Mesir, Champa, Madinah, Pahang, Kalimantan, Jawa, dan puluhan kerajaan yang ada di Bumi Nusantara lainnya, termasuk Pajajaran.

Bahkan untuk memperlancar hubungan kedua daerah ini, dalam naskah kuno kropak 630 Sanghyang Siksakandang Karesian, telah mempersiapkan sosok &quot;Jurubasa Darmamurcaya&quot;, atau juru penerang Bahasa, yang spesialis menguasai ahli bahasa dan penerjemah bahasa.&amp;nbsp;
Baca juga:&amp;nbsp;Kerajaan Pajajaran: Sejarah, Silsilah Pendiri dan Peninggalannya
Namun uniknya selama menjalin hubungan dengan Portugis, Sri Baduga tidak memperkenalkan diri sebagai Kerajaan Pajajaran. Hal ini tentu cukup unik dan tidak diketahui banyak orang. Sri Baduga Maharaja yang bergelar Prabu Siliwangi memilih untuk menyebut negaranya sebagai Kerajaan Sunda, saat saling bertukar menukar utusan.&amp;nbsp;

Melalui bandar, para pedagang dari mancanegara bersatu padu menukarkan barang yang dibawa. Sedangkan pihak kerajaan memfilter segalanya dan membelinya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari rakyatnya. Hal lain yang ditorehkan Sri Baduga Maharaja adalah mampu mengayomi seluruh rakyat Sunda.&amp;nbsp;
Sang raja mampu membukakan lapangan pekerjaan yang menurut masyarakat Sunda sendiri merasa terbantu. Pekerjaan ini seperti di bandar-bandar Jawa bagian barat, membuka perladangan, petani merica, lada, kain tenun, dan lain sebagainya.&amp;nbsp;

Hubungan dengan Portugis ini bahkan masih mesra setelah Sri Baduga turun dari kursi raja. Anaknya Surawisesa, yang naik menjadi raja kedua Pajajaran meneruskan kerja sama dan hubungan baik itu. Surawisesa yang sempat diutus menghubungi Alfonso de Albuquerque di Malaka, berhasil menciptakan sejumlah kesepakatan perdagangan, sekaligus perdamaian negara.</description><content:encoded>KERAJAAN Pajajaran di bawah pimpinan Sri Baduga yang bergelar Prabu Siliwangi memiliki hubungan baik dengan Portugis. Kala itu Portugis menguasai Malaka, konon hubungan bilateral antara Portugis dan Pajajaran pada tahun 1513 Masehi, cukup intensif dan mesra.&amp;nbsp;

Dikisahkan pada buku &quot;Hitam Putih Pajajaran: dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran&quot; tulisan Fery Taufiq El Jaquene. Portugis dan Pajajaran kerap bertukar utusan. Portugis saat itu memang tengah menjalin komunikasi intens dengan sejumlah pihak.&amp;nbsp;

Beberapa partner Portugis dalam perdagangan via laut yakni Cina, Keling, Persia, Mesir, Champa, Madinah, Pahang, Kalimantan, Jawa, dan puluhan kerajaan yang ada di Bumi Nusantara lainnya, termasuk Pajajaran.

Bahkan untuk memperlancar hubungan kedua daerah ini, dalam naskah kuno kropak 630 Sanghyang Siksakandang Karesian, telah mempersiapkan sosok &quot;Jurubasa Darmamurcaya&quot;, atau juru penerang Bahasa, yang spesialis menguasai ahli bahasa dan penerjemah bahasa.&amp;nbsp;
Baca juga:&amp;nbsp;Kerajaan Pajajaran: Sejarah, Silsilah Pendiri dan Peninggalannya
Namun uniknya selama menjalin hubungan dengan Portugis, Sri Baduga tidak memperkenalkan diri sebagai Kerajaan Pajajaran. Hal ini tentu cukup unik dan tidak diketahui banyak orang. Sri Baduga Maharaja yang bergelar Prabu Siliwangi memilih untuk menyebut negaranya sebagai Kerajaan Sunda, saat saling bertukar menukar utusan.&amp;nbsp;

Melalui bandar, para pedagang dari mancanegara bersatu padu menukarkan barang yang dibawa. Sedangkan pihak kerajaan memfilter segalanya dan membelinya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari rakyatnya. Hal lain yang ditorehkan Sri Baduga Maharaja adalah mampu mengayomi seluruh rakyat Sunda.&amp;nbsp;
Sang raja mampu membukakan lapangan pekerjaan yang menurut masyarakat Sunda sendiri merasa terbantu. Pekerjaan ini seperti di bandar-bandar Jawa bagian barat, membuka perladangan, petani merica, lada, kain tenun, dan lain sebagainya.&amp;nbsp;

Hubungan dengan Portugis ini bahkan masih mesra setelah Sri Baduga turun dari kursi raja. Anaknya Surawisesa, yang naik menjadi raja kedua Pajajaran meneruskan kerja sama dan hubungan baik itu. Surawisesa yang sempat diutus menghubungi Alfonso de Albuquerque di Malaka, berhasil menciptakan sejumlah kesepakatan perdagangan, sekaligus perdamaian negara.</content:encoded></item></channel></rss>
