<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sedih di Balik Pembangunan Patung Dirgantara Pancoran</title><description>Kisah sedih di balik pembangunan Patung Dirgantara Pancoran</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/10/337/2683842/kisah-sedih-di-balik-pembangunan-patung-dirgantara-pancoran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/10/337/2683842/kisah-sedih-di-balik-pembangunan-patung-dirgantara-pancoran"/><item><title>Kisah Sedih di Balik Pembangunan Patung Dirgantara Pancoran</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/10/337/2683842/kisah-sedih-di-balik-pembangunan-patung-dirgantara-pancoran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/10/337/2683842/kisah-sedih-di-balik-pembangunan-patung-dirgantara-pancoran</guid><pubDate>Senin 10 Oktober 2022 09:25 WIB</pubDate><dc:creator>Asthesia Dhea Cantika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/10/337/2683842/kisah-sedih-di-balik-pembangunan-patung-dirgantara-pancoran-X4Ft0vdHmX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Patung Pancoran (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/10/337/2683842/kisah-sedih-di-balik-pembangunan-patung-dirgantara-pancoran-X4Ft0vdHmX.jpg</image><title>Patung Pancoran (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA-  Kisah sedih di balik pembangunan Patung Dirgantara Pancoran memang menarik untuk dibahas. Monumen patung satu ini menjadi ikonik di Jakarta.
BACA JUGA: Demo di Patung Kuda Ricuh, Satu Orang Diamankan Diduga Penyusup&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Kerap kali orang yang baru pertama berkunjung ke ibu kota akan melewati patung ini. Sebab, posisinya strategis di kawasan pintu gerbang menuju Jakarta.

Dibalik gagahnya monumen ini, ternyata ada kisah sedih di baliknya. Lantas, apa kisah sedih di balik pembangunan Patung Dirgantara Pancoran? Untuk mengetahuinya, simak ulasan okezone berikut ini.
Kisah sedih di balik pembangunan patung dirgantara pancoran atau dengan nama asli Monumen Dirgantara dibangun oleh Edhi Sunarso. Sang maestro menggarapnya hanya dalam kurun waktu satu tahun pada 1964-1965.
Namun ternyata pembangunannya tidaklah semudah membalikkan tangan. Ada kisah pilu di baliknya. Edhi adalah orang yang kerap diberikan kepercayaan Bung Karno, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia. Kepercayaan yang diberikan karena Edhi mahir dalam membuat patung.
Perkenalan Edhi dengan Bung Karno berawal dari sebuah kompetisi pembangunan Tugu Semarang. Edhi menjadi juara dua mengalahkan peserta yang berasal dari 117 negara.
Saat peresmian Tugu Muda Semarang, Bung Karno mendatangi dan menjabat tangan Edhi memberikan selamat. Tentu hal itu membuat Edhi bingung. Setelah itu, Edhi mendapat beasiswa untuk belajar di India atas biaya Unesco.
Kala itu, Bung Karno berprinsip agar pembangunan negara, termasuk pendirian monumen, harus dikerjakan oleh anak bangsa. Tahun 1958, menjelang pelaksanaan Asian Games IV di Jakarta yang akan diselenggarakan pada tahun 1962, Bung Karno memanggil Edhi ke Jakarta dan memintanya mengerjakan patung perunggu setinggi sembilan meter.
Tentu permintaan itu mengejutkan Edhi, masalahnya ia belum pernah membuat patung dengan material perunggu. &amp;ldquo;Pak, jangankan sembilan meter, sembilan sentimeter pun saya belum pernah membuat patung perunggu. Bagaimana mungkin saya bisa melaksanakan pekerjaan ini?&amp;rdquo;, jawab Edhi dengan canggung.Mendengar jawaban tersebut, Bung Karno dengan tegas berkata pada Edhi, &amp;ldquo;Hei, kau punya national pride ndak? Kau berani perang melawan Belanda, masak bikin patung saja ndak berani?&amp;rdquo;
Tahun 1964, Edhi mendapat tugas dari Bung Karno untuk membuat Monumen Dirgantara demi mengenang sifat kepahlawanan para pejuang Indonesia bidang kedirgantaraan.
Ide dasar penciptaan Patung Dirgantara datang dari Bung Karno sendiri. Seperti telah diceritakan di pembahasan sebelumnya, Bung Karno menyebut &amp;ldquo;Kita punya Gatotkaca!&amp;rdquo; lalu berpose seperti Gatotkaca dan meminta Edhi membuat sketnya. &amp;ldquo;Cepat Ed! Segera kau buat sketnya! Seperti ini! Seperti ini!&amp;rdquo;, tegas Bung Karno.
Di tengah perjalanan, pengerjaan Patung Dirgantara sempat terhenti karena Edhi Sunarso kehabisan uang dan sakitnya Bung Karno.
(RIN)</description><content:encoded>JAKARTA-  Kisah sedih di balik pembangunan Patung Dirgantara Pancoran memang menarik untuk dibahas. Monumen patung satu ini menjadi ikonik di Jakarta.
BACA JUGA: Demo di Patung Kuda Ricuh, Satu Orang Diamankan Diduga Penyusup&amp;nbsp; &amp;nbsp;
Kerap kali orang yang baru pertama berkunjung ke ibu kota akan melewati patung ini. Sebab, posisinya strategis di kawasan pintu gerbang menuju Jakarta.

Dibalik gagahnya monumen ini, ternyata ada kisah sedih di baliknya. Lantas, apa kisah sedih di balik pembangunan Patung Dirgantara Pancoran? Untuk mengetahuinya, simak ulasan okezone berikut ini.
Kisah sedih di balik pembangunan patung dirgantara pancoran atau dengan nama asli Monumen Dirgantara dibangun oleh Edhi Sunarso. Sang maestro menggarapnya hanya dalam kurun waktu satu tahun pada 1964-1965.
Namun ternyata pembangunannya tidaklah semudah membalikkan tangan. Ada kisah pilu di baliknya. Edhi adalah orang yang kerap diberikan kepercayaan Bung Karno, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia. Kepercayaan yang diberikan karena Edhi mahir dalam membuat patung.
Perkenalan Edhi dengan Bung Karno berawal dari sebuah kompetisi pembangunan Tugu Semarang. Edhi menjadi juara dua mengalahkan peserta yang berasal dari 117 negara.
Saat peresmian Tugu Muda Semarang, Bung Karno mendatangi dan menjabat tangan Edhi memberikan selamat. Tentu hal itu membuat Edhi bingung. Setelah itu, Edhi mendapat beasiswa untuk belajar di India atas biaya Unesco.
Kala itu, Bung Karno berprinsip agar pembangunan negara, termasuk pendirian monumen, harus dikerjakan oleh anak bangsa. Tahun 1958, menjelang pelaksanaan Asian Games IV di Jakarta yang akan diselenggarakan pada tahun 1962, Bung Karno memanggil Edhi ke Jakarta dan memintanya mengerjakan patung perunggu setinggi sembilan meter.
Tentu permintaan itu mengejutkan Edhi, masalahnya ia belum pernah membuat patung dengan material perunggu. &amp;ldquo;Pak, jangankan sembilan meter, sembilan sentimeter pun saya belum pernah membuat patung perunggu. Bagaimana mungkin saya bisa melaksanakan pekerjaan ini?&amp;rdquo;, jawab Edhi dengan canggung.Mendengar jawaban tersebut, Bung Karno dengan tegas berkata pada Edhi, &amp;ldquo;Hei, kau punya national pride ndak? Kau berani perang melawan Belanda, masak bikin patung saja ndak berani?&amp;rdquo;
Tahun 1964, Edhi mendapat tugas dari Bung Karno untuk membuat Monumen Dirgantara demi mengenang sifat kepahlawanan para pejuang Indonesia bidang kedirgantaraan.
Ide dasar penciptaan Patung Dirgantara datang dari Bung Karno sendiri. Seperti telah diceritakan di pembahasan sebelumnya, Bung Karno menyebut &amp;ldquo;Kita punya Gatotkaca!&amp;rdquo; lalu berpose seperti Gatotkaca dan meminta Edhi membuat sketnya. &amp;ldquo;Cepat Ed! Segera kau buat sketnya! Seperti ini! Seperti ini!&amp;rdquo;, tegas Bung Karno.
Di tengah perjalanan, pengerjaan Patung Dirgantara sempat terhenti karena Edhi Sunarso kehabisan uang dan sakitnya Bung Karno.
(RIN)</content:encoded></item></channel></rss>
