<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Jurnalis Malang Detik-detik Tragedi Kanjuruhan yang Merenggut Ratusan Korban Jiwa</title><description>Avirista Midaada mengungkapkan kisah kelam itu ketika menjadi narasumber di webinar Partai Perindo.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/14/519/2687359/cerita-jurnalis-malang-detik-detik-tragedi-kanjuruhan-yang-merenggut-ratusan-korban-jiwa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/14/519/2687359/cerita-jurnalis-malang-detik-detik-tragedi-kanjuruhan-yang-merenggut-ratusan-korban-jiwa"/><item><title>Cerita Jurnalis Malang Detik-detik Tragedi Kanjuruhan yang Merenggut Ratusan Korban Jiwa</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/14/519/2687359/cerita-jurnalis-malang-detik-detik-tragedi-kanjuruhan-yang-merenggut-ratusan-korban-jiwa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/14/519/2687359/cerita-jurnalis-malang-detik-detik-tragedi-kanjuruhan-yang-merenggut-ratusan-korban-jiwa</guid><pubDate>Jum'at 14 Oktober 2022 18:49 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/14/519/2687359/cerita-jurnalis-malang-detik-detik-tragedi-kanjuruhan-yang-merenggut-ratusan-korban-jiwa-MncRXunZE7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Avirista Midaada saat menceritakan pengalamannya menyaksikan langsung peristiwa di Stadion Kanjuruhan. (Foto: Tangkapan layar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/14/519/2687359/cerita-jurnalis-malang-detik-detik-tragedi-kanjuruhan-yang-merenggut-ratusan-korban-jiwa-MncRXunZE7.jpg</image><title>Avirista Midaada saat menceritakan pengalamannya menyaksikan langsung peristiwa di Stadion Kanjuruhan. (Foto: Tangkapan layar)</title></images><description>JAKARTA - Avirista Midaada, salah seorang jurnalis olah raga menceritakan detik-detik chaos ketika tragedi memilukan terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2022) malam lalu.
Avirista Midaada mengungkapkan kisah kelam itu ketika menjadi narasumber di webinar Partai Perindo bertajuk 'Masa Depan Sepak Bola Nasional Pasca Tragedi Kanjuruhan,' pada Jumat (14/10/2022). Dalam tragedi Kanjuruhan tersebut, setidaknya terdapat sebanyak 132 orang menjadi korban jiwa.
Ia mengatakan sejatinya kick-off Arema FC kontra Persebaya Surabaya yang digeber pada 1 Oktober 2022 pukul 20.00 WIB berjalan normal, meski adanya tensi dan gengsi tinggi antara kedua tim untuk memenangkan laga pamungkas tersebut.
&quot;Saat itu pertandingan berjalan seperti biasa, normal semua,&quot; ujarnya.
Dia mengaku ketika kick-of selesai dengan keunggulan Persebaya atas Arema FC dengan skor 3-2, suasana saat itu masih berjalan normal dan tidak terdapat huru-hara.
Meski menelan kekalahan, di rumput hijau para pemain Arema memberikan penghormatan kepada ratusan Aremania yang setia mendukung dari atas tribun Stadion Kanjuruhan hingga akhir pertandingan.
Baca juga:&amp;nbsp;Laporan ke Presiden, TGIPF Sebut Banyak Temuan Indikasi Terkait Tragedi Kanjuruhan
&quot;Di sinilah naluri suporter muncul. Di Sektor 87 (Tribun Stadion Kanjuruhan) memunculkan satu orang suporter yang turun ke lapangan untuk menghampiri pemain,&quot; ujarnya.
Setelahnya, para Aremania banyak masuk ke dalam lapangan untuk memberikan penghormatan kepada pemain Arema FC, meski menelan kekalahan dalam laga tersebut.
Namun, aparat keamanan menilai ada sesuatu yang tidak tepat sebagai bentuk penyerangan, ketika banyak pendukung fanatik tim tersebut masuk ke lapangan stadion.
&quot;Pemain Arema dirangkul oleh Aremania dan diberikan semangat. Namun, ada salah tafsir dari aparat bahwa itu penyerangan, kemudian gas air mata dilontarkan,&quot; ujarnya.
Lantas, tembakan gas air mata kedua dan ketiga kembali dilepaskan aparat ke arah tribun. Penonton berhamburan.
Mata para suporter terasa perih, begitupun dengan penglihatan Avirista bersama jurnalis lainnya yang samar-samar. Para pencari berita kemudian langsung menuju ruang VVIP untuk mendengarkan keterangan pers.
&quot;Bahkan ketika pemain Arema memberikan keterangan pers, itu semua masih normal. Kita menyangkanya di luar, mungkin bisa dikondisikan kepolisian dan tidak banyak korban,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;
Tetapi, ketika keterangan pers selesai dan hendak mengetik naskah berita, Avirista teringat dari pesan dari salah seorang Aremania.
&quot;Ayo Mas tulungi, iki arek-arek akeh sing mati (Ayo Mas, tolongin, ini banyak anak-anak yang mati). Waktu itu saya sempat meletakkan HP dan kamera, mungkinkah ini (chaos) yang terjadi,&quot; tanya Avirista ketika itu.Saat hendak membantu para korban, ia melihat di luar ruang dan di lorong VVIP kondisi begitu crowded. Sesak dan penuh banyak orang.
Asap gas air mata yang pekat ditembakkan dari moncong senjata aparat kepolisian, membuat perih menusuk mata. Suasana pun semakin panik.
Avirista kemudian mengusapkan pasta gigi atau odol di sekitar bawah matanya untuk menghilangkan rasa perih, namun tak juga hilang.
Karena kondisi semakin tidak kondusif. Akhirnya Avirista memutuskan untuk tidak menulis berita dan menolong semampunya serta memberikan napas buatan kepada Aremania yang terkulai lemah, tetapi suporter fanatik itu tidak tertolong.
&quot;Saya membantu dan membawa (Aremania) dengan teman-teman yang lain, ada sekitar 5 orang yang sudah kondisinya kritis,&quot; ujarnya.
Terlebih, suasana semakin mencekam karena tidak adanya bala bantuan seperti ambulans di dalam stadion. Bahkan, tabung oksigen tidak disediakan panitia pelaksana (panpel).&quot;Di lorong VVIP begitu banyak korban. Saya membayangkan itu pembunuhan massal, bukan sepak bola. Bahkan, ini lebih parah dari perang,&quot; ujarnya.
Tidak hanya itu saja, di depan hadapannya terdapat seorang balita berusia 8 bulan yang digendong ibunya menangis kencang karena matanya perih terkena gas air mata.
&quot;Anak kecil itu saya gendong dan saya taruh di tim medis punya Arema. Saya kasihkan air, alhamdulillah anak itu selamat dan dibawa ke rumah sakit,&quot; ungkap.
Selain itu, lanjut dia, di sisi utara stadion tepatnya di musala. Avirista melihat dengan mata kepalanya kondisi yang semakin parah dan memprihatinkan di mana puluhan orang tergeletak sudah tidak bernyawa.
&quot;Mungkin ada sekitar 30 orang jenazah. Di musala itu, saya pastikan banyak sekali orang yang tinggal menunggu waktu untuk malaikat menjemput,&quot; ungkap dia.
</description><content:encoded>JAKARTA - Avirista Midaada, salah seorang jurnalis olah raga menceritakan detik-detik chaos ketika tragedi memilukan terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2022) malam lalu.
Avirista Midaada mengungkapkan kisah kelam itu ketika menjadi narasumber di webinar Partai Perindo bertajuk 'Masa Depan Sepak Bola Nasional Pasca Tragedi Kanjuruhan,' pada Jumat (14/10/2022). Dalam tragedi Kanjuruhan tersebut, setidaknya terdapat sebanyak 132 orang menjadi korban jiwa.
Ia mengatakan sejatinya kick-off Arema FC kontra Persebaya Surabaya yang digeber pada 1 Oktober 2022 pukul 20.00 WIB berjalan normal, meski adanya tensi dan gengsi tinggi antara kedua tim untuk memenangkan laga pamungkas tersebut.
&quot;Saat itu pertandingan berjalan seperti biasa, normal semua,&quot; ujarnya.
Dia mengaku ketika kick-of selesai dengan keunggulan Persebaya atas Arema FC dengan skor 3-2, suasana saat itu masih berjalan normal dan tidak terdapat huru-hara.
Meski menelan kekalahan, di rumput hijau para pemain Arema memberikan penghormatan kepada ratusan Aremania yang setia mendukung dari atas tribun Stadion Kanjuruhan hingga akhir pertandingan.
Baca juga:&amp;nbsp;Laporan ke Presiden, TGIPF Sebut Banyak Temuan Indikasi Terkait Tragedi Kanjuruhan
&quot;Di sinilah naluri suporter muncul. Di Sektor 87 (Tribun Stadion Kanjuruhan) memunculkan satu orang suporter yang turun ke lapangan untuk menghampiri pemain,&quot; ujarnya.
Setelahnya, para Aremania banyak masuk ke dalam lapangan untuk memberikan penghormatan kepada pemain Arema FC, meski menelan kekalahan dalam laga tersebut.
Namun, aparat keamanan menilai ada sesuatu yang tidak tepat sebagai bentuk penyerangan, ketika banyak pendukung fanatik tim tersebut masuk ke lapangan stadion.
&quot;Pemain Arema dirangkul oleh Aremania dan diberikan semangat. Namun, ada salah tafsir dari aparat bahwa itu penyerangan, kemudian gas air mata dilontarkan,&quot; ujarnya.
Lantas, tembakan gas air mata kedua dan ketiga kembali dilepaskan aparat ke arah tribun. Penonton berhamburan.
Mata para suporter terasa perih, begitupun dengan penglihatan Avirista bersama jurnalis lainnya yang samar-samar. Para pencari berita kemudian langsung menuju ruang VVIP untuk mendengarkan keterangan pers.
&quot;Bahkan ketika pemain Arema memberikan keterangan pers, itu semua masih normal. Kita menyangkanya di luar, mungkin bisa dikondisikan kepolisian dan tidak banyak korban,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;
Tetapi, ketika keterangan pers selesai dan hendak mengetik naskah berita, Avirista teringat dari pesan dari salah seorang Aremania.
&quot;Ayo Mas tulungi, iki arek-arek akeh sing mati (Ayo Mas, tolongin, ini banyak anak-anak yang mati). Waktu itu saya sempat meletakkan HP dan kamera, mungkinkah ini (chaos) yang terjadi,&quot; tanya Avirista ketika itu.Saat hendak membantu para korban, ia melihat di luar ruang dan di lorong VVIP kondisi begitu crowded. Sesak dan penuh banyak orang.
Asap gas air mata yang pekat ditembakkan dari moncong senjata aparat kepolisian, membuat perih menusuk mata. Suasana pun semakin panik.
Avirista kemudian mengusapkan pasta gigi atau odol di sekitar bawah matanya untuk menghilangkan rasa perih, namun tak juga hilang.
Karena kondisi semakin tidak kondusif. Akhirnya Avirista memutuskan untuk tidak menulis berita dan menolong semampunya serta memberikan napas buatan kepada Aremania yang terkulai lemah, tetapi suporter fanatik itu tidak tertolong.
&quot;Saya membantu dan membawa (Aremania) dengan teman-teman yang lain, ada sekitar 5 orang yang sudah kondisinya kritis,&quot; ujarnya.
Terlebih, suasana semakin mencekam karena tidak adanya bala bantuan seperti ambulans di dalam stadion. Bahkan, tabung oksigen tidak disediakan panitia pelaksana (panpel).&quot;Di lorong VVIP begitu banyak korban. Saya membayangkan itu pembunuhan massal, bukan sepak bola. Bahkan, ini lebih parah dari perang,&quot; ujarnya.
Tidak hanya itu saja, di depan hadapannya terdapat seorang balita berusia 8 bulan yang digendong ibunya menangis kencang karena matanya perih terkena gas air mata.
&quot;Anak kecil itu saya gendong dan saya taruh di tim medis punya Arema. Saya kasihkan air, alhamdulillah anak itu selamat dan dibawa ke rumah sakit,&quot; ungkap.
Selain itu, lanjut dia, di sisi utara stadion tepatnya di musala. Avirista melihat dengan mata kepalanya kondisi yang semakin parah dan memprihatinkan di mana puluhan orang tergeletak sudah tidak bernyawa.
&quot;Mungkin ada sekitar 30 orang jenazah. Di musala itu, saya pastikan banyak sekali orang yang tinggal menunggu waktu untuk malaikat menjemput,&quot; ungkap dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
