<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BNPB: 2.956 Bencana Alam Landa Indonesia Hingga 24 Oktober 2022</title><description>Bencana alam di Indonesia menyebabkan 191 korban jiwa dan lebih dari 3,7 juta jiwa mengungsi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/25/337/2693847/bnpb-2-956-bencana-alam-landa-indonesia-hingga-24-oktober-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/25/337/2693847/bnpb-2-956-bencana-alam-landa-indonesia-hingga-24-oktober-2022"/><item><title>BNPB: 2.956 Bencana Alam Landa Indonesia Hingga 24 Oktober 2022</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/25/337/2693847/bnpb-2-956-bencana-alam-landa-indonesia-hingga-24-oktober-2022</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/25/337/2693847/bnpb-2-956-bencana-alam-landa-indonesia-hingga-24-oktober-2022</guid><pubDate>Selasa 25 Oktober 2022 08:14 WIB</pubDate><dc:creator>Dimas Choirul</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/25/337/2693847/bnpb-2-956-bencana-alam-landa-indonesia-hingga-24-oktober-2022-f8Dx1BUy8Q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: BNPB.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/25/337/2693847/bnpb-2-956-bencana-alam-landa-indonesia-hingga-24-oktober-2022-f8Dx1BUy8Q.jpg</image><title>Foto: BNPB.</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sebanyak 2.956 bencana alam terjadi di Indonesia pada periode 1 Januari hingga 24 Oktober 2022, menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (25/10/2022).
&quot;Sampai tanggal 24 Oktober 2022 tercatat jumlah kejadian bencana sebanyak 2.956 kejadian,&quot; tulis keterangan BNPB, Selasa.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Bencana Meningkat, BNPB Minta Seluruh Daerah Siaga Satu

Adapun kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 1.205 kali, tanah longsor 539 kali, cuaca ekstrem 917 kali.
Sementara itu gempa bumi terjadi sebanyak 22 kali, kebakaran hutan dan lahan 248 kali dan gelombang pasang dan abrasi 21 kali.
&quot;Dari dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 191 jiwa, hilang 28 jiwa, 825 luka-luka dan terdampak dan mengungsi 3.777.749 jiwa,&quot; ujarnya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;BNPB: Daerah Jangan Ragu-Ragu Menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana!

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan tren bencana alam pada 2022 ini merupakan hidrometeorologi basah, dan terjadi hampir di seluruh pulau yang ada Indonesia.
&quot;Dominannya di 2021 kita hidrometeorologi basah sehingga ini menjadi perhatian kita karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022,&quot; jelasnya dalam konferensi pers, beberapa waku lalu.

Untuk itu, pihaknya telah memetakan tujuh provinsi yang paling sering terjadi bencana alam hidrometeorologi basah. Ketujuh provinsi itu yakni, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8zMC8xLzE1MjYwMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Untuk itu, BNPB mengimbau bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar benar-benar memerhatikan kondisi lingkungannya untuk dibenahi secara kolektif.
&quot;Kami meminta untuk melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air, kondisi daerah sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama selanjutnya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sebanyak 2.956 bencana alam terjadi di Indonesia pada periode 1 Januari hingga 24 Oktober 2022, menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (25/10/2022).
&quot;Sampai tanggal 24 Oktober 2022 tercatat jumlah kejadian bencana sebanyak 2.956 kejadian,&quot; tulis keterangan BNPB, Selasa.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Bencana Meningkat, BNPB Minta Seluruh Daerah Siaga Satu

Adapun kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 1.205 kali, tanah longsor 539 kali, cuaca ekstrem 917 kali.
Sementara itu gempa bumi terjadi sebanyak 22 kali, kebakaran hutan dan lahan 248 kali dan gelombang pasang dan abrasi 21 kali.
&quot;Dari dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 191 jiwa, hilang 28 jiwa, 825 luka-luka dan terdampak dan mengungsi 3.777.749 jiwa,&quot; ujarnya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;BNPB: Daerah Jangan Ragu-Ragu Menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana!

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan tren bencana alam pada 2022 ini merupakan hidrometeorologi basah, dan terjadi hampir di seluruh pulau yang ada Indonesia.
&quot;Dominannya di 2021 kita hidrometeorologi basah sehingga ini menjadi perhatian kita karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022,&quot; jelasnya dalam konferensi pers, beberapa waku lalu.

Untuk itu, pihaknya telah memetakan tujuh provinsi yang paling sering terjadi bencana alam hidrometeorologi basah. Ketujuh provinsi itu yakni, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8zMC8xLzE1MjYwMS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Untuk itu, BNPB mengimbau bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar benar-benar memerhatikan kondisi lingkungannya untuk dibenahi secara kolektif.
&quot;Kami meminta untuk melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air, kondisi daerah sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama selanjutnya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
