<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>3 Pemuda Paling Berpengaruh Selama Perang Kemerdekaan, Nomor 2 Pencetus Kopassus</title><description>Berikut adalah 3 pemuda paling berpengaruh selama peristiwa tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/28/337/2695649/3-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-nomor-2-pencetus-kopassus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/28/337/2695649/3-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-nomor-2-pencetus-kopassus"/><item><title>3 Pemuda Paling Berpengaruh Selama Perang Kemerdekaan, Nomor 2 Pencetus Kopassus</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/28/337/2695649/3-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-nomor-2-pencetus-kopassus</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/28/337/2695649/3-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-nomor-2-pencetus-kopassus</guid><pubDate>Jum'at 28 Oktober 2022 06:04 WIB</pubDate><dc:creator>Ajeng Wirachmi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/27/337/2695649/3-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-nomor-2-pencetus-kopassus-MgW8ERT9JC.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Tomo. (Foto: Dok Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/27/337/2695649/3-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-nomor-2-pencetus-kopassus-MgW8ERT9JC.jpeg</image><title>Bung Tomo. (Foto: Dok Ist)</title></images><description>SELAMA masa meraih kemerdekaan, banyak pejuang Indonesia yang rela mengorbankan nyawanya. Tak terkecuali pemuda yang memiliki pengaruh selama perang meraih kemerdekaan.

Berikut adalah 3 pemuda paling berpengaruh selama peristiwa tersebut.

1. I Gusti Ngurah Rai
I Gusti Ngurai Rai adalah tokoh muda pada masa perang kemerdekaan yang berasal dari Bali. Pemuda kelahiran 30 Januari 1917 ini meninggal dunia dalam usia 29 tahun akibat serangan tentara Belanda.

Brigadir Jenderal TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai adalah sosok penting di balik salah satu perang besar di Nusantara, Puputan Margarana. Perang ini terjadi pada 20 November 1946 dan dilatarbelakangi rasa kecewa Ngurah Rai karena Bali tidak diakui sebagai bagian dari Indonesia. Belanda diketahui hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia di beberapa wilayah, yakni Sumatera, Madura, dan Jawa.

Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata milik NICA di Tabanan. Pada 20 November 1946 pagi, terjadi kontak senjata antara pasukan Ngurah Rai dengan tentara NICA. Meskipun pada awalnya banyak tentara Belanda yang gugur, namun pasukan Belanda langsung meminta bantuan prajurit dan pesawat pengebom dari Makassar. Melihat hal tersebut, Ngurah Rai tetap berjuang sampai titik darah penghabisan dan akhirnya gugur bersama puluhan prajurit lainnya.2. Slamet Riyadi
Ignatius Slamet Riyani atau yang lebih dikenal luas dengan nama Slamet Riyadi adalah tentara sekaligus pahlawan nasional Indonesia.

Ia lahir di Surakarta, 26 Juli 1927 dengan nama Soekamto. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Slamet karena Soekamto kecil kerap sakit-sakitan.

Usai mendapatkan pendidikan di jenjang HIS dan MULO, Slamet belajar di Pendidikan Sekolah Pelataran Tinggi (SPT) dan meraih ijazah navigasi laut. Semasa mengenyam pendidikan di SPT, Slamet terkenal sebagai siswa yang cerdas, bahkan berhasil lulus dengan nilai terbaik.

Karena itulah, ia menjadi navigator kapal kayu yang berlayar ke pulau-pulau di Nusantara. Ketika Jepang menginvasi Indonesia di tahun 1942, Slamet turut membantu melawan tentara Jepang demi meraih kemerdekaan. Ia melarikan kapal kayu milik Jepang hingga menjadi buronan polisi militer Jepang atau Ken Pei tai. Namun, pasukan tersebut tidak mampu menangkap Slamet.

Langkah selanjutnya yang ia lakukan adalah mengumpulkan pasukan hingga setingkat batalyon, yang terdiri dari para pemuda terlatih. Slamet menjadi Komandan Batalyon Resimen I Divisi X.

Sayangnya, ia gugur ketika dalam operasi RMS (Republik Maluku Selatan). Pasalnya, RMS mendeklarasikan kemerdekaan, tak lama usai Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.

Tubuh Slamet ditembus timah panas pasukan RMS pada 4 November 1950. Meskipun sempat mendapat perawatan, ia gugur karena luka parah yang dialaminya.

Slamet Riyadi juga menjadi pencetus lahirnya Kopassus TNI AD. Dirinya memandang harus adanya satuan pemukul yang mampu bergerak cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai ancaman dan sasaran di medan perang, seberat apa pun tantangannya.3. Bung Tomo
Bung Tomo, atau yang bernama asli Sutomo, lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya. Keluarganya adalah kalangan priyayi kelas menengah. Tak heran, dengan asal-usulnya ini, Bung Tomo dapat mengenyam pendidikan yang baik.

Ia mengawali pendidikan formalnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School). Kemudian, ia melanjutkan sekolah ke MULO. Ia meneruskan ke HBS (Hoogere Burgerschool) setelah mengundurkan diri dari MULO.

Ketika bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), semangat nasionalisme Bung Tomo terbangkitkan. Ia pun aktif dalam organisasi kepanduan dan gerakan sosial kemasyarakatan.

Bung Tomo juga berkecimpung di dunia jurnalistik. Pada 1942-1945, ia bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, di Surabaya.

Nama Bung Tomo tidak bisa dilepaskan dari peristiwa penting yang terjadi di Surabaya. Dalam Pertempuran 10 November 1945, rakyat Surabaya bertempur melawan pasukan Sekutu. Bung Tomo hadir membangkitkan semangat rakyat. Dengan pidatonya yang berapi-api, ia mengajak rakyat untuk melawan dan mengusir penjajah dari Tanah Air. Dengan seruan &amp;ldquo;Merdeka atau mati!&amp;rdquo; yang diteriakkan Bung Tomo, rakyat Surabaya gigih bertempur.

*diolah dari berbagai sumber
Ajeng Wirachmi-Litbang MPI</description><content:encoded>SELAMA masa meraih kemerdekaan, banyak pejuang Indonesia yang rela mengorbankan nyawanya. Tak terkecuali pemuda yang memiliki pengaruh selama perang meraih kemerdekaan.

Berikut adalah 3 pemuda paling berpengaruh selama peristiwa tersebut.

1. I Gusti Ngurah Rai
I Gusti Ngurai Rai adalah tokoh muda pada masa perang kemerdekaan yang berasal dari Bali. Pemuda kelahiran 30 Januari 1917 ini meninggal dunia dalam usia 29 tahun akibat serangan tentara Belanda.

Brigadir Jenderal TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai adalah sosok penting di balik salah satu perang besar di Nusantara, Puputan Margarana. Perang ini terjadi pada 20 November 1946 dan dilatarbelakangi rasa kecewa Ngurah Rai karena Bali tidak diakui sebagai bagian dari Indonesia. Belanda diketahui hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia di beberapa wilayah, yakni Sumatera, Madura, dan Jawa.

Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata milik NICA di Tabanan. Pada 20 November 1946 pagi, terjadi kontak senjata antara pasukan Ngurah Rai dengan tentara NICA. Meskipun pada awalnya banyak tentara Belanda yang gugur, namun pasukan Belanda langsung meminta bantuan prajurit dan pesawat pengebom dari Makassar. Melihat hal tersebut, Ngurah Rai tetap berjuang sampai titik darah penghabisan dan akhirnya gugur bersama puluhan prajurit lainnya.2. Slamet Riyadi
Ignatius Slamet Riyani atau yang lebih dikenal luas dengan nama Slamet Riyadi adalah tentara sekaligus pahlawan nasional Indonesia.

Ia lahir di Surakarta, 26 Juli 1927 dengan nama Soekamto. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Slamet karena Soekamto kecil kerap sakit-sakitan.

Usai mendapatkan pendidikan di jenjang HIS dan MULO, Slamet belajar di Pendidikan Sekolah Pelataran Tinggi (SPT) dan meraih ijazah navigasi laut. Semasa mengenyam pendidikan di SPT, Slamet terkenal sebagai siswa yang cerdas, bahkan berhasil lulus dengan nilai terbaik.

Karena itulah, ia menjadi navigator kapal kayu yang berlayar ke pulau-pulau di Nusantara. Ketika Jepang menginvasi Indonesia di tahun 1942, Slamet turut membantu melawan tentara Jepang demi meraih kemerdekaan. Ia melarikan kapal kayu milik Jepang hingga menjadi buronan polisi militer Jepang atau Ken Pei tai. Namun, pasukan tersebut tidak mampu menangkap Slamet.

Langkah selanjutnya yang ia lakukan adalah mengumpulkan pasukan hingga setingkat batalyon, yang terdiri dari para pemuda terlatih. Slamet menjadi Komandan Batalyon Resimen I Divisi X.

Sayangnya, ia gugur ketika dalam operasi RMS (Republik Maluku Selatan). Pasalnya, RMS mendeklarasikan kemerdekaan, tak lama usai Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.

Tubuh Slamet ditembus timah panas pasukan RMS pada 4 November 1950. Meskipun sempat mendapat perawatan, ia gugur karena luka parah yang dialaminya.

Slamet Riyadi juga menjadi pencetus lahirnya Kopassus TNI AD. Dirinya memandang harus adanya satuan pemukul yang mampu bergerak cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai ancaman dan sasaran di medan perang, seberat apa pun tantangannya.3. Bung Tomo
Bung Tomo, atau yang bernama asli Sutomo, lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya. Keluarganya adalah kalangan priyayi kelas menengah. Tak heran, dengan asal-usulnya ini, Bung Tomo dapat mengenyam pendidikan yang baik.

Ia mengawali pendidikan formalnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School). Kemudian, ia melanjutkan sekolah ke MULO. Ia meneruskan ke HBS (Hoogere Burgerschool) setelah mengundurkan diri dari MULO.

Ketika bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), semangat nasionalisme Bung Tomo terbangkitkan. Ia pun aktif dalam organisasi kepanduan dan gerakan sosial kemasyarakatan.

Bung Tomo juga berkecimpung di dunia jurnalistik. Pada 1942-1945, ia bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, di Surabaya.

Nama Bung Tomo tidak bisa dilepaskan dari peristiwa penting yang terjadi di Surabaya. Dalam Pertempuran 10 November 1945, rakyat Surabaya bertempur melawan pasukan Sekutu. Bung Tomo hadir membangkitkan semangat rakyat. Dengan pidatonya yang berapi-api, ia mengajak rakyat untuk melawan dan mengusir penjajah dari Tanah Air. Dengan seruan &amp;ldquo;Merdeka atau mati!&amp;rdquo; yang diteriakkan Bung Tomo, rakyat Surabaya gigih bertempur.

*diolah dari berbagai sumber
Ajeng Wirachmi-Litbang MPI</content:encoded></item></channel></rss>
