<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Faktor Ini Menyebabkan Terjadinya Cuaca Ekstrem di Indonesia</title><description>Fenomena ini sangat mempengaruhi cuaca serta iklim secara global.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697419/4-faktor-ini-menyebabkan-terjadinya-cuaca-ekstrem-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697419/4-faktor-ini-menyebabkan-terjadinya-cuaca-ekstrem-di-indonesia"/><item><title>4 Faktor Ini Menyebabkan Terjadinya Cuaca Ekstrem di Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697419/4-faktor-ini-menyebabkan-terjadinya-cuaca-ekstrem-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697419/4-faktor-ini-menyebabkan-terjadinya-cuaca-ekstrem-di-indonesia</guid><pubDate>Senin 31 Oktober 2022 06:05 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Litbang MPI</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/30/337/2697419/4-faktor-ini-menyebabkan-terjadinya-cuaca-ekstrem-di-indonesia-RFiLPJFas7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/30/337/2697419/4-faktor-ini-menyebabkan-terjadinya-cuaca-ekstrem-di-indonesia-RFiLPJFas7.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrem di beberapa wilayah pada 9-15 Oktober 2022.
(Baca juga: BMKG : Waspada Potensi Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Perairan)
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprediksikan potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai dengan petir dan angin kencang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung. Juga di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat.
Di Kalimatan dan Sulawesi, yakni di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara. Serta di Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, terdapat sejumlah faktor terjadinya cuaca ekstrem di Indonesia.
1.	Fenomena MJO (Madden Julian Oscillation)
Fenomena MJO sangat mempengaruhi cuaca serta iklim secara global. MJO dimanifestasikan dalam skala waktu 30-60 hari melalui anomali skala besar pola sirkulasi atmosfer serta konveksi yang kuat dan penjalaran dari bagian barat Indonesia (Samudera Hindia) ke arah timur (Samudra Pasifik) dengan kecepatan rata-rata 5 m/detik.
Melansir siaran pers BMKG, MJO berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuatorial serta gelombang Kevin yang secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
2.	Fenomena Indian Ocean Dipole
Fenomena Indian Ocean Dipole memberikan kontribusi terhadap melimpahnya uap air pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia, terutama bagian barat dan tengah. Melansir lipi.go.id, Indian Ocean Dipole adalah fenomena penyimpangan cuaca yang dihasilkan oleh interaksi antara permukaan samudera dan atmosfer di wilayah Samudera Hindia sekitar garis khatulistiwa serta di sebelah selatan Jawa. Evolusi Indian Ocean Dipole dimulai bulan Mei/Juni, puncaknya pada bulan Oktober.3. Fenomena La Nina dengan Intensitas Lemah

Fenomena ini dipengaruhi adanya aliran massa udara di Samudera Pasifik akibat suhu muka air laut di Indonesia lebih hangat daripada suhu air laut di Samudera Pasifik bagian tengah barat. Saat La Nina terjadi, suhu muka laut di Samudera Pasik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normal. Pendinginan suhu muka laut mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah serta meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.

4. Sirkulasi Siklonik

Adanya sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan angin dan perlambatan kecepatan angin yang menyebabkan peningkatan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.

</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrem di beberapa wilayah pada 9-15 Oktober 2022.
(Baca juga: BMKG : Waspada Potensi Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Perairan)
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprediksikan potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai dengan petir dan angin kencang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung. Juga di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat.
Di Kalimatan dan Sulawesi, yakni di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara. Serta di Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, terdapat sejumlah faktor terjadinya cuaca ekstrem di Indonesia.
1.	Fenomena MJO (Madden Julian Oscillation)
Fenomena MJO sangat mempengaruhi cuaca serta iklim secara global. MJO dimanifestasikan dalam skala waktu 30-60 hari melalui anomali skala besar pola sirkulasi atmosfer serta konveksi yang kuat dan penjalaran dari bagian barat Indonesia (Samudera Hindia) ke arah timur (Samudra Pasifik) dengan kecepatan rata-rata 5 m/detik.
Melansir siaran pers BMKG, MJO berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuatorial serta gelombang Kevin yang secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
2.	Fenomena Indian Ocean Dipole
Fenomena Indian Ocean Dipole memberikan kontribusi terhadap melimpahnya uap air pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia, terutama bagian barat dan tengah. Melansir lipi.go.id, Indian Ocean Dipole adalah fenomena penyimpangan cuaca yang dihasilkan oleh interaksi antara permukaan samudera dan atmosfer di wilayah Samudera Hindia sekitar garis khatulistiwa serta di sebelah selatan Jawa. Evolusi Indian Ocean Dipole dimulai bulan Mei/Juni, puncaknya pada bulan Oktober.3. Fenomena La Nina dengan Intensitas Lemah

Fenomena ini dipengaruhi adanya aliran massa udara di Samudera Pasifik akibat suhu muka air laut di Indonesia lebih hangat daripada suhu air laut di Samudera Pasifik bagian tengah barat. Saat La Nina terjadi, suhu muka laut di Samudera Pasik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normal. Pendinginan suhu muka laut mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah serta meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.

4. Sirkulasi Siklonik

Adanya sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan angin dan perlambatan kecepatan angin yang menyebabkan peningkatan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.

</content:encoded></item></channel></rss>
