<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyebab Gagal Ginjal Multi Faktor, Dekan Farmasi ITB: Bisa dari Pola Hidup</title><description>Profesor I Ketut Adnyana, menyebut kasus gangguan ginjal akut disebabkan oleh lebih dari satu faktor atau multi faktor.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697496/penyebab-gagal-ginjal-multi-faktor-dekan-farmasi-itb-bisa-dari-pola-hidup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697496/penyebab-gagal-ginjal-multi-faktor-dekan-farmasi-itb-bisa-dari-pola-hidup"/><item><title>Penyebab Gagal Ginjal Multi Faktor, Dekan Farmasi ITB: Bisa dari Pola Hidup</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697496/penyebab-gagal-ginjal-multi-faktor-dekan-farmasi-itb-bisa-dari-pola-hidup</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/10/31/337/2697496/penyebab-gagal-ginjal-multi-faktor-dekan-farmasi-itb-bisa-dari-pola-hidup</guid><pubDate>Senin 31 Oktober 2022 05:29 WIB</pubDate><dc:creator>Nadilla Syabriya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/10/30/337/2697496/penyebab-gagal-ginjal-multi-faktor-dekan-farmasi-itb-bisa-dari-pola-hidup-mnqQ7QhOYa.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/10/30/337/2697496/penyebab-gagal-ginjal-multi-faktor-dekan-farmasi-itb-bisa-dari-pola-hidup-mnqQ7QhOYa.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Dekan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor I Ketut Adnyana, menyebut kasus gangguan ginjal akut disebabkan oleh lebih dari satu faktor atau multi faktor.

Artinya, bukan saja disebabkan oleh obat sirup yang diduga terkandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

&amp;ldquo;Bentuk penyebab gagal ginjal tak hanya disebabkan oleh faktor tunggal, tetapi multi faktor atau banyak pengaruhnya,&amp;rdquo; kata Ketut dalam program Special Dialogue Okezone.

Menurutnya, faktor tersebut bisa berasal dari infeksi-infeksi yang ditularkan selama masa pandemi yang tak kunjung selesai ini. Selain itu, ia mengatakan adanya kesalahan pola makan yang mempengaruhi pola hidup.

&amp;ldquo;Namun, memang yang menjadi sorot utama, yaitu dari penggunaan obat-obatan yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol,&amp;rdquo; tambahnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan kalau senyawa EG memiliki batasan harus di bawah 0,1 persen dalam setiap produk obat-obatan. Sebagaimana dijelaskan kalau EG merupakan cemaran atau proses dari disintesis dari gliserin, sorbitol, dan bahan lainnya.

Apabila digunakan dalam dunia farmasi, dikatakan Prof Ketut, seharusnya tidak menjadi masalah. Hal ini berarti bahan tersebut tidak mengganggu kesehatan, jika tidak melewati ambang batas yang sudah ditentukan.

Saat ini, Prof I Ketut Adnyana menilai langkah pemerintah sudah cukup konservatif untuk memberhentikan pelayanan terhadap obat sirup yang diduga mengandung EG dan DEG.
</description><content:encoded>JAKARTA - Dekan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor I Ketut Adnyana, menyebut kasus gangguan ginjal akut disebabkan oleh lebih dari satu faktor atau multi faktor.

Artinya, bukan saja disebabkan oleh obat sirup yang diduga terkandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

&amp;ldquo;Bentuk penyebab gagal ginjal tak hanya disebabkan oleh faktor tunggal, tetapi multi faktor atau banyak pengaruhnya,&amp;rdquo; kata Ketut dalam program Special Dialogue Okezone.

Menurutnya, faktor tersebut bisa berasal dari infeksi-infeksi yang ditularkan selama masa pandemi yang tak kunjung selesai ini. Selain itu, ia mengatakan adanya kesalahan pola makan yang mempengaruhi pola hidup.

&amp;ldquo;Namun, memang yang menjadi sorot utama, yaitu dari penggunaan obat-obatan yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol,&amp;rdquo; tambahnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan kalau senyawa EG memiliki batasan harus di bawah 0,1 persen dalam setiap produk obat-obatan. Sebagaimana dijelaskan kalau EG merupakan cemaran atau proses dari disintesis dari gliserin, sorbitol, dan bahan lainnya.

Apabila digunakan dalam dunia farmasi, dikatakan Prof Ketut, seharusnya tidak menjadi masalah. Hal ini berarti bahan tersebut tidak mengganggu kesehatan, jika tidak melewati ambang batas yang sudah ditentukan.

Saat ini, Prof I Ketut Adnyana menilai langkah pemerintah sudah cukup konservatif untuk memberhentikan pelayanan terhadap obat sirup yang diduga mengandung EG dan DEG.
</content:encoded></item></channel></rss>
