<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Profil 4 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat   </title><description>&amp;nbsp;
Abdul Muis menjadi orang pertama yang dikukuhkan menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/03/337/2700271/profil-4-pahlawan-nasional-asal-jawa-barat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/11/03/337/2700271/profil-4-pahlawan-nasional-asal-jawa-barat"/><item><title>Profil 4 Pahlawan Nasional Asal Jawa Barat   </title><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/03/337/2700271/profil-4-pahlawan-nasional-asal-jawa-barat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/11/03/337/2700271/profil-4-pahlawan-nasional-asal-jawa-barat</guid><pubDate>Kamis 03 November 2022 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Alfilya Tri Maulina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/03/337/2700271/profil-4-pahlawan-nasional-asal-jawa-barat-QYgXl1aE3U.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dewi sartika/Foto: Wikipedia</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/03/337/2700271/profil-4-pahlawan-nasional-asal-jawa-barat-QYgXl1aE3U.jpg</image><title>Dewi sartika/Foto: Wikipedia</title></images><description>
JAKARTA - Gelar pahlawan nasional di Indonesia diberikan pertama kali pada 1959. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 195 pahlawan nasional.

Abdul Muis menjadi orang pertama yang dikukuhkan menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah. Berikut ini profil empat pahlawan nasional asal Jawa Barat:
&amp;nbsp;BACA JUGA:Bakti untuk Negeri, RS Muhammadiyah Bandung Selatan Siap Berikan Pelayanan Kesehatan Terbaik
1. Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884  Memiliki peran yang sama seperti RA Kartini, Raden Dewi Sartika merupakan pahlawan asal Jawa Barat yang turut berjuang untuk emansipasi wanita di sekitarnya dan berasal dari keluarga priyayi (bangsawan). Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan di bidang pendidikan.

Dewi sartika sempat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah kelas satu yang diisi atau diperuntukkan bagi anak para bangsawan. Namun, karena sang ayah harus diasingkan ke Ternate, ia hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas tiga sebelum mengikuti pamannya.

Tahun 1904, Dewi Sartika pindah ke Bandung dan mendirikan Sekolah Isteri di Kabupaten Priangan dua tahun kemudian.  Didirikannya sekolah putri ini adalah karena adanya kemunduran kaum perempuan di masyarakat Sunda pada masa itu.
&amp;nbsp;BACA JUGA: Arahan Prabowo ke Tiga Matra TNI : Ciptakan Pertahanan Total untuk Indonesia!
Tahun 1910 Sekolah Isteri direlokasi menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Tahun 1920 membuka cabang di seluruh Kabupaten Priangan. Tahun 1929 berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Tahun 1939 pemerintah Hindia Belanda meanugrahi Orde van Oranje Nassau kepada Dewi Sartika. Tahun 1966 ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia.

2. Otto Iskandardinata

Dikenal dengan sebutan Si Jalak Harupat, Raden Otto Iskandardinata lahir di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat, pada 31 Maret 1897. Ayahnya merupakan kepala desa dan keturunan bangsawan, membuat keluarganya cukup disegani oleh masyarakat setempat.

Ia mengenyam pendidikan dan lulus dari Sekolah Guru, sebelum mengabdikan diri menjadi guru di Hollandsch Inlandse School (HIS) Banjarnegara. Pada 1920, ia dipindahtugaskan ke Bandung dan mulai menggeluti dunia politik.

Kemudian, ketika dipindahtugaskan kembali ke Pekalongan pada 1925, ia bergabung dengan Budi Oetomo. Ia juga turut andil dalam perumusan kemerdekaan dengan bergabung menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.

Pada kabinet pertama Indonesia, ia diangkat menjadi Menteri Negara dan ikut melakukan persiapan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Perannya yang besar dalam proses kemerdekaan Indonesia menjadikan Otto Iskandardinata diangkat menjadi pahlawan nasional pada 6 November 1973.


3. KH Zainal Mustafa

Sosok KH Zainal Mustafa dikenal karena khutbahnya yang dengan tegas menolak sikap kolonialisme penjajah. Ia lahir di kampung Bageur, Desa Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya pada 1899 di keluarga yang berkecukupan. ia menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat sebelum belajar ilmu agama di pesantren yang tersebar di Jawa Barat selama 17 tahun.

Namanya dikenal sebagai pemimpin dalam sebuah pesantren di Tasikmalaya sekaligus pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang melawan Jepang. Peran Zainal Mustafa dalam melawan Jepang adalah memimpin Perlawanan Rakyat Singaparna

Pada 1927, ia mendirikan Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya, dan bergabung dengan NU pada 1933. Pidato yang disuarakannya pada kegiatan dakwah di tahun 1940 mulai menyadarkan masyarakat dan memupuk kebencian terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.

Pada 17 November 1941, Zaenal Mustofa ditahan tentara Belanda dan dibebaskan Januari 1942. Setelah itu, ia melakukan rencana pemberontakan terhadap pemerintah Jepang dengan menyiapkan taktik serangan dua arah yang dilancarkan pada 25 Februari 1944. Karena aksi patriotiknya melawan pemerintahan Belanda dan Jepang, pada 6 November 1972, dia diangkat menjadi salah satu pahlawan nasional dari Jawa Barat.

4. Djuanda Kartawidjaja

Ir H Raden Djoeanda Kartawidjaja, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 14 Januari 1911. merupakan Perdana Menteri Indonesia yang ke-10 sekaligus terakhir yang sempat memimpin Indonesia. Ayahnya merupakan seorang mantri guru di Hollandsch Inlansdsche School (HIS). Di sana ia mengenyam pendidikan sekolah dasar sebelum melanjutkan pendidikan hingga lulus dari echnische Hoogeschool te Bandoeng (THS) pada 1933.

Sejak muda, ia telah aktif mengikuti organisasi non-politik seperti Paguyuban Pasundan dan Muhammadiyah. perjuangan yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut. Deklarasi Djuanda diresmikan menjadi UU No. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Atas jasanya, pemerintah menganugerahi Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja dengan gelar pahlawan nasional pada 19 Desember 2016.</description><content:encoded>
JAKARTA - Gelar pahlawan nasional di Indonesia diberikan pertama kali pada 1959. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 195 pahlawan nasional.

Abdul Muis menjadi orang pertama yang dikukuhkan menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah. Berikut ini profil empat pahlawan nasional asal Jawa Barat:
&amp;nbsp;BACA JUGA:Bakti untuk Negeri, RS Muhammadiyah Bandung Selatan Siap Berikan Pelayanan Kesehatan Terbaik
1. Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, 4 Desember 1884  Memiliki peran yang sama seperti RA Kartini, Raden Dewi Sartika merupakan pahlawan asal Jawa Barat yang turut berjuang untuk emansipasi wanita di sekitarnya dan berasal dari keluarga priyayi (bangsawan). Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan di bidang pendidikan.

Dewi sartika sempat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah kelas satu yang diisi atau diperuntukkan bagi anak para bangsawan. Namun, karena sang ayah harus diasingkan ke Ternate, ia hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas tiga sebelum mengikuti pamannya.

Tahun 1904, Dewi Sartika pindah ke Bandung dan mendirikan Sekolah Isteri di Kabupaten Priangan dua tahun kemudian.  Didirikannya sekolah putri ini adalah karena adanya kemunduran kaum perempuan di masyarakat Sunda pada masa itu.
&amp;nbsp;BACA JUGA: Arahan Prabowo ke Tiga Matra TNI : Ciptakan Pertahanan Total untuk Indonesia!
Tahun 1910 Sekolah Isteri direlokasi menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Tahun 1920 membuka cabang di seluruh Kabupaten Priangan. Tahun 1929 berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Tahun 1939 pemerintah Hindia Belanda meanugrahi Orde van Oranje Nassau kepada Dewi Sartika. Tahun 1966 ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia.

2. Otto Iskandardinata

Dikenal dengan sebutan Si Jalak Harupat, Raden Otto Iskandardinata lahir di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat, pada 31 Maret 1897. Ayahnya merupakan kepala desa dan keturunan bangsawan, membuat keluarganya cukup disegani oleh masyarakat setempat.

Ia mengenyam pendidikan dan lulus dari Sekolah Guru, sebelum mengabdikan diri menjadi guru di Hollandsch Inlandse School (HIS) Banjarnegara. Pada 1920, ia dipindahtugaskan ke Bandung dan mulai menggeluti dunia politik.

Kemudian, ketika dipindahtugaskan kembali ke Pekalongan pada 1925, ia bergabung dengan Budi Oetomo. Ia juga turut andil dalam perumusan kemerdekaan dengan bergabung menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.

Pada kabinet pertama Indonesia, ia diangkat menjadi Menteri Negara dan ikut melakukan persiapan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Perannya yang besar dalam proses kemerdekaan Indonesia menjadikan Otto Iskandardinata diangkat menjadi pahlawan nasional pada 6 November 1973.


3. KH Zainal Mustafa

Sosok KH Zainal Mustafa dikenal karena khutbahnya yang dengan tegas menolak sikap kolonialisme penjajah. Ia lahir di kampung Bageur, Desa Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya pada 1899 di keluarga yang berkecukupan. ia menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat sebelum belajar ilmu agama di pesantren yang tersebar di Jawa Barat selama 17 tahun.

Namanya dikenal sebagai pemimpin dalam sebuah pesantren di Tasikmalaya sekaligus pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang melawan Jepang. Peran Zainal Mustafa dalam melawan Jepang adalah memimpin Perlawanan Rakyat Singaparna

Pada 1927, ia mendirikan Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya, dan bergabung dengan NU pada 1933. Pidato yang disuarakannya pada kegiatan dakwah di tahun 1940 mulai menyadarkan masyarakat dan memupuk kebencian terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.

Pada 17 November 1941, Zaenal Mustofa ditahan tentara Belanda dan dibebaskan Januari 1942. Setelah itu, ia melakukan rencana pemberontakan terhadap pemerintah Jepang dengan menyiapkan taktik serangan dua arah yang dilancarkan pada 25 Februari 1944. Karena aksi patriotiknya melawan pemerintahan Belanda dan Jepang, pada 6 November 1972, dia diangkat menjadi salah satu pahlawan nasional dari Jawa Barat.

4. Djuanda Kartawidjaja

Ir H Raden Djoeanda Kartawidjaja, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 14 Januari 1911. merupakan Perdana Menteri Indonesia yang ke-10 sekaligus terakhir yang sempat memimpin Indonesia. Ayahnya merupakan seorang mantri guru di Hollandsch Inlansdsche School (HIS). Di sana ia mengenyam pendidikan sekolah dasar sebelum melanjutkan pendidikan hingga lulus dari echnische Hoogeschool te Bandoeng (THS) pada 1933.

Sejak muda, ia telah aktif mengikuti organisasi non-politik seperti Paguyuban Pasundan dan Muhammadiyah. perjuangan yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut. Deklarasi Djuanda diresmikan menjadi UU No. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Atas jasanya, pemerintah menganugerahi Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja dengan gelar pahlawan nasional pada 19 Desember 2016.</content:encoded></item></channel></rss>
