<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Temuan Kerangka Perempuan Berusia 7.300 Tahun di Sulawesi Menambah Daftar Panjang Ras Penghuni Kepulauan Nusantara</title><description>&amp;nbsp;
Namun, rasa penasaran harus terhenti sejauh ini, karena masih terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah lainnya yang ditemukan</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/12/18/2705637/temuan-kerangka-perempuan-berusia-7-300-tahun-di-sulawesi-menambah-daftar-panjang-ras-penghuni-kepulauan-nusantara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/11/12/18/2705637/temuan-kerangka-perempuan-berusia-7-300-tahun-di-sulawesi-menambah-daftar-panjang-ras-penghuni-kepulauan-nusantara"/><item><title>Temuan Kerangka Perempuan Berusia 7.300 Tahun di Sulawesi Menambah Daftar Panjang Ras Penghuni Kepulauan Nusantara</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/12/18/2705637/temuan-kerangka-perempuan-berusia-7-300-tahun-di-sulawesi-menambah-daftar-panjang-ras-penghuni-kepulauan-nusantara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/11/12/18/2705637/temuan-kerangka-perempuan-berusia-7-300-tahun-di-sulawesi-menambah-daftar-panjang-ras-penghuni-kepulauan-nusantara</guid><pubDate>Sabtu 12 November 2022 05:02 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/11/18/2705637/temuan-kerangka-perempuan-berusia-7-300-tahun-di-sulawesi-menambah-daftar-panjang-ras-penghuni-kepulauan-nusantara-wJ7amaeWk1.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Temuan kerangka perempuan muda berusia 7.300 tahun di Sulawesi/Foto: UNHAS</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/11/18/2705637/temuan-kerangka-perempuan-berusia-7-300-tahun-di-sulawesi-menambah-daftar-panjang-ras-penghuni-kepulauan-nusantara-wJ7amaeWk1.JPG</image><title>Temuan kerangka perempuan muda berusia 7.300 tahun di Sulawesi/Foto: UNHAS</title></images><description>JAKARTA - Temuan terbaru kerangka manusia di Sulawesi dibuktikan sebagai manusia modern gelombang awal yang menduduki Nusantara. Ini sekaligus menambah teka-teki baru bagi kalangan ilmuan untuk menelusuri asal-usulnya.

Namun, rasa penasaran harus terhenti sejauh ini, karena masih terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah lainnya yang ditemukan, tapi belum diteliti karena persoalan anggaran.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Webinar Partai Perindo: Pemilu Bukan Ajang Perang Antar-Anak Bangsa
Dilansir dari BBC, Jumat (11/11/2022), disebutkan bahwa Profesor Akin Duli meloncat-loncat kegirangan setelah menutup sambungan telepon. Sekretarisnya sampai keheranan, tertawa, dan bertanya-tanya.

&quot;Ada berita gembira dari lapangan, ada temuan bagus,&quot; kata Guru Besar Program Studi S2 Arkeologi, Universitas Hasanuddin ini mengingat waktu pertama kali mendapat informasi temuan rangka manusia prasejarah di Leang Panninge, Sulawesi, pertengahan 2015.

&quot;Rupanya teman-teman di lapangan ada yang sampai guling-guling dirinya di situ. Karena ini temuan langka, dalam situs yang tidak terganggu, dan kita yakin bahwa ini data yang paling baik,&quot; kata Prof Akin kepada BBC News Indonesia.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Wapres Maruf Amin: Pasien Covid-19 Meninggal Mayoritas Belum Booster
Prof Akin Duli adalah salah satu pimpinan tim arkeolog gabungan Universitas Hasanuddin dan Universiti Sains Malaysia yang mulai melakukan ekskavasi di Gua Paninnge atau Leang Panninge (Panninge = &quot;kelalawar&quot; dalam Bahasa Bugis) pertengahan 2015.

Namun, saat itu kerangka manusia prasejarah ini tak langsung diangkat ke permukaan karena &quot;harus menggunakan alat yang lengkap&quot;.

Akhirnya lubang ekskavasi ditutup, dan baru dibuka kembali pada 2017. Rangka dibawa ke Laboratorium Unhas. Namun Laboratorium di sana belum mumpuni mendeteksi usia, sampai DNA rangka tersebut.

&quot;Waktu itu kita jadi bingung, saya coba konsultasi ke Lab tertua di Amerika, di Beta Analytic Inc. Ternyata biayanya cukup tinggi. Waktu itu baru tahap awal sudah minta Rp300 juta, saya tak punya uang,&quot; kata Prof Akin.

Pada 2018, Adam Brumm, profesor arkeologi dari Universitas Griffith Australia membawa tim untuk mengkaji kerangka tersebut, sebelum akhirnya menjalin kerja sama dengan peneliti DNA asal Jerman dari Max Planck Institute for Science of Human History, Selina Carlhoff pada 2019. Pusat Penelitian Arkeologi Jakarta dan Balai Arkeologi Makassar juga berkontribusi dalam penelitian ini.

Kerja sama lintas institusi penelitian dan universitas ini membuahkan hasil berupa kajian ilmiah yang dipublikasi dalam jurnal nature pada 25 Agustus 2021.

Kerangka manusia itu diketahui perempuan berusia 17-18 tahun, dimakamkan sekitar 7.300 - 7.200 tahun silam. Dari hasil penelusuran DNA menunjukkan manusia prasejarah ini memiliki latar belakang genetik Austromelanesoid, yang deskripsi penampakkannya seperti orang-orang Papua dan Aborigin di Australia.

&quot;Saya yakin bahwa orang Bugis-Makassar ada juga darah Austromelanesoid-nya. Cuma mungkin DNA prosentasenya kecil,&quot; kata Prof Akin.




Para peneliti kemudian menamai perempuan yang mati muda ini, Bessek, istilah penghormatan kepada perempuan yang baru lahir dalam budaya Bugis.

Besse &quot;dikuburkan&quot; dalam posisi tertelungkup, dan di sekitar rangkanya diapit beberapa bongkahan batu.

Dalam makam tua itu juga ditemukan budaya-budaya di masanya seperti mata panah bergerigi (Maros Points), beberapa alat-alat batu lain, serta tulang binatang.

Para peneliti juga menemukan perkakas peninggalan budaya prasejarah di dalam Leang Panninge. Di antaranya kapak batu, mata panah, pisau batu, termasuk hal yang diyakini sisa makanan mereka berupa tulang babi, rusa, tikus, kelelawar, dan siput air tawar.

Prof Akin juga meyakini Leang Panninge saat itu digunakan sebagai kawasan industri membuat alat-alat berburu, mengumpulkan dan meramu makanan. Hal ini berdasarkan temuan berupa &quot;pembentuk alat batu, sisa-sisa tatal alat batu,&quot; katanya.

Temuan ini merupakan artefak batu yang paling khas dengan era pemburu-pengumpul di Sulawesi antara 8000 - 1500 tahun yang lalu, apa yang disebut sebagai budaya &quot;Toalean&quot;.

Penamaan ini berdasarkan penelitian naturalis dan etnolog asal Swiss, Paul dan dan Fritz Sarasin (1893-1896) di Celebes, dan memperkenalkan orang-orang di dalam gua dari peninggalannya sebagai To Ala sebagai penanda budaya di Sulawesi Selatan.

&quot;Toala dalam bugis itu orang yang tinggal di hutan-hutan di gunung-gunung,&quot; kata Prof Akin.

Dari mana asal Besse dan ke mana keturunannya? Hal itu masih teka-teki bagi para ilmuan. Tapi dari kajian ilmiah ini setidaknya ditemukan latar belakang genetika Asia Timur, Austromelanesoid dan Denisovan.

Peneliti genetika dari Eijkman Institute, Pradiptajati Kusuma mengatakan hal yang mengejutkan dari temuan ini adalah latar belakang genetika Asia Timur sebelum era neolitikum (zaman batu).

&quot;Sedangkan selama ini yang diketahui adalah latar belakang genetik Asia di populasi Indonesia Timur itu berasal dari latar belakang genetik Austronesia. Maka ini hal baru,&quot; katanya.
Besse sejauh ini diyakini sebagai manusia penjelajah yang tiba lebih dulu di Nusantara sebelum Austronesia yang masuk ke Nusantara antara 4500 - 2000 tahun lalu.

Indonesia sebagai 'melting pot' segala ras manusia

Menurut arkeolog dari Unhas, Iwan Sumantri, temuan ini menambah keyakinannya yang sudah lebih dari tiga dekade menjadi arkeolog bahwa Indonesia merupakan &quot;melting pot&quot; atau kuali percampuran ras manusia seluruh dunia.

&quot;Indonesia menjadi melting pot, daerah percampuran, sehingga tidak ada satu pun etnis yang mengatakan diri, atau mengatakan saya adalah asli Indonesia,&quot; katanya.

Ia menyusun hal ini sejak mulai dari kedatangan ras Austromelanesoid, Austronesia [melayu], pecampuran genetik Denisovan dan Neanderthal, Mongoloid, India, Persia sampai Eropa.

&quot;Ras besar ini kemudian memberikan warna, kepada Indonesia mereka datang kemudian membawa budaya masing-masing, kemudian kita anut. Jadi pengetahuan arkeologi, memberikan kesadaran kepada saya soal keindonesiaan,&quot; kata Iwan.

Saat ini terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah yang menunggu untuk diteliti lebih jauh. Menguak misteri asal-usul mereka bergantung dari kerja sama dari lembaga atau institusi penelitian dari luar negeri. Tanpa itu, kemungkinan mereka akan menunggu selamanya di tempat aman, dan tak direkam dalam sejarah.
</description><content:encoded>JAKARTA - Temuan terbaru kerangka manusia di Sulawesi dibuktikan sebagai manusia modern gelombang awal yang menduduki Nusantara. Ini sekaligus menambah teka-teki baru bagi kalangan ilmuan untuk menelusuri asal-usulnya.

Namun, rasa penasaran harus terhenti sejauh ini, karena masih terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah lainnya yang ditemukan, tapi belum diteliti karena persoalan anggaran.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Webinar Partai Perindo: Pemilu Bukan Ajang Perang Antar-Anak Bangsa
Dilansir dari BBC, Jumat (11/11/2022), disebutkan bahwa Profesor Akin Duli meloncat-loncat kegirangan setelah menutup sambungan telepon. Sekretarisnya sampai keheranan, tertawa, dan bertanya-tanya.

&quot;Ada berita gembira dari lapangan, ada temuan bagus,&quot; kata Guru Besar Program Studi S2 Arkeologi, Universitas Hasanuddin ini mengingat waktu pertama kali mendapat informasi temuan rangka manusia prasejarah di Leang Panninge, Sulawesi, pertengahan 2015.

&quot;Rupanya teman-teman di lapangan ada yang sampai guling-guling dirinya di situ. Karena ini temuan langka, dalam situs yang tidak terganggu, dan kita yakin bahwa ini data yang paling baik,&quot; kata Prof Akin kepada BBC News Indonesia.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Wapres Maruf Amin: Pasien Covid-19 Meninggal Mayoritas Belum Booster
Prof Akin Duli adalah salah satu pimpinan tim arkeolog gabungan Universitas Hasanuddin dan Universiti Sains Malaysia yang mulai melakukan ekskavasi di Gua Paninnge atau Leang Panninge (Panninge = &quot;kelalawar&quot; dalam Bahasa Bugis) pertengahan 2015.

Namun, saat itu kerangka manusia prasejarah ini tak langsung diangkat ke permukaan karena &quot;harus menggunakan alat yang lengkap&quot;.

Akhirnya lubang ekskavasi ditutup, dan baru dibuka kembali pada 2017. Rangka dibawa ke Laboratorium Unhas. Namun Laboratorium di sana belum mumpuni mendeteksi usia, sampai DNA rangka tersebut.

&quot;Waktu itu kita jadi bingung, saya coba konsultasi ke Lab tertua di Amerika, di Beta Analytic Inc. Ternyata biayanya cukup tinggi. Waktu itu baru tahap awal sudah minta Rp300 juta, saya tak punya uang,&quot; kata Prof Akin.

Pada 2018, Adam Brumm, profesor arkeologi dari Universitas Griffith Australia membawa tim untuk mengkaji kerangka tersebut, sebelum akhirnya menjalin kerja sama dengan peneliti DNA asal Jerman dari Max Planck Institute for Science of Human History, Selina Carlhoff pada 2019. Pusat Penelitian Arkeologi Jakarta dan Balai Arkeologi Makassar juga berkontribusi dalam penelitian ini.

Kerja sama lintas institusi penelitian dan universitas ini membuahkan hasil berupa kajian ilmiah yang dipublikasi dalam jurnal nature pada 25 Agustus 2021.

Kerangka manusia itu diketahui perempuan berusia 17-18 tahun, dimakamkan sekitar 7.300 - 7.200 tahun silam. Dari hasil penelusuran DNA menunjukkan manusia prasejarah ini memiliki latar belakang genetik Austromelanesoid, yang deskripsi penampakkannya seperti orang-orang Papua dan Aborigin di Australia.

&quot;Saya yakin bahwa orang Bugis-Makassar ada juga darah Austromelanesoid-nya. Cuma mungkin DNA prosentasenya kecil,&quot; kata Prof Akin.




Para peneliti kemudian menamai perempuan yang mati muda ini, Bessek, istilah penghormatan kepada perempuan yang baru lahir dalam budaya Bugis.

Besse &quot;dikuburkan&quot; dalam posisi tertelungkup, dan di sekitar rangkanya diapit beberapa bongkahan batu.

Dalam makam tua itu juga ditemukan budaya-budaya di masanya seperti mata panah bergerigi (Maros Points), beberapa alat-alat batu lain, serta tulang binatang.

Para peneliti juga menemukan perkakas peninggalan budaya prasejarah di dalam Leang Panninge. Di antaranya kapak batu, mata panah, pisau batu, termasuk hal yang diyakini sisa makanan mereka berupa tulang babi, rusa, tikus, kelelawar, dan siput air tawar.

Prof Akin juga meyakini Leang Panninge saat itu digunakan sebagai kawasan industri membuat alat-alat berburu, mengumpulkan dan meramu makanan. Hal ini berdasarkan temuan berupa &quot;pembentuk alat batu, sisa-sisa tatal alat batu,&quot; katanya.

Temuan ini merupakan artefak batu yang paling khas dengan era pemburu-pengumpul di Sulawesi antara 8000 - 1500 tahun yang lalu, apa yang disebut sebagai budaya &quot;Toalean&quot;.

Penamaan ini berdasarkan penelitian naturalis dan etnolog asal Swiss, Paul dan dan Fritz Sarasin (1893-1896) di Celebes, dan memperkenalkan orang-orang di dalam gua dari peninggalannya sebagai To Ala sebagai penanda budaya di Sulawesi Selatan.

&quot;Toala dalam bugis itu orang yang tinggal di hutan-hutan di gunung-gunung,&quot; kata Prof Akin.

Dari mana asal Besse dan ke mana keturunannya? Hal itu masih teka-teki bagi para ilmuan. Tapi dari kajian ilmiah ini setidaknya ditemukan latar belakang genetika Asia Timur, Austromelanesoid dan Denisovan.

Peneliti genetika dari Eijkman Institute, Pradiptajati Kusuma mengatakan hal yang mengejutkan dari temuan ini adalah latar belakang genetika Asia Timur sebelum era neolitikum (zaman batu).

&quot;Sedangkan selama ini yang diketahui adalah latar belakang genetik Asia di populasi Indonesia Timur itu berasal dari latar belakang genetik Austronesia. Maka ini hal baru,&quot; katanya.
Besse sejauh ini diyakini sebagai manusia penjelajah yang tiba lebih dulu di Nusantara sebelum Austronesia yang masuk ke Nusantara antara 4500 - 2000 tahun lalu.

Indonesia sebagai 'melting pot' segala ras manusia

Menurut arkeolog dari Unhas, Iwan Sumantri, temuan ini menambah keyakinannya yang sudah lebih dari tiga dekade menjadi arkeolog bahwa Indonesia merupakan &quot;melting pot&quot; atau kuali percampuran ras manusia seluruh dunia.

&quot;Indonesia menjadi melting pot, daerah percampuran, sehingga tidak ada satu pun etnis yang mengatakan diri, atau mengatakan saya adalah asli Indonesia,&quot; katanya.

Ia menyusun hal ini sejak mulai dari kedatangan ras Austromelanesoid, Austronesia [melayu], pecampuran genetik Denisovan dan Neanderthal, Mongoloid, India, Persia sampai Eropa.

&quot;Ras besar ini kemudian memberikan warna, kepada Indonesia mereka datang kemudian membawa budaya masing-masing, kemudian kita anut. Jadi pengetahuan arkeologi, memberikan kesadaran kepada saya soal keindonesiaan,&quot; kata Iwan.

Saat ini terdapat 4-5 kerangka manusia prasejarah yang menunggu untuk diteliti lebih jauh. Menguak misteri asal-usul mereka bergantung dari kerja sama dari lembaga atau institusi penelitian dari luar negeri. Tanpa itu, kemungkinan mereka akan menunggu selamanya di tempat aman, dan tak direkam dalam sejarah.
</content:encoded></item></channel></rss>
