<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Pong Tiku : Saat Masa Muda, Perjuangan, dan Akhir Hidup</title><description>Pong Tiku atau dikenal sebagai Ne Baso, merupakan seorang pahlawan nasional yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/12/337/2706120/kisah-pong-tiku-saat-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/11/12/337/2706120/kisah-pong-tiku-saat-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup"/><item><title>Kisah Pong Tiku : Saat Masa Muda, Perjuangan, dan Akhir Hidup</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/12/337/2706120/kisah-pong-tiku-saat-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/11/12/337/2706120/kisah-pong-tiku-saat-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup</guid><pubDate>Sabtu 12 November 2022 14:45 WIB</pubDate><dc:creator>Nadilla Syabriya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/12/337/2706120/kisah-pong-tiku-saat-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup-YycsxjmHVd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pong Tiku (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/12/337/2706120/kisah-pong-tiku-saat-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup-YycsxjmHVd.jpg</image><title>Pong Tiku (Ist)</title></images><description>JAKARTA - Pong Tiku atau dikenal sebagai Ne Baso, merupakan seorang pahlawan nasional yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai pemimpin dan pejuang gerilya dalam perang melawan kolonialisme Belanda di tanah kelahirannya tersebut.


Putra dari penguasa Pangala ini menjadi pemimpin perlawanan paling lama di Sulawesi. Gubernur Jenderal JB van Heutsz menganggapnya perusak stabilitas kontrol Belanda atas wilayah Sulawesi.

Sejak kematiannya, Tiku menjadi simbol perlawanan Toraja. Ia resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2002.

Lantas, bagaimana kisah hidupnya? Berikut pembahasannya sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (12/11/2022) :


Masa Muda

Pada 1846, Pong Tiku lahir di dekat Rantepao, dataran tinggi Sulawesi yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara keluarga Siambo Karaeng dan istrinya Leb'ok.

Tiku dikenal sebagai pemuda yang atletis dan bersahabat baik dengan para pedagang kopi yang berkunjung ke desanya.

Pada 1880, terjadi perang antara Pangala dan Baruppu. Dalam konflik ini, Tiku diperintahkan sang ayah untuk memimpin Laskar Pangala. Negara Baruppu pun berhasil dikuasainya dan menjadi wilayah kekuasaannya.

BACA JUGA:Raden Rubini dan Soeharto, 2 Dokter Berjasa yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Sejak saat itu, Pong Tiku diakui oleh para pemangku adat yang lain di Tana Toraja. Sebagai pemimpin, Tiku bekerja untuk memperkuat ekonomi untuk meningkatkan perdagangan kopi dan membentuk aliansi strategis dengan penduduk dataran rendah yang didominasi orang Bugis. Keberhasilan ekonomi yang dibawanya membuat penguasa terdekatnya menghormati dan iri pada Tiku.

Perjuangan

Sebagai penghasil kopi bermutu tinggi, Tana Toraja menjadi ajang persaingan antara pedagang-pedagang yang datang dari daerah lain untuk menguasai perdagangan kopi. Mereka menempati daerah-daerah tertentu sebagai pemukiman dan umumnya membawa pengawal bersenjata.

Perang Kopi terjadi pada 1889 diawali oleh serangan pedangan Luwu dan Bone terhadap pemukiman pedagang Sidenreng dan Sawitto. Dalam perang ini, Pong Tiku alias Ne Baso memihak pedangan Sidenreng dan Sawitto menghadapi perang Luwu dan Bone. Laskar Bone dikenal dengan Laskar &amp;ldquo;songkok borrong&amp;rdquo; (topi merah). Pasukan Pong Tiku alias Ne&amp;rsquo; Baso sempat terdesak. Namun, pada akhirnya mereka berhasil memukul mundur Laskar Luwu dan Bone pada tahun 1890.

Konflik bersenjata antara Pangala dan Baruppu serta perang kopi pada hakikatnya adalah &amp;ldquo;Perang Saudara&amp;rdquo; antar komunitas di Sulawesi Selatan. Kedua peristiwa itu menyadarkan Pong Tiku alias Ne Baso bahwa ia harus membangun benteng-benteng untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari intervensi pihak luar.

Pembangunan benteng-benteng itu disesuaikan dengan bentang alam Tana Toraja yang bergunung-gunung. Di sebelah barat Pangala dibangun benteng-benteng Lalidong, Buntubatu dan Rinding Alla. Di sebelah timur dibangun benteng-benteng Buntuasu, Tondok, Ka&amp;rsquo;do dan Mamullu.

Pada Januari 1906, Tiku mengirim pengintai ke Sidareng dan Sawitto, sementara Belanda menyelidiki cara bertempur mereka. Saat para pengintai melapor, mereka mengatakan bahwa pasukan Belanda memiliki kekuatan besar saat melawan pasukan Bugis. Oleh sebab itu, Tiku memerintahkan pasukan di benteng-bentengnya untuk bersiap dan mulai mengumpulkan cadangan makanan berupa beras.

Sebulan kemudian, Luwu jatuh ke tangan pasukan Belanda, sehingga membuat Tiku dan pasukannya harus pindah ke pelosok. Pada Maret 1906, kerajaan-kerajaan lain semuanya runtuh, meninggalkan Tiku sebagai penguasa Toraja terakhir.

Tiku bersembunyi di bentengnya di Buntu Batu. Ia mengirim pasukan untuk memata-matai Belanda di Rantepao. Pada 22 Juni, pasukannya melaporkan bahwa pada malam sebelumnya, sebuah batalyon Belanda, sekitar 250 ribu pria dan 500 pengangkut berangkat ke desa tersebut. Tiku kemudian memerintahkan agar jalanan segera disabotase.

Karena kampanye melawan Tiku berlangsung lebih lama daripada sebagian besar kampanye pendudukan lainnya, hal ini dianggap melemahkan otoritas Belanda di Sulawesi. Gubernur Jenderal JB van Heutsz mengirim Gubernur Sulawesi Swart untuk memimpin serangan secara pribadi dan mengadakan gencatan senjata.

Setelah tiga hari gencatan senjata, pada malam 30 Oktober pasukan Belanda mengambil alih benteng, mengambil semua senjata, dan menangkap Tiku. Dia dan tentaranya terpaksa kabur ke Tondon.



Akhir Hidup

Malam sebelum pemakaman ibunya, pada Januari 1907, Tiku dan 300 pengikutnya melarikan diri dari Tondon, menuju selatan. Setelah dia diberitahu bahwa Belanda telah mengejarnya, Tiku memerintahkan sebagian besar pengikutnya untuk kembali ke Tondon. Sementara dia dan sekelompok lima belas orang, termasuk dua istrinya, terus ke selatan.

Mereka memutuskan untuk menetap di Ambeso, tetapi benteng itu jatuh beberapa hari kemudian dan melanjutkan mengungsi ke Alla. Benteng Alla pun juga jatuh pada Maret 1907 dan Tiku memutuskan untuk bersembunyi di hutan.

Pada 30 Juni 1907 Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda. Setelah beberapa hari di penjara, pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak mati oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan. Beberapa laporan menyatakan bahwa ia sedang mandi pada saat itu. Ia dimakamkan bersama seluruh keluarganya di Tondol.</description><content:encoded>JAKARTA - Pong Tiku atau dikenal sebagai Ne Baso, merupakan seorang pahlawan nasional yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai pemimpin dan pejuang gerilya dalam perang melawan kolonialisme Belanda di tanah kelahirannya tersebut.


Putra dari penguasa Pangala ini menjadi pemimpin perlawanan paling lama di Sulawesi. Gubernur Jenderal JB van Heutsz menganggapnya perusak stabilitas kontrol Belanda atas wilayah Sulawesi.

Sejak kematiannya, Tiku menjadi simbol perlawanan Toraja. Ia resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2002.

Lantas, bagaimana kisah hidupnya? Berikut pembahasannya sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Sabtu (12/11/2022) :


Masa Muda

Pada 1846, Pong Tiku lahir di dekat Rantepao, dataran tinggi Sulawesi yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara keluarga Siambo Karaeng dan istrinya Leb'ok.

Tiku dikenal sebagai pemuda yang atletis dan bersahabat baik dengan para pedagang kopi yang berkunjung ke desanya.

Pada 1880, terjadi perang antara Pangala dan Baruppu. Dalam konflik ini, Tiku diperintahkan sang ayah untuk memimpin Laskar Pangala. Negara Baruppu pun berhasil dikuasainya dan menjadi wilayah kekuasaannya.

BACA JUGA:Raden Rubini dan Soeharto, 2 Dokter Berjasa yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Sejak saat itu, Pong Tiku diakui oleh para pemangku adat yang lain di Tana Toraja. Sebagai pemimpin, Tiku bekerja untuk memperkuat ekonomi untuk meningkatkan perdagangan kopi dan membentuk aliansi strategis dengan penduduk dataran rendah yang didominasi orang Bugis. Keberhasilan ekonomi yang dibawanya membuat penguasa terdekatnya menghormati dan iri pada Tiku.

Perjuangan

Sebagai penghasil kopi bermutu tinggi, Tana Toraja menjadi ajang persaingan antara pedagang-pedagang yang datang dari daerah lain untuk menguasai perdagangan kopi. Mereka menempati daerah-daerah tertentu sebagai pemukiman dan umumnya membawa pengawal bersenjata.

Perang Kopi terjadi pada 1889 diawali oleh serangan pedangan Luwu dan Bone terhadap pemukiman pedagang Sidenreng dan Sawitto. Dalam perang ini, Pong Tiku alias Ne Baso memihak pedangan Sidenreng dan Sawitto menghadapi perang Luwu dan Bone. Laskar Bone dikenal dengan Laskar &amp;ldquo;songkok borrong&amp;rdquo; (topi merah). Pasukan Pong Tiku alias Ne&amp;rsquo; Baso sempat terdesak. Namun, pada akhirnya mereka berhasil memukul mundur Laskar Luwu dan Bone pada tahun 1890.

Konflik bersenjata antara Pangala dan Baruppu serta perang kopi pada hakikatnya adalah &amp;ldquo;Perang Saudara&amp;rdquo; antar komunitas di Sulawesi Selatan. Kedua peristiwa itu menyadarkan Pong Tiku alias Ne Baso bahwa ia harus membangun benteng-benteng untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari intervensi pihak luar.

Pembangunan benteng-benteng itu disesuaikan dengan bentang alam Tana Toraja yang bergunung-gunung. Di sebelah barat Pangala dibangun benteng-benteng Lalidong, Buntubatu dan Rinding Alla. Di sebelah timur dibangun benteng-benteng Buntuasu, Tondok, Ka&amp;rsquo;do dan Mamullu.

Pada Januari 1906, Tiku mengirim pengintai ke Sidareng dan Sawitto, sementara Belanda menyelidiki cara bertempur mereka. Saat para pengintai melapor, mereka mengatakan bahwa pasukan Belanda memiliki kekuatan besar saat melawan pasukan Bugis. Oleh sebab itu, Tiku memerintahkan pasukan di benteng-bentengnya untuk bersiap dan mulai mengumpulkan cadangan makanan berupa beras.

Sebulan kemudian, Luwu jatuh ke tangan pasukan Belanda, sehingga membuat Tiku dan pasukannya harus pindah ke pelosok. Pada Maret 1906, kerajaan-kerajaan lain semuanya runtuh, meninggalkan Tiku sebagai penguasa Toraja terakhir.

Tiku bersembunyi di bentengnya di Buntu Batu. Ia mengirim pasukan untuk memata-matai Belanda di Rantepao. Pada 22 Juni, pasukannya melaporkan bahwa pada malam sebelumnya, sebuah batalyon Belanda, sekitar 250 ribu pria dan 500 pengangkut berangkat ke desa tersebut. Tiku kemudian memerintahkan agar jalanan segera disabotase.

Karena kampanye melawan Tiku berlangsung lebih lama daripada sebagian besar kampanye pendudukan lainnya, hal ini dianggap melemahkan otoritas Belanda di Sulawesi. Gubernur Jenderal JB van Heutsz mengirim Gubernur Sulawesi Swart untuk memimpin serangan secara pribadi dan mengadakan gencatan senjata.

Setelah tiga hari gencatan senjata, pada malam 30 Oktober pasukan Belanda mengambil alih benteng, mengambil semua senjata, dan menangkap Tiku. Dia dan tentaranya terpaksa kabur ke Tondon.



Akhir Hidup

Malam sebelum pemakaman ibunya, pada Januari 1907, Tiku dan 300 pengikutnya melarikan diri dari Tondon, menuju selatan. Setelah dia diberitahu bahwa Belanda telah mengejarnya, Tiku memerintahkan sebagian besar pengikutnya untuk kembali ke Tondon. Sementara dia dan sekelompok lima belas orang, termasuk dua istrinya, terus ke selatan.

Mereka memutuskan untuk menetap di Ambeso, tetapi benteng itu jatuh beberapa hari kemudian dan melanjutkan mengungsi ke Alla. Benteng Alla pun juga jatuh pada Maret 1907 dan Tiku memutuskan untuk bersembunyi di hutan.

Pada 30 Juni 1907 Tiku dan dua anak buahnya ditangkap oleh pasukan Belanda. Setelah beberapa hari di penjara, pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak mati oleh tentara Belanda di dekat Sungai Sa'dan. Beberapa laporan menyatakan bahwa ia sedang mandi pada saat itu. Ia dimakamkan bersama seluruh keluarganya di Tondol.</content:encoded></item></channel></rss>
