<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Alasan Keluarga Korban dan Penyintas Tragedi Kanjuruhan Lapor Bareskrim</title><description>Anjar Nawan Yusky menilai perkara yang bergulir di Polda Jawa Timur tidak memenuhi perspektif keadilan untuk korban.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/18/337/2710011/ini-alasan-keluarga-korban-dan-penyintas-tragedi-kanjuruhan-lapor-bareskrim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/11/18/337/2710011/ini-alasan-keluarga-korban-dan-penyintas-tragedi-kanjuruhan-lapor-bareskrim"/><item><title>Ini Alasan Keluarga Korban dan Penyintas Tragedi Kanjuruhan Lapor Bareskrim</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/18/337/2710011/ini-alasan-keluarga-korban-dan-penyintas-tragedi-kanjuruhan-lapor-bareskrim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/11/18/337/2710011/ini-alasan-keluarga-korban-dan-penyintas-tragedi-kanjuruhan-lapor-bareskrim</guid><pubDate>Jum'at 18 November 2022 10:48 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Al Fiqri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/18/337/2710011/ini-alasan-keluarga-korban-dan-penyintas-tragedi-kanjuruhan-lapor-bareskrim-w27h0t4Fal.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengacara korban tragedi Kanjuruhan Anjar Nawan (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/18/337/2710011/ini-alasan-keluarga-korban-dan-penyintas-tragedi-kanjuruhan-lapor-bareskrim-w27h0t4Fal.jpg</image><title>Pengacara korban tragedi Kanjuruhan Anjar Nawan (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Puluhan keluarga korban dan penyintas tragedi Kanjuruhan menyambangi Bareskrim Polri, Jumat (18/11/2022). Kedatangan mereka untuk membuat laporan kembali lantaran merasa tak puas dengan penanganan perkara di Polda Jawa Timur.
Anggota tim hukum gabungan Aremania, Anjar Nawan Yusky menilai perkara yang bergulir di Polda Jawa Timur tidak memenuhi perspektif keadilan untuk korban. Apalagi, katanya, laporan di Polda Jawa Timur model a atau laporan yang dibuat polisi sendiri.
&quot;Sehingga dengan demikian masyarakat Malang khususnya korban Aremania merasa tidak ada keadilan di sana, karena tidak sesuai fakta yang sebenarnya. Untuk itulah kami hadir di sini buat laporan, korban sendiri yang buat laporan, dengan harapan yang nanti akan lebih membuka perspektif korban,&quot; ujar Anjar.
Salah satu dasar proses penanganan perkara di Polda Jawa Timur tak mengakomodir korban, kata Anjar, bukti luka yang tak dijelaskan dengan gamblang.
Baca juga:&amp;nbsp;Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Sambangi LPSK Siang Ini, Bahas Apa?
&quot;Tidak hanya patah tulang ya, karena patah tulang seperti yang ada di perkara berjalan di Polda Jatim itu seolah-olah nanti korban-korban ini terinjak-injak. Padahal banyak, ada korban mata merah, ada korban sesak nafas, itu kami bawa semua sekarang buktinya,&quot; terang Anjar.
Baca juga:&amp;nbsp;Laporkan Tragedi Kanjuruhan, Puluhan Korban Tiba di Bareskrim Polri
Dalam laporan kali ini, rombongan keluarga korban dan penyintas juga akan melaporkan terkait adanya dugaan kekerasan anak dalam tragedi Kanjuruhan. Ia merasa, delik dugaan kekerasan terhadap anak tak tersentuh dalam penanganan perkara di Polda Jawa Timur.
&quot;Itu belum tersentuh. Sementara negara harusnya hadir dalam melindungi anak termasuk dalam proses penegakan hukum. Salah satu poinnya nanti hal yang membedakan, itu,&quot; terang Anjar.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8xOC8xLzE1NzEyMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>JAKARTA - Puluhan keluarga korban dan penyintas tragedi Kanjuruhan menyambangi Bareskrim Polri, Jumat (18/11/2022). Kedatangan mereka untuk membuat laporan kembali lantaran merasa tak puas dengan penanganan perkara di Polda Jawa Timur.
Anggota tim hukum gabungan Aremania, Anjar Nawan Yusky menilai perkara yang bergulir di Polda Jawa Timur tidak memenuhi perspektif keadilan untuk korban. Apalagi, katanya, laporan di Polda Jawa Timur model a atau laporan yang dibuat polisi sendiri.
&quot;Sehingga dengan demikian masyarakat Malang khususnya korban Aremania merasa tidak ada keadilan di sana, karena tidak sesuai fakta yang sebenarnya. Untuk itulah kami hadir di sini buat laporan, korban sendiri yang buat laporan, dengan harapan yang nanti akan lebih membuka perspektif korban,&quot; ujar Anjar.
Salah satu dasar proses penanganan perkara di Polda Jawa Timur tak mengakomodir korban, kata Anjar, bukti luka yang tak dijelaskan dengan gamblang.
Baca juga:&amp;nbsp;Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Sambangi LPSK Siang Ini, Bahas Apa?
&quot;Tidak hanya patah tulang ya, karena patah tulang seperti yang ada di perkara berjalan di Polda Jatim itu seolah-olah nanti korban-korban ini terinjak-injak. Padahal banyak, ada korban mata merah, ada korban sesak nafas, itu kami bawa semua sekarang buktinya,&quot; terang Anjar.
Baca juga:&amp;nbsp;Laporkan Tragedi Kanjuruhan, Puluhan Korban Tiba di Bareskrim Polri
Dalam laporan kali ini, rombongan keluarga korban dan penyintas juga akan melaporkan terkait adanya dugaan kekerasan anak dalam tragedi Kanjuruhan. Ia merasa, delik dugaan kekerasan terhadap anak tak tersentuh dalam penanganan perkara di Polda Jawa Timur.
&quot;Itu belum tersentuh. Sementara negara harusnya hadir dalam melindungi anak termasuk dalam proses penegakan hukum. Salah satu poinnya nanti hal yang membedakan, itu,&quot; terang Anjar.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8xOC8xLzE1NzEyMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
