<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tragedi Kanjuruhan, Dokter Forensik Sebut Kematian Korban Bukan Akibat Gas Air Mata</title><description>Autopsi terhadap korban tragedi Kanjuruhan, yaitu Natasya Debi Ramadhani (16), dan Nayla Debi Anggraeni (13) telah dilakukan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/30/519/2718043/tragedi-kanjuruhan-dokter-forensik-sebut-kematian-korban-bukan-akibat-gas-air-mata</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2022/11/30/519/2718043/tragedi-kanjuruhan-dokter-forensik-sebut-kematian-korban-bukan-akibat-gas-air-mata"/><item><title>Tragedi Kanjuruhan, Dokter Forensik Sebut Kematian Korban Bukan Akibat Gas Air Mata</title><link>https://news.okezone.com/read/2022/11/30/519/2718043/tragedi-kanjuruhan-dokter-forensik-sebut-kematian-korban-bukan-akibat-gas-air-mata</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2022/11/30/519/2718043/tragedi-kanjuruhan-dokter-forensik-sebut-kematian-korban-bukan-akibat-gas-air-mata</guid><pubDate>Rabu 30 November 2022 18:06 WIB</pubDate><dc:creator>Lukman Hakim</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/30/519/2718043/tragedi-kanjuruhan-dokter-forensik-sebut-kematian-korban-bukan-akibat-gas-air-mata-g73bkrIeVF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua PDFI Cabang Jawa Timur dr Nabil Bahasuan. (Foto: Lukman H/MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/30/519/2718043/tragedi-kanjuruhan-dokter-forensik-sebut-kematian-korban-bukan-akibat-gas-air-mata-g73bkrIeVF.jpg</image><title>Ketua PDFI Cabang Jawa Timur dr Nabil Bahasuan. (Foto: Lukman H/MPI)</title></images><description>SURABAYA - Autopsi terhadap korban tragedi Kanjuruhan, yaitu Natasya Debi Ramadhani (16), dan Nayla Debi Anggraeni (13) telah dilakukan pada pada Sabtu (5/11/2022) oleh Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur .

Kesimpulan dari proses autopsi, kedua korban meninggal dunia akibat kekerasan benda tumpul dan bukan karena gas air mata. Ketua PDFI Cabang Jawa Timur dr Nabil Bahasuan mengatakan, dari hasil pemeriksaan, tidak terdeteksi adanya gas air mata di kedua korban.

Dari pemeriksaan sekitar satu bulan itu, ada kesamaan penyebab kematian kedua remaja tersebut. Yakni akibat kekerasan benda tumpul. Dari hasil outopsi juga terjadi pendarahan di kedua korban serta terdapat patah tulang iga dan patah tulang dada.

BACA JUGA:Jejak Kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Tertua di Jatim


BACA JUGA:Kedua Orangtuanya Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan, Bocah Kelas 5 Ini Bisa Senyum Lagi

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMC8xLzE1NzIzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Hasil pengumpulan sampel yang ada pada kedua korban, sudah diserahkan kepada BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),&quot; kata dr Nabil, saat ditemui di gedung Fakultas Hukum, Universitas Airlangga (Unair), Rabu (30/11/2022).

Dirinya mengaku kesulitan dalam melakukan autopsi terhadap korban. Sebab, saat pengambilan sample, korban dalam kondisi pembusukan lanjut. Sehingga, ia dan tim PDFI hanya mengambil bagian tubuh yang masih utuh. Meski begitu, pihaknya memastikan jika hasil autopsi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

&quot;Untuk lebih jelasnya nanti di pengadilan bisa didatangkan ahli dari BRIN yang memeriksa hasil sampel toxicologi kita,&quot; ujar dia.</description><content:encoded>SURABAYA - Autopsi terhadap korban tragedi Kanjuruhan, yaitu Natasya Debi Ramadhani (16), dan Nayla Debi Anggraeni (13) telah dilakukan pada pada Sabtu (5/11/2022) oleh Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur .

Kesimpulan dari proses autopsi, kedua korban meninggal dunia akibat kekerasan benda tumpul dan bukan karena gas air mata. Ketua PDFI Cabang Jawa Timur dr Nabil Bahasuan mengatakan, dari hasil pemeriksaan, tidak terdeteksi adanya gas air mata di kedua korban.

Dari pemeriksaan sekitar satu bulan itu, ada kesamaan penyebab kematian kedua remaja tersebut. Yakni akibat kekerasan benda tumpul. Dari hasil outopsi juga terjadi pendarahan di kedua korban serta terdapat patah tulang iga dan patah tulang dada.

BACA JUGA:Jejak Kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Tertua di Jatim


BACA JUGA:Kedua Orangtuanya Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan, Bocah Kelas 5 Ini Bisa Senyum Lagi

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMC8xLzE1NzIzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

&quot;Hasil pengumpulan sampel yang ada pada kedua korban, sudah diserahkan kepada BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),&quot; kata dr Nabil, saat ditemui di gedung Fakultas Hukum, Universitas Airlangga (Unair), Rabu (30/11/2022).

Dirinya mengaku kesulitan dalam melakukan autopsi terhadap korban. Sebab, saat pengambilan sample, korban dalam kondisi pembusukan lanjut. Sehingga, ia dan tim PDFI hanya mengambil bagian tubuh yang masih utuh. Meski begitu, pihaknya memastikan jika hasil autopsi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

&quot;Untuk lebih jelasnya nanti di pengadilan bisa didatangkan ahli dari BRIN yang memeriksa hasil sampel toxicologi kita,&quot; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
