<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tiongkok Marah Setelah Banyak Negara Batasi Turis dari China </title><description>Beijing menuduh negara Barat berlaku diskriminatif.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/02/18/2738897/tiongkok-marah-setelah-banyak-negara-batasi-turis-dari-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/01/02/18/2738897/tiongkok-marah-setelah-banyak-negara-batasi-turis-dari-china"/><item><title>Tiongkok Marah Setelah Banyak Negara Batasi Turis dari China </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/02/18/2738897/tiongkok-marah-setelah-banyak-negara-batasi-turis-dari-china</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/01/02/18/2738897/tiongkok-marah-setelah-banyak-negara-batasi-turis-dari-china</guid><pubDate>Senin 02 Januari 2023 19:49 WIB</pubDate><dc:creator>Rifqa Nisyardhana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/02/18/2738897/tiongkok-marah-setelah-banyak-negara-batasi-turis-dari-china-JcipkmOWcX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/02/18/2738897/tiongkok-marah-setelah-banyak-negara-batasi-turis-dari-china-JcipkmOWcX.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Setelah tiga tahun tertutup dari dunia, China akan membiarkan warganya bepergian lebih bebas mulai 8 Januari. Namun, banyak negara yang membatasi turis dari China.
Mulai dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Korea Selatan, Spanyol, India, Italia, Israel, Perancis, Malaysia hingga Taiwan memberlakukan pembatasan kepada para turis dari China. Sementara negara Australia dan Filipina masih memantau situasi.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Covid Melonjak, Presiden Taiwan Tawarkan Bantuan kepada China

Tindakan ini ini dikarenakan terjadi lonjakan Covid-19 yang sedang berlangsung di negara China sehingga memicu kewaspadaan akan varian baru yang dapat muncul.
Mengutip dari BBC, AS mengatakan kurangnya data Covid yang &quot;memadai dan transparan&quot; di China telah berkontribusi pada keputusan untuk mewajibkan tes Covid mulai 5 Januari bagi turis dari China, Hong Kong, dan Makau yang memasuki negara itu.
Menanggapi hal itu, kementerian luar negeri Beijing pada Rabu, (28/12/2022)&amp;nbsp; mengatakan aturan virus corona hanya boleh diberlakukan atas dasar &quot;ilmiah&quot; dan menuduh negara-negara Barat dan media &quot;membesar-besarkan&quot; situasi tersebut.
Bahkan, media pemerintah China mencela negara asing yang memberlakukan tes Covid-19 kepada turis dari China sebagai tindakan &amp;ldquo;diskriminatif&amp;rdquo;.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Covid Melonjak, Prancis, Spanyol, Korsel hingga Israel Perketat Aturan untuk Pelancong China

&quot;Tujuan sebenarnya adalah untuk menyabotase tiga tahun upaya pengendalian COVID-19 China dan menyerang sistem negara,&quot; kata tabloid milik pemerintah Global Times dalam sebuah artikel yang menyebut pembatasan itu &quot;tidak berdasar&quot; dan &quot;diskriminatif&amp;rdquo; yang dikutip dari Reuters.
Selain itu, beberapa orang bereaksi dengan marah di media sosial China, Weibo yang mengatakan tindakan pembatasan turis dari China adalah tindakan rasisme.
&quot;Saya pikir semua negara asing telah terbuka. Bukankah ini rasisme?&quot; tulis dalam satu komentar yang disukai 3.000 kali di Weibo.Akan tetapi, ada pengguna lainnya yang mengatakan bahwa mereka memahami alasan dari kondisi tersebut.
&quot;Ini tidak seberapa dibandingkan dengan semua pembatasan yang kami miliki untuk orang yang datang ke China,&quot; tulis seorang pengguna.
Mengutip dari Al Jazeera, World Health Organization (WHO) ikut mengatakan sangat prihatin dengan meningkatnya laporan kasus di seluruh China setelah negara itu sebagian besar mengabaikan kebijakan &quot;nol-COVID&quot;-nya.
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam serangkaian tweet pada hari Kamis, (30/12/2022) juga mengimbau China untuk lebih terbuka dengan data terperinci tentang situasi pandemi.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Setelah tiga tahun tertutup dari dunia, China akan membiarkan warganya bepergian lebih bebas mulai 8 Januari. Namun, banyak negara yang membatasi turis dari China.
Mulai dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Korea Selatan, Spanyol, India, Italia, Israel, Perancis, Malaysia hingga Taiwan memberlakukan pembatasan kepada para turis dari China. Sementara negara Australia dan Filipina masih memantau situasi.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Covid Melonjak, Presiden Taiwan Tawarkan Bantuan kepada China

Tindakan ini ini dikarenakan terjadi lonjakan Covid-19 yang sedang berlangsung di negara China sehingga memicu kewaspadaan akan varian baru yang dapat muncul.
Mengutip dari BBC, AS mengatakan kurangnya data Covid yang &quot;memadai dan transparan&quot; di China telah berkontribusi pada keputusan untuk mewajibkan tes Covid mulai 5 Januari bagi turis dari China, Hong Kong, dan Makau yang memasuki negara itu.
Menanggapi hal itu, kementerian luar negeri Beijing pada Rabu, (28/12/2022)&amp;nbsp; mengatakan aturan virus corona hanya boleh diberlakukan atas dasar &quot;ilmiah&quot; dan menuduh negara-negara Barat dan media &quot;membesar-besarkan&quot; situasi tersebut.
Bahkan, media pemerintah China mencela negara asing yang memberlakukan tes Covid-19 kepada turis dari China sebagai tindakan &amp;ldquo;diskriminatif&amp;rdquo;.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Covid Melonjak, Prancis, Spanyol, Korsel hingga Israel Perketat Aturan untuk Pelancong China

&quot;Tujuan sebenarnya adalah untuk menyabotase tiga tahun upaya pengendalian COVID-19 China dan menyerang sistem negara,&quot; kata tabloid milik pemerintah Global Times dalam sebuah artikel yang menyebut pembatasan itu &quot;tidak berdasar&quot; dan &quot;diskriminatif&amp;rdquo; yang dikutip dari Reuters.
Selain itu, beberapa orang bereaksi dengan marah di media sosial China, Weibo yang mengatakan tindakan pembatasan turis dari China adalah tindakan rasisme.
&quot;Saya pikir semua negara asing telah terbuka. Bukankah ini rasisme?&quot; tulis dalam satu komentar yang disukai 3.000 kali di Weibo.Akan tetapi, ada pengguna lainnya yang mengatakan bahwa mereka memahami alasan dari kondisi tersebut.
&quot;Ini tidak seberapa dibandingkan dengan semua pembatasan yang kami miliki untuk orang yang datang ke China,&quot; tulis seorang pengguna.
Mengutip dari Al Jazeera, World Health Organization (WHO) ikut mengatakan sangat prihatin dengan meningkatnya laporan kasus di seluruh China setelah negara itu sebagian besar mengabaikan kebijakan &quot;nol-COVID&quot;-nya.
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam serangkaian tweet pada hari Kamis, (30/12/2022) juga mengimbau China untuk lebih terbuka dengan data terperinci tentang situasi pandemi.
</content:encoded></item></channel></rss>
