<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Humor Gus Dur: Alasan Kocak Tidak Mau Naik Mobil Herbert Feith</title><description>Apa yang membuat Gus Dur ogah naik mobil Herbert Feith?
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/10/337/2743009/humor-gus-dur-alasan-kocak-tidak-mau-naik-mobil-herbert-feith</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/01/10/337/2743009/humor-gus-dur-alasan-kocak-tidak-mau-naik-mobil-herbert-feith"/><item><title>Humor Gus Dur: Alasan Kocak Tidak Mau Naik Mobil Herbert Feith</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/10/337/2743009/humor-gus-dur-alasan-kocak-tidak-mau-naik-mobil-herbert-feith</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/01/10/337/2743009/humor-gus-dur-alasan-kocak-tidak-mau-naik-mobil-herbert-feith</guid><pubDate>Selasa 10 Januari 2023 05:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/09/337/2743009/humor-gus-dur-alasan-kocak-tidak-mau-naik-mobil-herbert-feith-RMuUzLT0SA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KH. Abdurrahman Wahid. (Foto: ist.)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/09/337/2743009/humor-gus-dur-alasan-kocak-tidak-mau-naik-mobil-herbert-feith-RMuUzLT0SA.jpg</image><title>KH. Abdurrahman Wahid. (Foto: ist.)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai seorang tokoh yang memiliki pergaulan luas dan memiliki banyak cerita lucu yang dapat mengocok perut. Cerita-cerita Gus Dur kerap mengambil tempat dalam pertemuan dengan teman-temannya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Cerita Kocak Orang Inggris, Prancis dan Indonesia Bertemu Jin Aladin

Dalam video YouTube di kanal KOFI TV yang diakses NU Online, Fachry Ali mengisahkan bahwa pada 1991 Gus Dur berkunjung ke Australia untuk mengisi sebuah acara. Saat itu Gus Dur mengunjungi rumah kontrakan Fachry dan  bertemu dengan sejumlah Indonesianis, antara lain Martin Van Bruinessen, William Liddle, Mitsuo Nakamura, dan Herbert Feith.
Gus Dur ternyata memiliki pengalaman lucu dengan nama terakhir, Herbert Feith. Pengalaman ini membuat Gus Dur ogah naik lagi ke mobil Feith.
&amp;ldquo;Suatu hari saya membawa Kiai Abdurrahman Wahid dengan mobil saya untuk jalan-jalan ke Gunung Dandenong. Jaraknya kira-kira 15 km dari Clayton (rumah Fachry Ali),&amp;rdquo; kenang Fachry.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Demokrasi dan Kereta Api Jakarta-Surabaya

Sebelum berangkat ke Gunung Dandenong, Herbert Feith datang dengan membawa mobil tuanya. Karena merasa lebih muda, Fachry meminta Gus Dur untuk naik mobilnya Herbert Feith karena di dalamnya ada Mitsuo Nakamura dan Martin Van Bruinessen. Namun, Gus Dur menolak dan ingin berangkat pakai mobil Fachry.
&amp;ldquo;Akhirnya bergeraklah bersama-sama. Di mobil Herbert Feith itu ada antropolog asal Jepang, Mitsuo Nakamura. Lalu, Martin Van Bruinessen dan seseorang bernama Beni,&amp;rdquo; ungkap Fachry.Di Dandenong, rombongan mampir di sebuah kafe untuk menikmati makanan dan minuman dengan suasana alam yang indah dan punya daya tarik tersendiri. Setelah dianggap cukup, akhirnya semua kembali ke Clayton.
Saat sampai rumah, Fachry merasa kaget ketika menyaksikan wajah Beni yang terlihat gugup, dan bertanya: &amp;ldquo;Saya tanya kenapa kamu gugup, Ben?&amp;rdquo;
Beni menjawab: &amp;ldquo;Bagaimana (tidak gugup), Pak Herb (panggilan untuk Herbert Feith) itu kalau bawa mobil membuat kita takut.&amp;rdquo;
Dia menjelaskan bahwa mobil Herbert Feith sudah cukup tua dan memiliki sejumlah kekurangan. Misalnya, jika pedal gasnya diinjak sampai dalam pun tidak bisa membuat mobil itu berlari kencang.
&amp;ldquo;Kemudian setiap ada orang yang berbicara di belakangnya (Herbert Feith), maksudnya orang yang duduk di kursi belakang, Pak Herb malah menengok ke belakang. Sementara mobil sedang berada di gunung dan menanjak. Untung kami sampai sini dengan selamat,&amp;rdquo; kata Beni seperti diceritakan Fachry.Mendengar jawaban Beni, Fachry langsung menerka mungkin hal itulah yang menjadi alasan Gus Dur enggan naik mobil bersama Herbert Feith. Untuk memastikan, Fachry menanyakannya langsung pada Cak Dur, panggilan khas Fachry Ali pada Gus Dur.
Gus Dur mengatatakan bahwa bukan hanya itu alasannya tidak mau naik mobil Herbert Feith.
&amp;ldquo;Saya pernah naik mobil itu tidak melewati pintu. Tapi, lewat jendela karena pintunya tidak bisa dibuka,&amp;rdquo; kata Gus Dur membuat Fachry tertawa.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai seorang tokoh yang memiliki pergaulan luas dan memiliki banyak cerita lucu yang dapat mengocok perut. Cerita-cerita Gus Dur kerap mengambil tempat dalam pertemuan dengan teman-temannya.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Cerita Kocak Orang Inggris, Prancis dan Indonesia Bertemu Jin Aladin

Dalam video YouTube di kanal KOFI TV yang diakses NU Online, Fachry Ali mengisahkan bahwa pada 1991 Gus Dur berkunjung ke Australia untuk mengisi sebuah acara. Saat itu Gus Dur mengunjungi rumah kontrakan Fachry dan  bertemu dengan sejumlah Indonesianis, antara lain Martin Van Bruinessen, William Liddle, Mitsuo Nakamura, dan Herbert Feith.
Gus Dur ternyata memiliki pengalaman lucu dengan nama terakhir, Herbert Feith. Pengalaman ini membuat Gus Dur ogah naik lagi ke mobil Feith.
&amp;ldquo;Suatu hari saya membawa Kiai Abdurrahman Wahid dengan mobil saya untuk jalan-jalan ke Gunung Dandenong. Jaraknya kira-kira 15 km dari Clayton (rumah Fachry Ali),&amp;rdquo; kenang Fachry.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Humor Gus Dur: Demokrasi dan Kereta Api Jakarta-Surabaya

Sebelum berangkat ke Gunung Dandenong, Herbert Feith datang dengan membawa mobil tuanya. Karena merasa lebih muda, Fachry meminta Gus Dur untuk naik mobilnya Herbert Feith karena di dalamnya ada Mitsuo Nakamura dan Martin Van Bruinessen. Namun, Gus Dur menolak dan ingin berangkat pakai mobil Fachry.
&amp;ldquo;Akhirnya bergeraklah bersama-sama. Di mobil Herbert Feith itu ada antropolog asal Jepang, Mitsuo Nakamura. Lalu, Martin Van Bruinessen dan seseorang bernama Beni,&amp;rdquo; ungkap Fachry.Di Dandenong, rombongan mampir di sebuah kafe untuk menikmati makanan dan minuman dengan suasana alam yang indah dan punya daya tarik tersendiri. Setelah dianggap cukup, akhirnya semua kembali ke Clayton.
Saat sampai rumah, Fachry merasa kaget ketika menyaksikan wajah Beni yang terlihat gugup, dan bertanya: &amp;ldquo;Saya tanya kenapa kamu gugup, Ben?&amp;rdquo;
Beni menjawab: &amp;ldquo;Bagaimana (tidak gugup), Pak Herb (panggilan untuk Herbert Feith) itu kalau bawa mobil membuat kita takut.&amp;rdquo;
Dia menjelaskan bahwa mobil Herbert Feith sudah cukup tua dan memiliki sejumlah kekurangan. Misalnya, jika pedal gasnya diinjak sampai dalam pun tidak bisa membuat mobil itu berlari kencang.
&amp;ldquo;Kemudian setiap ada orang yang berbicara di belakangnya (Herbert Feith), maksudnya orang yang duduk di kursi belakang, Pak Herb malah menengok ke belakang. Sementara mobil sedang berada di gunung dan menanjak. Untung kami sampai sini dengan selamat,&amp;rdquo; kata Beni seperti diceritakan Fachry.Mendengar jawaban Beni, Fachry langsung menerka mungkin hal itulah yang menjadi alasan Gus Dur enggan naik mobil bersama Herbert Feith. Untuk memastikan, Fachry menanyakannya langsung pada Cak Dur, panggilan khas Fachry Ali pada Gus Dur.
Gus Dur mengatatakan bahwa bukan hanya itu alasannya tidak mau naik mobil Herbert Feith.
&amp;ldquo;Saya pernah naik mobil itu tidak melewati pintu. Tapi, lewat jendela karena pintunya tidak bisa dibuka,&amp;rdquo; kata Gus Dur membuat Fachry tertawa.</content:encoded></item></channel></rss>
