<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Muncul Sejumlah Pulau Baru Usai Gempa Dahsyat Maluku, Fenomena Apa?</title><description>Tekanan tersebut terjadi karena pensesaran naik, beban sedimen, dan adanya fluida cair serta gas pada zona tekanan tinggi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/16/337/2747317/muncul-sejumlah-pulau-baru-usai-gempa-dahsyat-maluku-fenomena-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/01/16/337/2747317/muncul-sejumlah-pulau-baru-usai-gempa-dahsyat-maluku-fenomena-apa"/><item><title>Muncul Sejumlah Pulau Baru Usai Gempa Dahsyat Maluku, Fenomena Apa?</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/16/337/2747317/muncul-sejumlah-pulau-baru-usai-gempa-dahsyat-maluku-fenomena-apa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/01/16/337/2747317/muncul-sejumlah-pulau-baru-usai-gempa-dahsyat-maluku-fenomena-apa</guid><pubDate>Senin 16 Januari 2023 17:14 WIB</pubDate><dc:creator>Rifqa Nisyardhana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/16/337/2747317/muncul-sejumlah-pulau-baru-usai-gempa-dahsyat-maluku-fenomena-apa-gEFe4eWCyQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gempa baru usai gempa Maluku/antara</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/16/337/2747317/muncul-sejumlah-pulau-baru-usai-gempa-dahsyat-maluku-fenomena-apa-gEFe4eWCyQ.jpg</image><title>Gempa baru usai gempa Maluku/antara</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi8xLzE2MDg0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Fenomena sejumlah pulau baru di Desa Teinaman, Kecamatan Tanimbar, Maluku akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,5 menghebohkan banyak warga.
Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Eko Yulianto mengungkapkan hampir seluruh kepulauan di Indonesia terbentuk karena proses tektonik dan vulkanik.
Hal tersebutlah yang dapat mengangkat dasar laut atau bisa menurunkan daratan. Mengutip dari Instagram @brin_indonesia, terdapat dua kemungkinan yang terjadi.
(Baca juga: Peneliti: Fenomena Pulau Baru di Tanimbar Akibat Patahan Gempa)
Kemungkinan pertama yang dapat menjelaskan munculnya pulau baru di Kepulauan Tanimbar adalah laut dalam dengan kondisi dangkal.

Maka dari itu, ketika gempa menyentak, dasar laut dangkal tersebut menyembul ke permukaan laut dan menjadi pulau baru. Namun, akibat pusat gempanya cukup dalam, yaitu 130 km maka kemungkinan ini kecil terjadinya.

Kemungkinan kedua, yaitu fenomena gunung lumpur dengan faktor utamanya adalah tekanan berlebih (over-pressure).

Tekanan tersebut terjadi karena pensesaran naik, beban sedimen, dan adanya fluida cair serta gas pada zona tekanan tinggi.

Eko menambahkan bahwa fenomena kemunculan fenomena gunung lumpur juga terjadi akibat aktivitas sesar sebagai pemicu gempa pada Selasa, (10/1/2023) lalu.

Gempa tersebut berlokasi di laut dengan jarak 136 km arah barat laut Maluku Tenggara Barat pada kedalaman 131 km.

Dari retakan sesar gempa tersebut memberikan jalan bagi fluida cair bertekanan tinggi yang ada di kedalaman mengalir ke permukaan bumi.


Proses akumulasi tekanan di kedalaman bumi akan terjadi kembali hingga siklus gempa berikutnya. Ini kemungkinan akan memicu gunung lumpur baru di tempat yang sama atau berbeda.



Maka dari itu, fenomena gunung lumpur di Pulau Tanimbar, terdapat sekitar empat titik dan ada juga di Pulau Kabawa dan Pulau Mitak.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi8xLzE2MDg0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Fenomena sejumlah pulau baru di Desa Teinaman, Kecamatan Tanimbar, Maluku akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,5 menghebohkan banyak warga.
Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Eko Yulianto mengungkapkan hampir seluruh kepulauan di Indonesia terbentuk karena proses tektonik dan vulkanik.
Hal tersebutlah yang dapat mengangkat dasar laut atau bisa menurunkan daratan. Mengutip dari Instagram @brin_indonesia, terdapat dua kemungkinan yang terjadi.
(Baca juga: Peneliti: Fenomena Pulau Baru di Tanimbar Akibat Patahan Gempa)
Kemungkinan pertama yang dapat menjelaskan munculnya pulau baru di Kepulauan Tanimbar adalah laut dalam dengan kondisi dangkal.

Maka dari itu, ketika gempa menyentak, dasar laut dangkal tersebut menyembul ke permukaan laut dan menjadi pulau baru. Namun, akibat pusat gempanya cukup dalam, yaitu 130 km maka kemungkinan ini kecil terjadinya.

Kemungkinan kedua, yaitu fenomena gunung lumpur dengan faktor utamanya adalah tekanan berlebih (over-pressure).

Tekanan tersebut terjadi karena pensesaran naik, beban sedimen, dan adanya fluida cair serta gas pada zona tekanan tinggi.

Eko menambahkan bahwa fenomena kemunculan fenomena gunung lumpur juga terjadi akibat aktivitas sesar sebagai pemicu gempa pada Selasa, (10/1/2023) lalu.

Gempa tersebut berlokasi di laut dengan jarak 136 km arah barat laut Maluku Tenggara Barat pada kedalaman 131 km.

Dari retakan sesar gempa tersebut memberikan jalan bagi fluida cair bertekanan tinggi yang ada di kedalaman mengalir ke permukaan bumi.


Proses akumulasi tekanan di kedalaman bumi akan terjadi kembali hingga siklus gempa berikutnya. Ini kemungkinan akan memicu gunung lumpur baru di tempat yang sama atau berbeda.



Maka dari itu, fenomena gunung lumpur di Pulau Tanimbar, terdapat sekitar empat titik dan ada juga di Pulau Kabawa dan Pulau Mitak.

</content:encoded></item></channel></rss>
