<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dulunya Anak Desa yang Sering Dibully, Siapa Sangka Sosok Ini Jadi Danjen Kopassus hingga KSAD</title><description>Penunjukkan Subagyo itu mengejutkan banyak pihak. Betapa tidak, nama Subagyo jauh dari bursa calon Danjen Kopassus ketika itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/18/337/2748281/dulunya-anak-desa-yang-sering-dibully-siapa-sangka-sosok-ini-jadi-danjen-kopassus-hingga-ksad</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/01/18/337/2748281/dulunya-anak-desa-yang-sering-dibully-siapa-sangka-sosok-ini-jadi-danjen-kopassus-hingga-ksad"/><item><title>Dulunya Anak Desa yang Sering Dibully, Siapa Sangka Sosok Ini Jadi Danjen Kopassus hingga KSAD</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/18/337/2748281/dulunya-anak-desa-yang-sering-dibully-siapa-sangka-sosok-ini-jadi-danjen-kopassus-hingga-ksad</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/01/18/337/2748281/dulunya-anak-desa-yang-sering-dibully-siapa-sangka-sosok-ini-jadi-danjen-kopassus-hingga-ksad</guid><pubDate>Rabu 18 Januari 2023 07:24 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/18/337/2748281/dulunya-anak-desa-yang-sering-dibully-siapa-sangka-sosok-ini-jadi-danjen-kopassus-hingga-ksad-ypMpe50GmO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Subagyo HS/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/18/337/2748281/dulunya-anak-desa-yang-sering-dibully-siapa-sangka-sosok-ini-jadi-danjen-kopassus-hingga-ksad-ypMpe50GmO.jpg</image><title>Subagyo HS/Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA -  Subagyo HS merupakan salah satu prajurit Kopassus yang memiliki karier mentereng di dunia militer. Lahir di sebuah desa kecil, impiannya untuk menjadi seorang jenderal mendapat  ledekan dari teman-temannya.
Saat berkumpul dengan teman-teman lamanya itu, Subagyo menyampaikan sebuah impiannya yang wajar sebenarnya bagi semua prajurit terutama dari lulusan akademi militer, yakni ingin menjadi jenderal suatu saat nanti.
(Baca juga: Kisah Satu Peleton Kopassus Dibantu 'Hantu Putih' Pukul Mundur Ribuan Pemberontak)
&amp;ldquo;Mendengar itu (cita-cita Subagyo), rekan-rekannya spontan menanggapi dengan nada sinis dibarengi gelak tawa,&amp;rdquo; ujar Carmelia Sukmawati dalam buku &amp;rsquo;Subagyo HS Kasad dari Piyungan&amp;rsquo;, dikutip Rabu (18/1/2023).
Saat itu, teman-teman lamanya Subagyo HS tahu betul latar belakang serdadu berkumis lebat itu, dari mana berasal dan siapa orangtuanya. Sehingga, cita-cita seorang anak desa itu dianggap terlalu muluk oleh teman-teman lamanya.
Rosil, salah seorang teman Subagyo mengungkapkan bahwa tidak ada yang percaya dengan omongan Subagyo ketika itu. Rosil (kelak menjadi pengusaha di Yogyakarta) yang merupakan aktivis Muhammadiyah ini sahabat karib Subagyo sekaligus tempat bertanya mengenai hal-hal rohaniah.
&quot;Waktu itu Subagyo sudah sangat yakin dirinya akan bisa menjadi jenderal. Tapi teman-temannya tidak ada yang percaya. Bagaimana mungkin dia bisa mewujudkan impiannya itu, kami tahu latar belakangnya,&amp;rdquo; ungkapnya.
Subagyo HS lahir pada 12 Juni 1946 di Desa Piyungan, Kabupaten Bantul atau sekitar 15 kilometer arah timur Yogyakarta. Namanya saat lahir hanya Subagyo tanpa embel-embel Hadisiswoyo. Su berarti lebih, bagyo diartikan bahagia.

Dengan latar belakang itu, Subagyo merasa tersinggung ketika impiannya untuk menjadi jenderal ditertawakan kawan-kawannya. Sebab, awalnya dia berharap impiannya itu didukung dan didoakan kawan-kawannya.
Namun, Subagyo menjadikan itu sebagai motivasi untuk membuktikan impiannya tersebut bukanlah omong kosong.
&amp;ldquo;Sok, aku dadi bintang papat (besok, aku jadi bintang empat),&amp;rdquo; kata Bagyo, lulusan Akabri 1970 ini dalam hati. Memasuki Mei 1994 atau tiga windu mengabdi di militer, Kolonel Inf Subagyo mendapatkan promosi kenaikan pangkat. Bagyo tembus bintang satu alias brigadir jenderal (brigjen).

Hal itu sekaligus mencatatkan Bagyo sebagai lulusan pertama lichting 70 yang pecah bintang. Karier Subagyo makin bersinar. ABRI kembali melakukan mutasi besar-besaran pada akhir Agustus 1994.
Subagyo yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi Angkatan Darat (Kadispamad) tanpa diduga ditunjuk sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) atau orang nomor satu di Korps Baret Merah.
Penunjukkan Subagyo itu mengejutkan banyak pihak. Betapa tidak, nama Subagyo jauh dari bursa calon Danjen Kopassus ketika itu. Subagyo juga tak menyangka.
&amp;ldquo;Sewaktu masih kolonel dan menjadi Komandan Grup A Paswalpres (kini Paspampres), Subagyo mendukung Asisten Operasi Kopassus saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk menjadi Danjen Kopassus,&amp;rdquo; ujar Carmelita.
Pasalnya jika Luhut Pandjaitan menjadi Danjen Kopassus, dia berharap bisa menjadi salah satu Panglima Divisi Kostrad. Namun, yang terjadi tidak demikian. Luhut Pandjaitan adalah rekan seangkatan Subagyo di Akabri 70 sekaligus peraih Adhi Makayasa.

Subagyo menggantikan seniornya, Brigjen TNI Agum Gumelar. Menurut Bagyo, menduduki jabatan tertinggi di Kopassus tentu kebanggaan. Subagyo lahir dan besar di pasukan elite tersebut, meskipun pada tujuh tahun terakhir sebelum jadi danjen, dia berkarier di struktur lain mulai Paswalpres, Bais ABRI, dan Dispamad.

Subagyo menjabat Danjen Kopassus hanya setahun, periode 1994-1995. Kariernya pun terus naik. Subagyo menjabat Pangdam IV/Diponegoro pada periode 1995-1997. Kemudian, tentara dari Piyungan ini ditunjuk sebagai wakil KSAD pada pertengahan Juni 1997.


Subagyo mencapai puncak karier di kemiliteran pada 16 Februari 1998. Presiden Soeharto melantik Subagyo sebagai KSAD di Istana Negara, Jakarta. Subagyo menggantikan seniornya, Jenderal TNI Wiranto, yang ditunjuk sebagai Panglima TNI.
Impian tentara berjuluk Bima itu akhirnya terbukti. Subagyo benar-benar meraih empat bintang emas di pundaknya alias jenderal. Prajurit komando itu menjadi orang nomor satu di angkatan darat (AD) hingga 20 November 1999.

</description><content:encoded>JAKARTA -  Subagyo HS merupakan salah satu prajurit Kopassus yang memiliki karier mentereng di dunia militer. Lahir di sebuah desa kecil, impiannya untuk menjadi seorang jenderal mendapat  ledekan dari teman-temannya.
Saat berkumpul dengan teman-teman lamanya itu, Subagyo menyampaikan sebuah impiannya yang wajar sebenarnya bagi semua prajurit terutama dari lulusan akademi militer, yakni ingin menjadi jenderal suatu saat nanti.
(Baca juga: Kisah Satu Peleton Kopassus Dibantu 'Hantu Putih' Pukul Mundur Ribuan Pemberontak)
&amp;ldquo;Mendengar itu (cita-cita Subagyo), rekan-rekannya spontan menanggapi dengan nada sinis dibarengi gelak tawa,&amp;rdquo; ujar Carmelia Sukmawati dalam buku &amp;rsquo;Subagyo HS Kasad dari Piyungan&amp;rsquo;, dikutip Rabu (18/1/2023).
Saat itu, teman-teman lamanya Subagyo HS tahu betul latar belakang serdadu berkumis lebat itu, dari mana berasal dan siapa orangtuanya. Sehingga, cita-cita seorang anak desa itu dianggap terlalu muluk oleh teman-teman lamanya.
Rosil, salah seorang teman Subagyo mengungkapkan bahwa tidak ada yang percaya dengan omongan Subagyo ketika itu. Rosil (kelak menjadi pengusaha di Yogyakarta) yang merupakan aktivis Muhammadiyah ini sahabat karib Subagyo sekaligus tempat bertanya mengenai hal-hal rohaniah.
&quot;Waktu itu Subagyo sudah sangat yakin dirinya akan bisa menjadi jenderal. Tapi teman-temannya tidak ada yang percaya. Bagaimana mungkin dia bisa mewujudkan impiannya itu, kami tahu latar belakangnya,&amp;rdquo; ungkapnya.
Subagyo HS lahir pada 12 Juni 1946 di Desa Piyungan, Kabupaten Bantul atau sekitar 15 kilometer arah timur Yogyakarta. Namanya saat lahir hanya Subagyo tanpa embel-embel Hadisiswoyo. Su berarti lebih, bagyo diartikan bahagia.

Dengan latar belakang itu, Subagyo merasa tersinggung ketika impiannya untuk menjadi jenderal ditertawakan kawan-kawannya. Sebab, awalnya dia berharap impiannya itu didukung dan didoakan kawan-kawannya.
Namun, Subagyo menjadikan itu sebagai motivasi untuk membuktikan impiannya tersebut bukanlah omong kosong.
&amp;ldquo;Sok, aku dadi bintang papat (besok, aku jadi bintang empat),&amp;rdquo; kata Bagyo, lulusan Akabri 1970 ini dalam hati. Memasuki Mei 1994 atau tiga windu mengabdi di militer, Kolonel Inf Subagyo mendapatkan promosi kenaikan pangkat. Bagyo tembus bintang satu alias brigadir jenderal (brigjen).

Hal itu sekaligus mencatatkan Bagyo sebagai lulusan pertama lichting 70 yang pecah bintang. Karier Subagyo makin bersinar. ABRI kembali melakukan mutasi besar-besaran pada akhir Agustus 1994.
Subagyo yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi Angkatan Darat (Kadispamad) tanpa diduga ditunjuk sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) atau orang nomor satu di Korps Baret Merah.
Penunjukkan Subagyo itu mengejutkan banyak pihak. Betapa tidak, nama Subagyo jauh dari bursa calon Danjen Kopassus ketika itu. Subagyo juga tak menyangka.
&amp;ldquo;Sewaktu masih kolonel dan menjadi Komandan Grup A Paswalpres (kini Paspampres), Subagyo mendukung Asisten Operasi Kopassus saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk menjadi Danjen Kopassus,&amp;rdquo; ujar Carmelita.
Pasalnya jika Luhut Pandjaitan menjadi Danjen Kopassus, dia berharap bisa menjadi salah satu Panglima Divisi Kostrad. Namun, yang terjadi tidak demikian. Luhut Pandjaitan adalah rekan seangkatan Subagyo di Akabri 70 sekaligus peraih Adhi Makayasa.

Subagyo menggantikan seniornya, Brigjen TNI Agum Gumelar. Menurut Bagyo, menduduki jabatan tertinggi di Kopassus tentu kebanggaan. Subagyo lahir dan besar di pasukan elite tersebut, meskipun pada tujuh tahun terakhir sebelum jadi danjen, dia berkarier di struktur lain mulai Paswalpres, Bais ABRI, dan Dispamad.

Subagyo menjabat Danjen Kopassus hanya setahun, periode 1994-1995. Kariernya pun terus naik. Subagyo menjabat Pangdam IV/Diponegoro pada periode 1995-1997. Kemudian, tentara dari Piyungan ini ditunjuk sebagai wakil KSAD pada pertengahan Juni 1997.


Subagyo mencapai puncak karier di kemiliteran pada 16 Februari 1998. Presiden Soeharto melantik Subagyo sebagai KSAD di Istana Negara, Jakarta. Subagyo menggantikan seniornya, Jenderal TNI Wiranto, yang ditunjuk sebagai Panglima TNI.
Impian tentara berjuluk Bima itu akhirnya terbukti. Subagyo benar-benar meraih empat bintang emas di pundaknya alias jenderal. Prajurit komando itu menjadi orang nomor satu di angkatan darat (AD) hingga 20 November 1999.

</content:encoded></item></channel></rss>
