<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Dua Pusaka Sakti yang Buat Musuh Kerajaan Mataram Kalang-kabut   </title><description>Canang Ki Bicak dan keris Kiai Culik Mandaraka menjadi satu dari beberapa benda sakti yang dimiliki Mataram</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/22/337/2750953/dua-pusaka-sakti-yang-buat-musuh-kerajaan-mataram-kalang-kabut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/01/22/337/2750953/dua-pusaka-sakti-yang-buat-musuh-kerajaan-mataram-kalang-kabut"/><item><title> Dua Pusaka Sakti yang Buat Musuh Kerajaan Mataram Kalang-kabut   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/22/337/2750953/dua-pusaka-sakti-yang-buat-musuh-kerajaan-mataram-kalang-kabut</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/01/22/337/2750953/dua-pusaka-sakti-yang-buat-musuh-kerajaan-mataram-kalang-kabut</guid><pubDate>Minggu 22 Januari 2023 13:48 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/22/337/2750953/dua-pusaka-sakti-yang-buat-musuh-kerajaan-mataram-kalang-kabut-jfcoc7T5YP.png" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi perang kerajaan (foto: dok ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/22/337/2750953/dua-pusaka-sakti-yang-buat-musuh-kerajaan-mataram-kalang-kabut-jfcoc7T5YP.png</image><title>Illustrasi perang kerajaan (foto: dok ist)</title></images><description>SEJUMLAH benda sakti milik Kerajaan Mataram konon bisa membuat lawannya tak berkutik. Canang Ki Bicak dan keris Kiai Culik Mandaraka menjadi satu dari beberapa benda sakti yang dimiliki Mataram di bawah Raja Panembahan Senapati. Canang sendiri merupakan wadah atau tempat untuk menaruh sesajen atau bunga.

Bahkan dikisahkan kedua benda ini mampu membuat kocar-kacir pasukan Pajang dan Pati, di waktu yang berbeda. Benda-benda ini konon bisa mendatangkan gejolak alam yang membuat lawannya keder dan dipukul mundur.

Di Pemberontakan Pati, dikisahkan terjadi beberapa tahun sebelum Panembahan Senopati wafat. Konon saat itu, sang Adipati Pati meminta hak pengurusan atas semua tanah pedesaan di sebelah utara, sebagaimana dituliskan pada buku &quot;Awal Kebangkitan Mataram : Masa Pemerintahan Senapati&quot; dari H. J. De Graaf.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Skandal Terbesar di Era Mataram: Panembahan Senopati Tiduri Calon Istri Ayah Angkatnya
Sang Adipati meminta 100 mata tombak dengan batangnya kepada Raja Mataram. Senapati memberikan seluruh mata tombaknya, kecuali batang tombaknya. Sebab dikatakan Senopati, pemberian batang tombak berarti perang.

Namun upaya itu membuat Adipati Pati geram, ia pun mempersiapkan pasukan melintasi perbatasan dan menaklukkan semua penduduk desa di sebelah utara Pegunungan Kendeng. Semua menyerah, kecuali Demak, yang mempersenjatai diri di dalam lingkungan bentengnya.

Selanjutnya, Pati pun menghimpun pasukan dan menuju Mataram, untuk melakukan penyerangan. Perlu beberapa waktu bagi Adipati Pragola untuk menghimpun banyak prajurit yang disiapkan menyerang Mataram. Ia pun mengirimkan informasi ke Panembahan Senopati sebagai peringatan akan adanya penyerbuan ke wilayah yang dipimpin saudara sepupunya itu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Pembantaian Anak Bangsawan Buat Kerajaan Mataram dapat Serangan Dahsyat
Pangeran mahkota Mataram bergerak menuju Prambanan, tentara Pati menuju Kemalon, setelah beristirahat melanjutkan perjalanan. Sang raja Mataram, Panembahan Senopati pun turun langsung ke gelanggang perang, ia naik kuda dan sempat beristirahat di Prambanan.

Melewati tengah malam Sang Raja melanjutkan perjalanannya lagi. Di luar benteng pertahanan pasukan Pati di Dengkeng, pasukan Mataram berteriak - teriak, dan benda sakti canang Ki Bicak dipukul bertalu-talu. Sementara keris Kiai Culik Mandaraka berhasil mematahkan tiga batang pohon besar kelapa yang menjadi pagar benteng.

Senopati berhasil memasuki benteng pertahanan yang dibangun Adipati Pragola dengan mengendarai kudanya. Tak berselang lama entah dari mana, tiba-tiba banjir besar menerjang benteng pertahanan. Banjir arus lumpur layaknya banjir bandang meluap dari letusan Gunung Merapi.

Pasukan Pati pun berlarian menyelamatkan diri melihat fenomena alam yang terjadi. Sang pemimpin Adipati Pragola pun turut lari dan kembali ke Pati. Di Pati ia memanggil para bupati di sekitarnya, guna menyusun bala tentara tambahan. Sebab banyak tentara Pati yang tenggelam saat sungai meluap.</description><content:encoded>SEJUMLAH benda sakti milik Kerajaan Mataram konon bisa membuat lawannya tak berkutik. Canang Ki Bicak dan keris Kiai Culik Mandaraka menjadi satu dari beberapa benda sakti yang dimiliki Mataram di bawah Raja Panembahan Senapati. Canang sendiri merupakan wadah atau tempat untuk menaruh sesajen atau bunga.

Bahkan dikisahkan kedua benda ini mampu membuat kocar-kacir pasukan Pajang dan Pati, di waktu yang berbeda. Benda-benda ini konon bisa mendatangkan gejolak alam yang membuat lawannya keder dan dipukul mundur.

Di Pemberontakan Pati, dikisahkan terjadi beberapa tahun sebelum Panembahan Senopati wafat. Konon saat itu, sang Adipati Pati meminta hak pengurusan atas semua tanah pedesaan di sebelah utara, sebagaimana dituliskan pada buku &quot;Awal Kebangkitan Mataram : Masa Pemerintahan Senapati&quot; dari H. J. De Graaf.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Skandal Terbesar di Era Mataram: Panembahan Senopati Tiduri Calon Istri Ayah Angkatnya
Sang Adipati meminta 100 mata tombak dengan batangnya kepada Raja Mataram. Senapati memberikan seluruh mata tombaknya, kecuali batang tombaknya. Sebab dikatakan Senopati, pemberian batang tombak berarti perang.

Namun upaya itu membuat Adipati Pati geram, ia pun mempersiapkan pasukan melintasi perbatasan dan menaklukkan semua penduduk desa di sebelah utara Pegunungan Kendeng. Semua menyerah, kecuali Demak, yang mempersenjatai diri di dalam lingkungan bentengnya.

Selanjutnya, Pati pun menghimpun pasukan dan menuju Mataram, untuk melakukan penyerangan. Perlu beberapa waktu bagi Adipati Pragola untuk menghimpun banyak prajurit yang disiapkan menyerang Mataram. Ia pun mengirimkan informasi ke Panembahan Senopati sebagai peringatan akan adanya penyerbuan ke wilayah yang dipimpin saudara sepupunya itu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Pembantaian Anak Bangsawan Buat Kerajaan Mataram dapat Serangan Dahsyat
Pangeran mahkota Mataram bergerak menuju Prambanan, tentara Pati menuju Kemalon, setelah beristirahat melanjutkan perjalanan. Sang raja Mataram, Panembahan Senopati pun turun langsung ke gelanggang perang, ia naik kuda dan sempat beristirahat di Prambanan.

Melewati tengah malam Sang Raja melanjutkan perjalanannya lagi. Di luar benteng pertahanan pasukan Pati di Dengkeng, pasukan Mataram berteriak - teriak, dan benda sakti canang Ki Bicak dipukul bertalu-talu. Sementara keris Kiai Culik Mandaraka berhasil mematahkan tiga batang pohon besar kelapa yang menjadi pagar benteng.

Senopati berhasil memasuki benteng pertahanan yang dibangun Adipati Pragola dengan mengendarai kudanya. Tak berselang lama entah dari mana, tiba-tiba banjir besar menerjang benteng pertahanan. Banjir arus lumpur layaknya banjir bandang meluap dari letusan Gunung Merapi.

Pasukan Pati pun berlarian menyelamatkan diri melihat fenomena alam yang terjadi. Sang pemimpin Adipati Pragola pun turut lari dan kembali ke Pati. Di Pati ia memanggil para bupati di sekitarnya, guna menyusun bala tentara tambahan. Sebab banyak tentara Pati yang tenggelam saat sungai meluap.</content:encoded></item></channel></rss>
