<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Anggota Pasukan Elite yang Menolak Kenaikan Pangkat Usai Sikat KKB di Belantara Papua</title><description>Sebanyak 58 prajurit TNI mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/27/337/2753628/5-anggota-pasukan-elite-yang-menolak-kenaikan-pangkat-usai-sikat-kkb-di-belantara-papua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/01/27/337/2753628/5-anggota-pasukan-elite-yang-menolak-kenaikan-pangkat-usai-sikat-kkb-di-belantara-papua"/><item><title>5 Anggota Pasukan Elite yang Menolak Kenaikan Pangkat Usai Sikat KKB di Belantara Papua</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/01/27/337/2753628/5-anggota-pasukan-elite-yang-menolak-kenaikan-pangkat-usai-sikat-kkb-di-belantara-papua</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/01/27/337/2753628/5-anggota-pasukan-elite-yang-menolak-kenaikan-pangkat-usai-sikat-kkb-di-belantara-papua</guid><pubDate>Jum'at 27 Januari 2023 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Litbang MPI</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/01/26/337/2753628/5-anggota-pasukan-elite-yang-menolak-kenaikan-pangkat-usai-sikat-kkb-di-belantara-papua-l1gxVbGokJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: kopassus.mil.id</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/01/26/337/2753628/5-anggota-pasukan-elite-yang-menolak-kenaikan-pangkat-usai-sikat-kkb-di-belantara-papua-l1gxVbGokJ.jpg</image><title>Foto: kopassus.mil.id</title></images><description>JAKARTA - Kisah mengharukan datang dari Tembagapura, Papua, pada November 2017. Sebanyak 58 prajurit TNI mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa karena sudah berhasil membebaskan 1.300 masyarakat yang disandera KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) Papua.
Namun, dari puluhan prajurit tersebut, ada 5 orang yang enggan menerima kenaikan pangkat. Melansir data yang ada di laman resmi TNI, kelima prajurit tersebut adalah:
(Baca juga: Nostalgia Dua Komandan Pasukan Elite Digembleng Jenderal Kopassus saat Jadi Perisai Hidup Presiden)&amp;nbsp;
-Kapten Inf Sandra SP, berposisi sebagai Danki (Komandan Kompi) Intai Tempur
-Lettu Inf Shofa Amrin Fajrin, berposisi sebagai Komandan Bantuan Kompi Senapan B
-Lettu Inf Agung Damar P, berposisi sebagai Danunit (Komandan Unit) 2/1/1/13 Kopassus
-Lettu Inf Sukma Putra Aditya, berposisi sebagai Danunit 2 Bakduk 812 Sat-81 Kopassus
-Lettu Inf Akhmad Zainuddin, berposisi sebagai Danyon (Komandan Batalyon) Taipur 1/A

Menurut Panglima TNI yang kala itu menjabat, Jenderal Gatot Nurmantyo, kelimanya menolak menerima kenaikan pangkat karena menganggap dirinya tidak pantas menerima penghargaan tersebut. keberhasilan pembebasan tersebut, menurut mereka, merupakan keberhasilan anak-anak buahnya. Kelimanya menyampaikan sendiri penolakan tersebut kepada KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat), Jenderal Mulyono.

Para prajurit tersebut juga menambahkan bahwa memimpin operasi sudah menjadi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin. Di sisi lain, kelima prajurit tersebut juga mengaku siap bertanggung jawab jika operasi mengalami kegagalan.&amp;nbsp;
Gatot mengaku langsung terharu mendengar jawaban tersebut. Ia juga tetap memberikan apresiasi kepada 5 prajurit tersebut, meskipun mereka tidak ingin menerima penghargaan kenaikan pangkat.



Diketahui, operasi pembebasan sandera KKB ini dilakukan oleh aparat gabungan TNI-Polri. Satgas juga diisi oleh para prajurit berkualitas baik, terlatih, dan syarat akan pengalaman. Berberapa grup elite yang tergabung di dalamnya adalah Tontaipur (Peleton Pengintai Tempur), Kopassus, Batalyon 751/Raider Sentani, Batalypn 754/ENK Kodam XVII Cenderawasih, dan Kostrad.</description><content:encoded>JAKARTA - Kisah mengharukan datang dari Tembagapura, Papua, pada November 2017. Sebanyak 58 prajurit TNI mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa karena sudah berhasil membebaskan 1.300 masyarakat yang disandera KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) Papua.
Namun, dari puluhan prajurit tersebut, ada 5 orang yang enggan menerima kenaikan pangkat. Melansir data yang ada di laman resmi TNI, kelima prajurit tersebut adalah:
(Baca juga: Nostalgia Dua Komandan Pasukan Elite Digembleng Jenderal Kopassus saat Jadi Perisai Hidup Presiden)&amp;nbsp;
-Kapten Inf Sandra SP, berposisi sebagai Danki (Komandan Kompi) Intai Tempur
-Lettu Inf Shofa Amrin Fajrin, berposisi sebagai Komandan Bantuan Kompi Senapan B
-Lettu Inf Agung Damar P, berposisi sebagai Danunit (Komandan Unit) 2/1/1/13 Kopassus
-Lettu Inf Sukma Putra Aditya, berposisi sebagai Danunit 2 Bakduk 812 Sat-81 Kopassus
-Lettu Inf Akhmad Zainuddin, berposisi sebagai Danyon (Komandan Batalyon) Taipur 1/A

Menurut Panglima TNI yang kala itu menjabat, Jenderal Gatot Nurmantyo, kelimanya menolak menerima kenaikan pangkat karena menganggap dirinya tidak pantas menerima penghargaan tersebut. keberhasilan pembebasan tersebut, menurut mereka, merupakan keberhasilan anak-anak buahnya. Kelimanya menyampaikan sendiri penolakan tersebut kepada KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat), Jenderal Mulyono.

Para prajurit tersebut juga menambahkan bahwa memimpin operasi sudah menjadi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin. Di sisi lain, kelima prajurit tersebut juga mengaku siap bertanggung jawab jika operasi mengalami kegagalan.&amp;nbsp;
Gatot mengaku langsung terharu mendengar jawaban tersebut. Ia juga tetap memberikan apresiasi kepada 5 prajurit tersebut, meskipun mereka tidak ingin menerima penghargaan kenaikan pangkat.



Diketahui, operasi pembebasan sandera KKB ini dilakukan oleh aparat gabungan TNI-Polri. Satgas juga diisi oleh para prajurit berkualitas baik, terlatih, dan syarat akan pengalaman. Berberapa grup elite yang tergabung di dalamnya adalah Tontaipur (Peleton Pengintai Tempur), Kopassus, Batalyon 751/Raider Sentani, Batalypn 754/ENK Kodam XVII Cenderawasih, dan Kostrad.</content:encoded></item></channel></rss>
