<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Charlie Hebdo Kembali Berulah, Picu Kemarahan dengan Kartun Mengejek Bencana Gempa di Turki dan Suriah</title><description>Sebagian warganet menyebut kartun itu sebagai ujaran kebencian.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/02/09/18/2762003/charlie-hebdo-kembali-berulah-picu-kemarahan-dengan-kartun-mengejek-bencana-gempa-di-turki-dan-suriah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/02/09/18/2762003/charlie-hebdo-kembali-berulah-picu-kemarahan-dengan-kartun-mengejek-bencana-gempa-di-turki-dan-suriah"/><item><title>Charlie Hebdo Kembali Berulah, Picu Kemarahan dengan Kartun Mengejek Bencana Gempa di Turki dan Suriah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/02/09/18/2762003/charlie-hebdo-kembali-berulah-picu-kemarahan-dengan-kartun-mengejek-bencana-gempa-di-turki-dan-suriah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/02/09/18/2762003/charlie-hebdo-kembali-berulah-picu-kemarahan-dengan-kartun-mengejek-bencana-gempa-di-turki-dan-suriah</guid><pubDate>Kamis 09 Februari 2023 15:09 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/09/18/2762003/charlie-hebdo-kembali-berulah-picu-kemarahan-dengan-kartun-mengejek-bencana-gempa-di-turki-dan-suriah-fD8MhKe7kx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Twitter/Charlie Hebdo.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/09/18/2762003/charlie-hebdo-kembali-berulah-picu-kemarahan-dengan-kartun-mengejek-bencana-gempa-di-turki-dan-suriah-fD8MhKe7kx.jpg</image><title>Foto: Twitter/Charlie Hebdo.</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNS8wMS8wOC8xMC81ODI3NS8xLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
PARIS - Majalah satire Prancis Charlie Hebdo memicu kemarahan di media sosial setelah menerbitkan kartun yang menyoroti gempa berkekuatan M 7,8 yang menewaskan ribuan orang di Turki dan Suriah.
Kartun yang dibuat oleh seniman Pierrick Juin menunjukkan bangunan yang hampir rubuh di tengah tumpukan puing dengan tulisan: &amp;ldquo;Tidak perlu mengirim tank.&amp;rdquo;
BACA JUGA:&amp;nbsp;Charlie Hebdo Akan Terbitkan Kembali Kartun Nabi Muhammad dalam Edisi Khusus
Pengguna media sosial mengatakan kartun itu mengolok-olok tragedi yang berdampak pada jutaan orang di Turki dan Suriah, menyebut gambar itu &quot;menjijikkan&quot;, &quot;memalukan&quot;, &quot;menjijikkan&quot;, dan mirip dengan &quot;ujaran kebencian&quot;, demikian diwartakan Al Jazeera.
Seorang wanita bernama Sara Assaf menanggapi dengan mengatakan bahwa dia menarik dukungannya untuk majalah tersebut.
&amp;ldquo;Je ne suis plus Charlie&amp;rdquo; (Saya bukan lagi Charlie), tulisnya, mengacu pada slogan &amp;ldquo;Je suis Charlie&amp;rdquo; (Saya Charlie) yang diadopsi oleh pendukung Charlie Hebdo setelah serangan 7 Januari 2015 di kantor mereka.
Pada hari itu, dua bersaudara yang mengaku berafiliasi dengan Al-Qaeda melepaskan tembakan di kantor majalah satire Prancis tersebut di Paris, menewaskan 12 orang sebagai pembalasan atas penggambaran kartun Nabi Muhammad SAW dalam Islam.
BACA JUGA:&amp;nbsp;14 Orang Dinyatakan Bersalah Atas Serangan Charlie Hebdo 2015
Serangan itu memicu curahan solidaritas global dengan Prancis serta perdebatan tentang apa yang dimaksud dengan kebebasan berbicara.
&amp;ldquo;Kami bersamamu selama rasa sakitmu. Apa yang kita alami sekarang adalah bencana bagi umat manusia!&amp;rdquo; kata seorang pengguna, sebelum menambahkan: &quot;Tidak, ini bukan humor.&quot;

Cendekiawan Muslim Amerika Omar Suleiman berkata: &amp;ldquo;Mengejek kematian ribuan Muslim adalah puncak dari bagaimana Prancis telah merendahkan kita dalam segala hal.&amp;rdquo;
Beberapa pengguna mencatat bagaimana orang Turki telah melakukan pawai dukungan setelah serangan 2015, bersatu mendukung kampanye &quot;Je suis Charlie&quot;, hanya untuk dibalas dengan apa yang dianggap banyak orang sebagai cemoohan.
Seorang pengguna mengatakan kartun itu memamerkan &amp;ldquo;semangat asli&amp;rdquo; dari Charlie Hebdo, sementara yang lain mengatakan &amp;ldquo;satu-satunya sumber pendapatan untuk surat kabar ini adalah Islamofobia&amp;rdquo;.
Komik strip itu bahkan mendapat balasan dari Ibrahim Kalin, juru bicara kepresidenan Turki, yang menyebutnya sebagai &amp;ldquo;barbar&amp;rdquo; dalam tweetnya.
Beberapa pendukung Charlie Hebdo berusaha membela komik tersebut, menyebutnya sebagai &amp;ldquo;satire&amp;rdquo; dan membutuhkan &amp;ldquo;konteks&amp;rdquo;.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNS8wMS8wOC8xMC81ODI3NS8xLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
PARIS - Majalah satire Prancis Charlie Hebdo memicu kemarahan di media sosial setelah menerbitkan kartun yang menyoroti gempa berkekuatan M 7,8 yang menewaskan ribuan orang di Turki dan Suriah.
Kartun yang dibuat oleh seniman Pierrick Juin menunjukkan bangunan yang hampir rubuh di tengah tumpukan puing dengan tulisan: &amp;ldquo;Tidak perlu mengirim tank.&amp;rdquo;
BACA JUGA:&amp;nbsp;Charlie Hebdo Akan Terbitkan Kembali Kartun Nabi Muhammad dalam Edisi Khusus
Pengguna media sosial mengatakan kartun itu mengolok-olok tragedi yang berdampak pada jutaan orang di Turki dan Suriah, menyebut gambar itu &quot;menjijikkan&quot;, &quot;memalukan&quot;, &quot;menjijikkan&quot;, dan mirip dengan &quot;ujaran kebencian&quot;, demikian diwartakan Al Jazeera.
Seorang wanita bernama Sara Assaf menanggapi dengan mengatakan bahwa dia menarik dukungannya untuk majalah tersebut.
&amp;ldquo;Je ne suis plus Charlie&amp;rdquo; (Saya bukan lagi Charlie), tulisnya, mengacu pada slogan &amp;ldquo;Je suis Charlie&amp;rdquo; (Saya Charlie) yang diadopsi oleh pendukung Charlie Hebdo setelah serangan 7 Januari 2015 di kantor mereka.
Pada hari itu, dua bersaudara yang mengaku berafiliasi dengan Al-Qaeda melepaskan tembakan di kantor majalah satire Prancis tersebut di Paris, menewaskan 12 orang sebagai pembalasan atas penggambaran kartun Nabi Muhammad SAW dalam Islam.
BACA JUGA:&amp;nbsp;14 Orang Dinyatakan Bersalah Atas Serangan Charlie Hebdo 2015
Serangan itu memicu curahan solidaritas global dengan Prancis serta perdebatan tentang apa yang dimaksud dengan kebebasan berbicara.
&amp;ldquo;Kami bersamamu selama rasa sakitmu. Apa yang kita alami sekarang adalah bencana bagi umat manusia!&amp;rdquo; kata seorang pengguna, sebelum menambahkan: &quot;Tidak, ini bukan humor.&quot;

Cendekiawan Muslim Amerika Omar Suleiman berkata: &amp;ldquo;Mengejek kematian ribuan Muslim adalah puncak dari bagaimana Prancis telah merendahkan kita dalam segala hal.&amp;rdquo;
Beberapa pengguna mencatat bagaimana orang Turki telah melakukan pawai dukungan setelah serangan 2015, bersatu mendukung kampanye &quot;Je suis Charlie&quot;, hanya untuk dibalas dengan apa yang dianggap banyak orang sebagai cemoohan.
Seorang pengguna mengatakan kartun itu memamerkan &amp;ldquo;semangat asli&amp;rdquo; dari Charlie Hebdo, sementara yang lain mengatakan &amp;ldquo;satu-satunya sumber pendapatan untuk surat kabar ini adalah Islamofobia&amp;rdquo;.
Komik strip itu bahkan mendapat balasan dari Ibrahim Kalin, juru bicara kepresidenan Turki, yang menyebutnya sebagai &amp;ldquo;barbar&amp;rdquo; dalam tweetnya.
Beberapa pendukung Charlie Hebdo berusaha membela komik tersebut, menyebutnya sebagai &amp;ldquo;satire&amp;rdquo; dan membutuhkan &amp;ldquo;konteks&amp;rdquo;.</content:encoded></item></channel></rss>
