<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG: Gempa Susulan di Jayapura Lambat Laun Akan Berkurang dan Stabil</title><description>Kedalaman gempa relatif dangkal dan dekat dengan permukaan menyebabkan lebih rapuh dibandingkan dengan jenis gempa dalam.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/02/09/337/2762080/bmkg-gempa-susulan-di-jayapura-lambat-laun-akan-berkurang-dan-stabil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/02/09/337/2762080/bmkg-gempa-susulan-di-jayapura-lambat-laun-akan-berkurang-dan-stabil"/><item><title>BMKG: Gempa Susulan di Jayapura Lambat Laun Akan Berkurang dan Stabil</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/02/09/337/2762080/bmkg-gempa-susulan-di-jayapura-lambat-laun-akan-berkurang-dan-stabil</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/02/09/337/2762080/bmkg-gempa-susulan-di-jayapura-lambat-laun-akan-berkurang-dan-stabil</guid><pubDate>Kamis 09 Februari 2023 16:41 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/09/337/2762080/bmkg-gempa-susulan-di-jayapura-lambat-laun-akan-berkurang-dan-stabil-nbYraPPje6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gempa Jayapura (Foto: BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/09/337/2762080/bmkg-gempa-susulan-di-jayapura-lambat-laun-akan-berkurang-dan-stabil-nbYraPPje6.jpg</image><title>Gempa Jayapura (Foto: BNPB)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wOS8xLzE2MjM1Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa yang terjadi di Jayapura, Papua, lambat laun akan berkurang dan stabil. Gempa telah berlangsung sejak 2 Januari hingga 9 Februari 2023.
&amp;ldquo;Seperti kejadian-kejadian sebelumnya di tempat lain perulangan ini gempa-gempa susulan Ini lambat laun akan semakin berkurang dan akan menuju ke stabil,&amp;rdquo; kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa secara virtual, Kamis (9/2/2023).
Dwikorita menjelaskan bahwa kedalaman gempa yang berlangsung hari ini terjadi dengan lokasi relatif dangkal dan dekat dengan permukaan menyebabkan lebih rapuh dibandingkan dengan jenis gempa dalam.
&amp;ldquo;Jadi sekali lagi kita melihat kedalaman gempa bumi ini kan relatif dangkal 10 km, di mana pada kedalaman tersebut apa ya litifikasi atau pembentukan batuan itu tidak sekompak pada kedalaman yang puluhan kilometer atau ratusan kilometer,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Gempa M5,4 Guncang Jayapura, BMKG Imbau Warga Hindari Bangunan Retak Akibat Gempa
&amp;ldquo;Sehingga kondisi batuannya memang relatif di dekat permukaan ini relatif lebih rapuh dibandingkan yang dalam sehingga sangat-sangat mudah dengan pergerakan itu sangat-sangat mudah ini mengalami getaran-getaran tadi,&amp;rdquo; kata Dwikorita.
Selain itu, Dwikorita mengungkapkan bahwa zona patahan menjadi penyebab gempa Jayapura tidak hanya satu.
Baca juga:&amp;nbsp;Diguncang Gempa M5,4, Pasien RSUD Kota Jayapura Diungsikan ke Halaman&amp;ldquo;Selain itu zona patahan diduga tidak hanya satu zona ya. Sehingga pergerakan sebelumnya yang pernah terjadi itu dapat diduga berpengaruh, jadi sebelumnya kan patahnya turun, 2 Januari itu akibat sesar turun,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;ldquo;Sebelumnya sudah terjadi gempa pada tanggal 2 Januari dengan sebagai akibat pergerakan patahan turun. Sementara, ini sementara diduga pergerakan itu juga memicu pergerakan pada patahan di dekatnya di sekitarnya, semacam itu,&amp;rdquo; ungkapnya.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wOS8xLzE2MjM1Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa yang terjadi di Jayapura, Papua, lambat laun akan berkurang dan stabil. Gempa telah berlangsung sejak 2 Januari hingga 9 Februari 2023.
&amp;ldquo;Seperti kejadian-kejadian sebelumnya di tempat lain perulangan ini gempa-gempa susulan Ini lambat laun akan semakin berkurang dan akan menuju ke stabil,&amp;rdquo; kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa secara virtual, Kamis (9/2/2023).
Dwikorita menjelaskan bahwa kedalaman gempa yang berlangsung hari ini terjadi dengan lokasi relatif dangkal dan dekat dengan permukaan menyebabkan lebih rapuh dibandingkan dengan jenis gempa dalam.
&amp;ldquo;Jadi sekali lagi kita melihat kedalaman gempa bumi ini kan relatif dangkal 10 km, di mana pada kedalaman tersebut apa ya litifikasi atau pembentukan batuan itu tidak sekompak pada kedalaman yang puluhan kilometer atau ratusan kilometer,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Gempa M5,4 Guncang Jayapura, BMKG Imbau Warga Hindari Bangunan Retak Akibat Gempa
&amp;ldquo;Sehingga kondisi batuannya memang relatif di dekat permukaan ini relatif lebih rapuh dibandingkan yang dalam sehingga sangat-sangat mudah dengan pergerakan itu sangat-sangat mudah ini mengalami getaran-getaran tadi,&amp;rdquo; kata Dwikorita.
Selain itu, Dwikorita mengungkapkan bahwa zona patahan menjadi penyebab gempa Jayapura tidak hanya satu.
Baca juga:&amp;nbsp;Diguncang Gempa M5,4, Pasien RSUD Kota Jayapura Diungsikan ke Halaman&amp;ldquo;Selain itu zona patahan diduga tidak hanya satu zona ya. Sehingga pergerakan sebelumnya yang pernah terjadi itu dapat diduga berpengaruh, jadi sebelumnya kan patahnya turun, 2 Januari itu akibat sesar turun,&amp;rdquo; kata dia.
&amp;ldquo;Sebelumnya sudah terjadi gempa pada tanggal 2 Januari dengan sebagai akibat pergerakan patahan turun. Sementara, ini sementara diduga pergerakan itu juga memicu pergerakan pada patahan di dekatnya di sekitarnya, semacam itu,&amp;rdquo; ungkapnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
