<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lulusan Terbaik Akmil, Jenderal Ini Ternyata Dulu Sering Jualan Kue Cucur di Tebet</title><description>Semasa kecil, ia sudah terbiasa untuk pantang menyerah. Ia hidup di kalangan keluarga sederhana.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/02/27/337/2771778/lulusan-terbaik-akmil-jenderal-ini-ternyata-dulu-sering-jualan-kue-cucur-di-tebet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/02/27/337/2771778/lulusan-terbaik-akmil-jenderal-ini-ternyata-dulu-sering-jualan-kue-cucur-di-tebet"/><item><title>Lulusan Terbaik Akmil, Jenderal Ini Ternyata Dulu Sering Jualan Kue Cucur di Tebet</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/02/27/337/2771778/lulusan-terbaik-akmil-jenderal-ini-ternyata-dulu-sering-jualan-kue-cucur-di-tebet</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/02/27/337/2771778/lulusan-terbaik-akmil-jenderal-ini-ternyata-dulu-sering-jualan-kue-cucur-di-tebet</guid><pubDate>Senin 27 Februari 2023 06:25 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/02/27/337/2771778/lulusan-terbaik-akmil-jenderal-ini-ternyata-dulu-sering-jualan-kue-cucur-di-tebet-PeDx7uLiwn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jenderal Purn Budiman (Foto: Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/02/27/337/2771778/lulusan-terbaik-akmil-jenderal-ini-ternyata-dulu-sering-jualan-kue-cucur-di-tebet-PeDx7uLiwn.jpg</image><title>Jenderal Purn Budiman (Foto: Sindonews)</title></images><description>JAKARTA - Jenderal TNI (Purn) Budiman, perjalanan hidupnya penuh perjuangan. Semasa kecil, ia sudah terbiasa untuk pantang menyerah. Ia hidup di kalangan keluarga sederhana.
Budiman lahir pada Selasa Pon, 25 September 1956 dari seorang ayah bernama Sadeli Sunyoto, guru SD yang kemudian kariernya meningkat jadi Kepala SDN Kebon Manggis 01 Matraman, Jakarta Timur. Sementara ibunya, Titin Sumartini hanya seorang ibu rumah tangga.
BACA JUGA: 3 Jenderal TNI Lulusan Akmil Tahun 70-an yang Punya Karir Mentereng&amp;nbsp;
Sang ayah harus menutupi kebutuhan keluarga dengan berjualan soto untuk menutupi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Ibunya pun tak tinggal diam, ia berjualan aneka panganan mulai bubur kacang hijau, kue cucur, comro, singkong goreng, dan lainnya.
Pahit getirnya kehidupan dirasakan Budi kala itu. Bahkan, dirinya juga pernah mengisi hari-harinya dengan berjualan kue cucur di Tebet, Jakarta Selatan. Itu ia lakoni sejak menginjak kelas 1 SD.
&amp;ldquo;Sejak kelas 1-4 SD, saya bagian yang menjual mulai jam 05.00-06.00 WIB. Kalau nggak laku, saya jual di sekolah,&amp;rdquo; ujar Budiman dalam buku biografi berjudul &amp;lsquo;Jenderal TNI Budiman, Kasad Peduli Kesejahteraan Prajurit&amp;rsquo; yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, dikutip Sindonews, Minggu 26 Februari 2023.
BACA JUGA: 2 Jenderal Polri/TNI Asal Banten, Jadi Ketua KPK hingga Terjerat Kasus Penggelapan&amp;nbsp;
Tempat tinggal keluarga Budi juga sangat sederhana. Mereka tinggal di perkampungan padat penduduk di Kampung Bali Matraman. Saat lulus SD pada 1968, Budi bersama orangtuanya menempati rumah baru di Jalan Slamet Riyadi II/7B.
Mirisnya, rumah itu sebetulnya bekas bangunan WC sekolah. Setelah dirobohkan dibangun bangunan baru. Lantaran dibikin dengan bahan seadanya dan terburu-buru, ada bagian-bagian yang sekadar ditempel triplek bekas.

Saat panas menyengat, triplek itu ada yang melengkung sehingga membuat celah di dinding. &amp;ldquo;Jika malam hari, angin dari luar masuk sehingga Budi dan saudara-saudaranya kedinginan,&amp;rdquo; tulis Disjarahad.

Kehidup Budi yang dikenal jenderal TNI AD bintang empat dengan sederet prestasi. Bahkan, Lulusan terbaik Akademi Militer 1978 dan pernah dipercaya sebagai KSAD itu ternyata juga memiliki warna-warni kehidupan.

Selepas SD, Budi mengenyam pendidikan di SMP L (50) Jakarta, kemudian melanjutkan ke SMAN 8 Jakarta. Saat di kelas dua, dia masuk penjurusan Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam (Paspal). Selama di sekolah, Budi aktif di OSIS dan berbagai kegiatan lain seperti pentas seni di radio serta televisi.

Lokasi SMAN 8 di Bukit Duri termasuk daerah yang kerap kebanjiran. Kondisi tersebut ternyata memengaruhi karakter siswa, sehingga mereka terbiasa untuk saling menolong dan tidak sombong.

&amp;ldquo;Masa-masa di SMP dan SMA telah membentuk karakter saya. Selain pendidikan formal, sekolah juga telah memberikan pendidikan budi pekerti sebagai bekal saya hingga kini,&amp;rdquo; kata anak ke-2 dari sembilan bersaudara ini.


Budi pun memutuskan berkarier sebagai tentara saat lulus SMA. Keputusan itu diambil Budi mengingat ayahnya berpesan, hanya mampu mengantar pendidikan hingga SMA. Jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan, maka anak anaknya diminta mencari beasiswa.

Dirinya pun memberanikan diri untuk mengikuti seleksi Akabri Darat, sekarang Akmil di Kodam Jaya pada 1974. Setelah melewati tes, ia dinyatakan lolos untuk menuju Lembah Tidar, Magelang.

Sama halnya seperti calon prajurit pada umumnya, Budi melewati hari-hari yang berat. Hingga akhirnya, Budi lulus dan resmi dilantik sebagai Letnan Dua pada 1978. Bahkan, dirinya menyandang predikat prestisius: lulusan terbaik alias peraih lencana Adhi Makayasa-Tri Sakti Wiratama!

Budi merupakan sosok yang cerdas, tak heran dirinya kerap menggondol titel juara 1 selama pendidikan Taruna mulai tingkat I hingga IV. Ketika pendidikan Zeni di Amerika Sertikat, dia hanya kalah dari serdadu Israel hingga menjadi terbaik II.

Kecerdasannya bukan rahasia di kalangan orang yang mengenalnya. Bahkan, Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo pernah mendeskripsikan kepandaian Budi. &amp;ldquo;Ketika orang mati-matian belajar saat mau ujian, Budiman biasanya justru santai-santai saja dan bahkan sibuk mengajarkan teman-temannya menghadapi ujian,&amp;rdquo; kata Suryo dalam wawancara dengan tim Disjarahad.


Karier pendidikan kemiliterannya sangat cemerlang, bahkan dalam sejarah TNI, hanya segelintir tentara yang mampu mencetak hat-trick (tiga beruntun) sebagai lulusan terbaik di semua pendidikan TNI.

Budiman menjadi orang pertama. Ia tercatat menjadi lulusan terbaik Akmil 1978. Prestasi tersebut kembali diulangi ketika dirinya mengikuti pendidikan Seskoad. Dirinya menjadi lulusan terbaik pada 1994.

Saat mengikuti pendidikan Sesko TNI, mantan Pangdam IV/Diponegoro itu kembali menyabet gelar lulusan terbaik. Dirinya pun mendapat anugerah lencana Wira Adi Nugraha.

Profil Jenderal TNI (Purn) Budiman, ia pernah menjadi KSAD ke-29 (30 Agustus 2013-25 Juli 2014). Sebelumnya di antaranya pernah menjabat Danton Yonzipur 3 Kodam III/Siliwangi (1979); Koorspri KSAD (1998); Danrem 061/Surya Kencana; Kodam III/Siliwangi (2003).

Kemudian, Pangdam IV/Diponegoro (2009); Dankodiklat TNI AD (2010); Wakil KSAD (2011); Sekjen Kemhan (2013); KSAD (2013-2014). Sementara pendidikannya, Akademi Militer 1978 (Adhi Makayasa-Tri Sakti Wiratama), Seskoad 1994 (lulusan terbaik), Sesko TNI 2001 (lulusan terbaik).
</description><content:encoded>JAKARTA - Jenderal TNI (Purn) Budiman, perjalanan hidupnya penuh perjuangan. Semasa kecil, ia sudah terbiasa untuk pantang menyerah. Ia hidup di kalangan keluarga sederhana.
Budiman lahir pada Selasa Pon, 25 September 1956 dari seorang ayah bernama Sadeli Sunyoto, guru SD yang kemudian kariernya meningkat jadi Kepala SDN Kebon Manggis 01 Matraman, Jakarta Timur. Sementara ibunya, Titin Sumartini hanya seorang ibu rumah tangga.
BACA JUGA: 3 Jenderal TNI Lulusan Akmil Tahun 70-an yang Punya Karir Mentereng&amp;nbsp;
Sang ayah harus menutupi kebutuhan keluarga dengan berjualan soto untuk menutupi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Ibunya pun tak tinggal diam, ia berjualan aneka panganan mulai bubur kacang hijau, kue cucur, comro, singkong goreng, dan lainnya.
Pahit getirnya kehidupan dirasakan Budi kala itu. Bahkan, dirinya juga pernah mengisi hari-harinya dengan berjualan kue cucur di Tebet, Jakarta Selatan. Itu ia lakoni sejak menginjak kelas 1 SD.
&amp;ldquo;Sejak kelas 1-4 SD, saya bagian yang menjual mulai jam 05.00-06.00 WIB. Kalau nggak laku, saya jual di sekolah,&amp;rdquo; ujar Budiman dalam buku biografi berjudul &amp;lsquo;Jenderal TNI Budiman, Kasad Peduli Kesejahteraan Prajurit&amp;rsquo; yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, dikutip Sindonews, Minggu 26 Februari 2023.
BACA JUGA: 2 Jenderal Polri/TNI Asal Banten, Jadi Ketua KPK hingga Terjerat Kasus Penggelapan&amp;nbsp;
Tempat tinggal keluarga Budi juga sangat sederhana. Mereka tinggal di perkampungan padat penduduk di Kampung Bali Matraman. Saat lulus SD pada 1968, Budi bersama orangtuanya menempati rumah baru di Jalan Slamet Riyadi II/7B.
Mirisnya, rumah itu sebetulnya bekas bangunan WC sekolah. Setelah dirobohkan dibangun bangunan baru. Lantaran dibikin dengan bahan seadanya dan terburu-buru, ada bagian-bagian yang sekadar ditempel triplek bekas.

Saat panas menyengat, triplek itu ada yang melengkung sehingga membuat celah di dinding. &amp;ldquo;Jika malam hari, angin dari luar masuk sehingga Budi dan saudara-saudaranya kedinginan,&amp;rdquo; tulis Disjarahad.

Kehidup Budi yang dikenal jenderal TNI AD bintang empat dengan sederet prestasi. Bahkan, Lulusan terbaik Akademi Militer 1978 dan pernah dipercaya sebagai KSAD itu ternyata juga memiliki warna-warni kehidupan.

Selepas SD, Budi mengenyam pendidikan di SMP L (50) Jakarta, kemudian melanjutkan ke SMAN 8 Jakarta. Saat di kelas dua, dia masuk penjurusan Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam (Paspal). Selama di sekolah, Budi aktif di OSIS dan berbagai kegiatan lain seperti pentas seni di radio serta televisi.

Lokasi SMAN 8 di Bukit Duri termasuk daerah yang kerap kebanjiran. Kondisi tersebut ternyata memengaruhi karakter siswa, sehingga mereka terbiasa untuk saling menolong dan tidak sombong.

&amp;ldquo;Masa-masa di SMP dan SMA telah membentuk karakter saya. Selain pendidikan formal, sekolah juga telah memberikan pendidikan budi pekerti sebagai bekal saya hingga kini,&amp;rdquo; kata anak ke-2 dari sembilan bersaudara ini.


Budi pun memutuskan berkarier sebagai tentara saat lulus SMA. Keputusan itu diambil Budi mengingat ayahnya berpesan, hanya mampu mengantar pendidikan hingga SMA. Jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan, maka anak anaknya diminta mencari beasiswa.

Dirinya pun memberanikan diri untuk mengikuti seleksi Akabri Darat, sekarang Akmil di Kodam Jaya pada 1974. Setelah melewati tes, ia dinyatakan lolos untuk menuju Lembah Tidar, Magelang.

Sama halnya seperti calon prajurit pada umumnya, Budi melewati hari-hari yang berat. Hingga akhirnya, Budi lulus dan resmi dilantik sebagai Letnan Dua pada 1978. Bahkan, dirinya menyandang predikat prestisius: lulusan terbaik alias peraih lencana Adhi Makayasa-Tri Sakti Wiratama!

Budi merupakan sosok yang cerdas, tak heran dirinya kerap menggondol titel juara 1 selama pendidikan Taruna mulai tingkat I hingga IV. Ketika pendidikan Zeni di Amerika Sertikat, dia hanya kalah dari serdadu Israel hingga menjadi terbaik II.

Kecerdasannya bukan rahasia di kalangan orang yang mengenalnya. Bahkan, Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo pernah mendeskripsikan kepandaian Budi. &amp;ldquo;Ketika orang mati-matian belajar saat mau ujian, Budiman biasanya justru santai-santai saja dan bahkan sibuk mengajarkan teman-temannya menghadapi ujian,&amp;rdquo; kata Suryo dalam wawancara dengan tim Disjarahad.


Karier pendidikan kemiliterannya sangat cemerlang, bahkan dalam sejarah TNI, hanya segelintir tentara yang mampu mencetak hat-trick (tiga beruntun) sebagai lulusan terbaik di semua pendidikan TNI.

Budiman menjadi orang pertama. Ia tercatat menjadi lulusan terbaik Akmil 1978. Prestasi tersebut kembali diulangi ketika dirinya mengikuti pendidikan Seskoad. Dirinya menjadi lulusan terbaik pada 1994.

Saat mengikuti pendidikan Sesko TNI, mantan Pangdam IV/Diponegoro itu kembali menyabet gelar lulusan terbaik. Dirinya pun mendapat anugerah lencana Wira Adi Nugraha.

Profil Jenderal TNI (Purn) Budiman, ia pernah menjadi KSAD ke-29 (30 Agustus 2013-25 Juli 2014). Sebelumnya di antaranya pernah menjabat Danton Yonzipur 3 Kodam III/Siliwangi (1979); Koorspri KSAD (1998); Danrem 061/Surya Kencana; Kodam III/Siliwangi (2003).

Kemudian, Pangdam IV/Diponegoro (2009); Dankodiklat TNI AD (2010); Wakil KSAD (2011); Sekjen Kemhan (2013); KSAD (2013-2014). Sementara pendidikannya, Akademi Militer 1978 (Adhi Makayasa-Tri Sakti Wiratama), Seskoad 1994 (lulusan terbaik), Sesko TNI 2001 (lulusan terbaik).
</content:encoded></item></channel></rss>
