<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Jenderal TNI, Waktu Kecil Kerap Dorong Sepeda Soeharto saat Lewati Tanjakan</title><description>Saat kecil, dirinya kerap mendorong sepeda yang dinaiki Soeharto saat melewati tanjakan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2775937/kisah-jenderal-tni-waktu-kecil-kerap-dorong-sepeda-soeharto-saat-lewati-tanjakan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2775937/kisah-jenderal-tni-waktu-kecil-kerap-dorong-sepeda-soeharto-saat-lewati-tanjakan"/><item><title>Kisah Jenderal TNI, Waktu Kecil Kerap Dorong Sepeda Soeharto saat Lewati Tanjakan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2775937/kisah-jenderal-tni-waktu-kecil-kerap-dorong-sepeda-soeharto-saat-lewati-tanjakan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2775937/kisah-jenderal-tni-waktu-kecil-kerap-dorong-sepeda-soeharto-saat-lewati-tanjakan</guid><pubDate>Senin 06 Maret 2023 08:30 WIB</pubDate><dc:creator>Abdul Malik Mubarok</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/06/337/2775937/kisah-jenderal-tni-waktu-kecil-kerap-dorong-sepeda-soeharto-saat-lewati-tanjakan-EcnpZMMYwR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mayjen (Purn) Syaukat Banjarsari, Sesmilpres 1989-1993 (Foto: Buku Pak Harto The Untold Stories)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/06/337/2775937/kisah-jenderal-tni-waktu-kecil-kerap-dorong-sepeda-soeharto-saat-lewati-tanjakan-EcnpZMMYwR.jpg</image><title>Mayjen (Purn) Syaukat Banjarsari, Sesmilpres 1989-1993 (Foto: Buku Pak Harto The Untold Stories)</title></images><description>JAKARTA - Mayor Jenderal (Purn) TNI Syaukat Banjaransari, Sekretaris Militer Presiden tahun 1989-1993 memiliki pengalaman tak terlupakan. Saat kecil, dirinya kerap mendorong sepeda yang dinaiki Soeharto saat melewati tanjakan.
Syaukat kecil merupakan tetangga Soeharto ketika tinggal di Jalan Merbabu Kota Yogyakarta. Rumah Syaukat nomor 5, sedangkan Soeharto tinggal di rumah nomor. Peristiwa tak terlupakan itu terjadi pada 1948 saat Syaukat masih berusia 12 tahun. Saat Syaukat sedang asyik mengasah grip atau alat tulis di zaman itu di tepi jalan yang lokasinya tak jauh dari sekolah.
BACA JUGA:5 Kasus Pembunuhan Sadis di Indonesia yang Korbannya Dicor Semen&amp;nbsp;
Kemudian, melintas Soeharto naik sepeda. Karena jalannya menanjak, Soeharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) TNI meminta tolong kepada Syaukat untuk mendorongnya.
&quot;Ayo surung le, surung (ayo dorong nak, dorong),&quot; kata Soeharto seperti dituturkan Syaukat dalam buku Pak Harto The Untold Stories dikutip.
Syaukat kecil dengan sigap langsung mendorong sepeda yang dinaiki Soeharto hingga puncak jalan. &quot;Kesuwun, le (terima kasih, nak),&quot; ucap Soeharto sambil meluncur di turunan jalan.
BACA JUGA:Kisah Jenderal Kopassus Keturunan Tionghoa Tumpas Teroris Pembajak Pesawat&amp;nbsp;
Syaukat kerap membantu Soeharto mendorong sepeda. Setiap ada kesempatan, ia melakukannya dengan riang membantu tentara muda itu sampai ke ujung tanjakan. Tak disangka, Syaukat mengikuti jejak Soeharto menjadi tentara. Ia melanjutkan pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) yang waktu itu baru dibuka di Magelang setelah lulus dari SMAN 3 Padmanaba, Yogyakarta pada 1957.
Karier Syaukat pun menanjak hingga masuk dalam lingkaran terdekat Presiden Soeharto dan ditunjuk menjadi Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) pada 1989 dan mengemban jabatan tersebut sampai 1993. &quot;Oh, itu kamu to,&quot; kata Soeharto kepada Syaukat yang menceritakan peristiwa mendorong sepeda di tanjakan di masa silam.

&quot;Iya, Pak. Sampai sekarang saya juga masih nyurung-nyurung (mendorong-dorong) Bapak,&quot; timpal Syaukat sambil bercanda.

&quot;Ah, kamu bisa saja, Syaukat,&quot; kata Pak Harto tersenyum.

Sebelum menjabat Sesmilpres, Syaukat menjadi Atase Pertahanan RI di India dan Sri Lanka. Syaukat bersama staf kedutaan yang menyiapkan segala keperluan Presiden Soeharto yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Sri Lanka dan India. Kinerja Syaukat ternyata membuat Sesmilpres Marsekal Udara Kardono terkesan, hingga saat ada peralihan tugas, Kardono meminta kepada Asintel Hankam Benny Moerdani untuk memilih Syaukat sebagai Kepala Biro Keamanan Presiden.

&quot;Tahun 1981 saya yang waktu itu berpangkat Kolonel Infanteri dipanggil pulang untuk jabatan itu. Lima tahun kemudian saya berpangkat Mayor Jenderal TNI dan menjadi Sekretaris Militer Presiden,&quot; kata Syaukat.

Di awal menjabat Sesmilpres, pesan Presiden Soeharto kepada dirinya masih diingat betul. Kata Soeharto, Sesmilpres bertugas menjadi penghubung antara Presiden dan pimpinan ABRI. Sesmilpres harus bisa membuat pekerjaan presiden di bidang hankam lebih mudah. &quot;Kamu bekerjalah dengan sederhana. Yang bisa disederhanakan jadikan sederhana jangan dibikin rumit, jangan dibikin mewah,&quot; kata Pak Harto Jenderal TNI kelahiran Yogyakarta 1936 itu.

Syaukat pernah tiba-tiba dipanggil Soeharto di Bina Graha saat hendak berangkat ke Duri, Riau untuk mengecek persiapan acara peresmian injeksi bumi di lapangan minyak, Duri. Presiden meminta kepada Syaukat untuk menanyakan kepada panitia di Riau besaran biaya yang dikeluarkan untuk menghadirkan dirinya. Salah satu tugas Sesmilpres memang melakukan survei lapangan yang akan dihadiri Presiden Soeharto.

&quot;Saya dengar, untuk mendatangkan saya kok menghabiskan biaya mahal sekali sampai bermiliar-miliar,&quot; kata Soeharto.

Terbanglah Syaukat ke Riau dan menemui gubernur. Ia menanyakan biaya yang dikeluarkan untuk menghadirkan presiden sebagaimana perintah Soeharto. Bahkan, Syaukat bertekad tak akan kembali ke Jakarta sebelum mengetahui besaran biaya yang dianggarkan.

Syaukat pun mendapatkan rincian anggaran dan menganggap biayanya terlalu mahal. Dengan meyakinkan gubernur dan panitia, anggaran bisa ditekan dari semula Rp3 miliar menjadi Rp1,5 miliar. Di antaranya menghilangkan anggaran untuk membongkar sumur-sumur angguk untuk dibangun helipad. Soeharto pun tetap hadir ke peresmian setelah menerima rincian anggaran. Namun, Soeharto menulis disposisi kepada Syaukat. &quot;Lain kali tidak lagi,&quot; tulis Soeharto.</description><content:encoded>JAKARTA - Mayor Jenderal (Purn) TNI Syaukat Banjaransari, Sekretaris Militer Presiden tahun 1989-1993 memiliki pengalaman tak terlupakan. Saat kecil, dirinya kerap mendorong sepeda yang dinaiki Soeharto saat melewati tanjakan.
Syaukat kecil merupakan tetangga Soeharto ketika tinggal di Jalan Merbabu Kota Yogyakarta. Rumah Syaukat nomor 5, sedangkan Soeharto tinggal di rumah nomor. Peristiwa tak terlupakan itu terjadi pada 1948 saat Syaukat masih berusia 12 tahun. Saat Syaukat sedang asyik mengasah grip atau alat tulis di zaman itu di tepi jalan yang lokasinya tak jauh dari sekolah.
BACA JUGA:5 Kasus Pembunuhan Sadis di Indonesia yang Korbannya Dicor Semen&amp;nbsp;
Kemudian, melintas Soeharto naik sepeda. Karena jalannya menanjak, Soeharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) TNI meminta tolong kepada Syaukat untuk mendorongnya.
&quot;Ayo surung le, surung (ayo dorong nak, dorong),&quot; kata Soeharto seperti dituturkan Syaukat dalam buku Pak Harto The Untold Stories dikutip.
Syaukat kecil dengan sigap langsung mendorong sepeda yang dinaiki Soeharto hingga puncak jalan. &quot;Kesuwun, le (terima kasih, nak),&quot; ucap Soeharto sambil meluncur di turunan jalan.
BACA JUGA:Kisah Jenderal Kopassus Keturunan Tionghoa Tumpas Teroris Pembajak Pesawat&amp;nbsp;
Syaukat kerap membantu Soeharto mendorong sepeda. Setiap ada kesempatan, ia melakukannya dengan riang membantu tentara muda itu sampai ke ujung tanjakan. Tak disangka, Syaukat mengikuti jejak Soeharto menjadi tentara. Ia melanjutkan pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) yang waktu itu baru dibuka di Magelang setelah lulus dari SMAN 3 Padmanaba, Yogyakarta pada 1957.
Karier Syaukat pun menanjak hingga masuk dalam lingkaran terdekat Presiden Soeharto dan ditunjuk menjadi Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) pada 1989 dan mengemban jabatan tersebut sampai 1993. &quot;Oh, itu kamu to,&quot; kata Soeharto kepada Syaukat yang menceritakan peristiwa mendorong sepeda di tanjakan di masa silam.

&quot;Iya, Pak. Sampai sekarang saya juga masih nyurung-nyurung (mendorong-dorong) Bapak,&quot; timpal Syaukat sambil bercanda.

&quot;Ah, kamu bisa saja, Syaukat,&quot; kata Pak Harto tersenyum.

Sebelum menjabat Sesmilpres, Syaukat menjadi Atase Pertahanan RI di India dan Sri Lanka. Syaukat bersama staf kedutaan yang menyiapkan segala keperluan Presiden Soeharto yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Sri Lanka dan India. Kinerja Syaukat ternyata membuat Sesmilpres Marsekal Udara Kardono terkesan, hingga saat ada peralihan tugas, Kardono meminta kepada Asintel Hankam Benny Moerdani untuk memilih Syaukat sebagai Kepala Biro Keamanan Presiden.

&quot;Tahun 1981 saya yang waktu itu berpangkat Kolonel Infanteri dipanggil pulang untuk jabatan itu. Lima tahun kemudian saya berpangkat Mayor Jenderal TNI dan menjadi Sekretaris Militer Presiden,&quot; kata Syaukat.

Di awal menjabat Sesmilpres, pesan Presiden Soeharto kepada dirinya masih diingat betul. Kata Soeharto, Sesmilpres bertugas menjadi penghubung antara Presiden dan pimpinan ABRI. Sesmilpres harus bisa membuat pekerjaan presiden di bidang hankam lebih mudah. &quot;Kamu bekerjalah dengan sederhana. Yang bisa disederhanakan jadikan sederhana jangan dibikin rumit, jangan dibikin mewah,&quot; kata Pak Harto Jenderal TNI kelahiran Yogyakarta 1936 itu.

Syaukat pernah tiba-tiba dipanggil Soeharto di Bina Graha saat hendak berangkat ke Duri, Riau untuk mengecek persiapan acara peresmian injeksi bumi di lapangan minyak, Duri. Presiden meminta kepada Syaukat untuk menanyakan kepada panitia di Riau besaran biaya yang dikeluarkan untuk menghadirkan dirinya. Salah satu tugas Sesmilpres memang melakukan survei lapangan yang akan dihadiri Presiden Soeharto.

&quot;Saya dengar, untuk mendatangkan saya kok menghabiskan biaya mahal sekali sampai bermiliar-miliar,&quot; kata Soeharto.

Terbanglah Syaukat ke Riau dan menemui gubernur. Ia menanyakan biaya yang dikeluarkan untuk menghadirkan presiden sebagaimana perintah Soeharto. Bahkan, Syaukat bertekad tak akan kembali ke Jakarta sebelum mengetahui besaran biaya yang dianggarkan.

Syaukat pun mendapatkan rincian anggaran dan menganggap biayanya terlalu mahal. Dengan meyakinkan gubernur dan panitia, anggaran bisa ditekan dari semula Rp3 miliar menjadi Rp1,5 miliar. Di antaranya menghilangkan anggaran untuk membongkar sumur-sumur angguk untuk dibangun helipad. Soeharto pun tetap hadir ke peresmian setelah menerima rincian anggaran. Namun, Soeharto menulis disposisi kepada Syaukat. &quot;Lain kali tidak lagi,&quot; tulis Soeharto.</content:encoded></item></channel></rss>
