<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Sebut Dunia Lebih Takut Perubahan Iklim Dibanding Perang, Bagaimana Menyikapinya?</title><description>Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa yang kini ditakuti oleh semua negara adalah perubahan iklim</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2776402/jokowi-sebut-dunia-lebih-takut-perubahan-iklim-dibanding-perang-bagaimana-menyikapinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2776402/jokowi-sebut-dunia-lebih-takut-perubahan-iklim-dibanding-perang-bagaimana-menyikapinya"/><item><title>Jokowi Sebut Dunia Lebih Takut Perubahan Iklim Dibanding Perang, Bagaimana Menyikapinya?</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2776402/jokowi-sebut-dunia-lebih-takut-perubahan-iklim-dibanding-perang-bagaimana-menyikapinya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/06/337/2776402/jokowi-sebut-dunia-lebih-takut-perubahan-iklim-dibanding-perang-bagaimana-menyikapinya</guid><pubDate>Senin 06 Maret 2023 18:27 WIB</pubDate><dc:creator>Novia Adristi Zhafira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/06/337/2776402/jokowi-sebut-dunia-lebih-takut-perubahan-iklim-dibanding-perang-bagaimana-menyikapinya-Wn8xzxNmEe.JPG" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/06/337/2776402/jokowi-sebut-dunia-lebih-takut-perubahan-iklim-dibanding-perang-bagaimana-menyikapinya-Wn8xzxNmEe.JPG</image><title></title></images><description>JAKARTA - Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa yang kini ditakuti oleh semua negara adalah perubahan iklim, bukan perang seperti yang digemborkan khalayak. Dampak perubahan iklim mengakibatkan peningkatan bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak 1 dekade terakhir, bencana yang didominasi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang dipengaruhi oleh faktor iklim dan cuaca seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan kabut asap.

Salah satu upaya dalam mengatasi potensi bencana hidrometeorologi yaitu dengan dilakukannya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Namun, Teknologi ini masih awam di telinga masyarakat Indonesia.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wNi8xLzE2MzgwOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Menurut Koordinator Laboratorium Pengelolaan Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Harsoyo mengatakan Modifikasi Cuaca ini yaitu &amp;ldquo;men-trigger&amp;rdquo; potensi hujan secara alami yang ada di alam.

Secara sederhana, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yaitu menambah inti kondensasi ke awan agar proses hujan terjadi lebih cepat dan mengurangi intensitas curah hujan di suatu tempat atau sebaliknya.

&amp;ldquo;Dalam mengantisipasi banjir, hujan ini disegerakan jatuh secara alami sebelum jatuh di tempat yang rawan, paling aman di daerah laut, sehingga ketika awan melintas di daerah tersebut, awan itu sudah luruh dan intensitas hujan sudah rendah.&amp;rdquo; ungkap Budi Harsoyo dalam Special Dialogue.

Namun, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini hanya dapat memodifikasi cuaca dalam skala mikro sehingga masyarakat tetap harus menjaga dan memelihara lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa yang kini ditakuti oleh semua negara adalah perubahan iklim, bukan perang seperti yang digemborkan khalayak. Dampak perubahan iklim mengakibatkan peningkatan bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak 1 dekade terakhir, bencana yang didominasi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang dipengaruhi oleh faktor iklim dan cuaca seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan kabut asap.

Salah satu upaya dalam mengatasi potensi bencana hidrometeorologi yaitu dengan dilakukannya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Namun, Teknologi ini masih awam di telinga masyarakat Indonesia.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wNi8xLzE2MzgwOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Menurut Koordinator Laboratorium Pengelolaan Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Harsoyo mengatakan Modifikasi Cuaca ini yaitu &amp;ldquo;men-trigger&amp;rdquo; potensi hujan secara alami yang ada di alam.

Secara sederhana, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yaitu menambah inti kondensasi ke awan agar proses hujan terjadi lebih cepat dan mengurangi intensitas curah hujan di suatu tempat atau sebaliknya.

&amp;ldquo;Dalam mengantisipasi banjir, hujan ini disegerakan jatuh secara alami sebelum jatuh di tempat yang rawan, paling aman di daerah laut, sehingga ketika awan melintas di daerah tersebut, awan itu sudah luruh dan intensitas hujan sudah rendah.&amp;rdquo; ungkap Budi Harsoyo dalam Special Dialogue.

Namun, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini hanya dapat memodifikasi cuaca dalam skala mikro sehingga masyarakat tetap harus menjaga dan memelihara lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim.</content:encoded></item></channel></rss>
