<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Cerita Guru Kolektor Naskah Kuno, Salah Satunya Mantra Kutukan yang Tak Boleh Dibaca</title><description>Mantra biasanya ditulis dengan manuskrip kuno dan dipercaya mengandung hal-hal mistis yang dipelajari oleh orang zaman dahulu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/06/519/2776178/cerita-guru-kolektor-naskah-kuno-salah-satunya-mantra-kutukan-yang-tak-boleh-dibaca</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/06/519/2776178/cerita-guru-kolektor-naskah-kuno-salah-satunya-mantra-kutukan-yang-tak-boleh-dibaca"/><item><title> Cerita Guru Kolektor Naskah Kuno, Salah Satunya Mantra Kutukan yang Tak Boleh Dibaca</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/06/519/2776178/cerita-guru-kolektor-naskah-kuno-salah-satunya-mantra-kutukan-yang-tak-boleh-dibaca</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/06/519/2776178/cerita-guru-kolektor-naskah-kuno-salah-satunya-mantra-kutukan-yang-tak-boleh-dibaca</guid><pubDate>Senin 06 Maret 2023 14:08 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/06/519/2776178/cerita-guru-kolektor-naskah-kuno-salah-satunya-mantra-kutukan-yang-tak-boleh-dibaca-wA00ptcCWr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kolektor naskah kuno (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/06/519/2776178/cerita-guru-kolektor-naskah-kuno-salah-satunya-mantra-kutukan-yang-tak-boleh-dibaca-wA00ptcCWr.jpg</image><title>Kolektor naskah kuno (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wNi8xLzE2MzgxOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALANG - Mantra merupakan bunyi, suku kata, kata, atau kalimat yang dianggap mampu menciptakan perubahan secara spiritual. Mantra biasanya ditulis dengan manuskrip kuno dan dipercaya mengandung hal-hal mistis yang dipelajari oleh  orang zaman dahulu.
Lulut Edi Santoso, seorang pemerhati sejarah dan kolektor naskah kuno. Dia pun menceritakan ada satu manuskrip kuno yang dikoleksi yang berisikan kutukan berupa mantra-mantra. Naskah kuno itu berasal dari tahun 1700-an yang didapatnya dari pedagang di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
&quot;Kalau yang di sini tertua 1700-an tertua, terbuat dari lontar. Ini isinya mantra tidak boleh dibaca orang juga,&quot; kata Lulut Edi Santoso, saat pameran naskah kuno di Malang Creative Center (MCC), pada Senin (6/3/2023).
Lulut menyatakan bahwa mantra ini tak boleh dibaca oleh sembarang orang lantaran mitosnya itu sebagai sarana menguasai ilmu sihir atau mantra. Pesan itu ia dapat dari filolog atau ahli pembaca naskah kuno.
Baca juga:&amp;nbsp;Pesan Jokowi di KTT ASEAN: Kesatuan dan Sentralitas ASEAN Jangan Jadi Mantra Kosong!
&quot;Karena tidak boleh dibaca orang juga, kata seorang filolog berpesan ke saya ini jangan dibaca, karena ada mantranya. Saya tidak tahu tapi kenyataannya atau tidak, relatif, mantra-mantra ketika dibaca orang niat mempelajari atau tidak langsung masuk, saya bukan masalah percaya atau tidak. Cuma karena dipesan seperti itu saya ya patuh,&quot; jelasnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Alasan Indonesia Memiliki Tingkat Frekuensi Bencana yang Tinggi
Menurutnya, dari 100-an koleksi naskah kuno di era kerajaan, 1.000-an naskah kuno terkait dokumen masa kolonial, dan 4.000 lembar manuskrip kuno, naskah kuno mengenai mantra sihir yang konon berasal dari Kesultanan Mataram menjadi yang menarik. Dari jumlah itu, naskah kuno menceritakan mengenai Malang biasanya berupa cerita Kerajaan Jenggala Panjalu, Brawijaya, Panji, Babad Demak.
&quot;Ada juga pengaturan makam pada zaman Belanda, masih masa Gementee Malang (pemerintahan Malang di era kolonial Belanda), Tapi sayangnya tidak saya buka (naskah kunonya),&quot; bebernya.Di naskah kuno peninggalan Belanda itu dijelaskan Lulut, bahwa pengaturan makam di Malang sifatnya umum. Dimana khusus untuk orang pribumi tidak ada pembiayaan tambahan, sementara untuk orang China dan Eropa ada aturan - aturan tertentu.
&quot;Bagaimana orang pribumi tanpa pembiayaannya kemudian orang Cina bagaimana orang Eropa ada aturan-aturannya di sini, jadi ada pemberlakuan yang tidak sama,&quot; paparnya.
Hobinya mengumpulkan naskah - naskah kuno dan artefak bersejarah membuat pria yang juga guru di SMAN 3 ini, kerap berburu naskah - naskah kuno dari masyarakat dan pedagang. Namun diakuinya ia belum memiliki kemampuan untuk membaca sejumlah naskah kuno yang tertulis dengan huruf aksara Jawa kuno, aksara Sunda, hingga huruf Mandarin.
&quot;Kalau saya nggak begitu paham tentang itu. Saya bukan seorang pembaca yang benar, niat saya yang awal mengumpulkan yang ada di masyarakat, Saya tidak terbuang, dan diperjualbelikan, yang membaca biar orang lain nantinya. Tentang pemahaman isi saya masih boleh dikatakan nol nggak paham,&quot; terangnya.
Kini ia berharap pemerintah bisa mengawasi pergerakan naskah - naskah kuno yang seharusnya masuk bagian dari benda cagar budaya. Pasalnya sejumlah naskah kuno yang langka justru diperjualbelikan bebas, bahkan hingga ke luar negeri. Hal itulah yang mendorongnya juga berupaya mengumpulkan naskah-naskah kuno itu agar bisa menjadi bagian edukasi sejarah bagi generasi penerus.
&quot;Seharusnya ini benda cagar budaya, tidak boleh diperjualbelikan, Tapi sayangnya Ini lemah kontrolnya, sampai terbang ke luar negeri antara bebas dan tidak bebas. Saya tidak mengatakan bebas, dilarang tapi masih ada perjalanan ke sana, dan harganya di sana satu manuskrip yang kondisi utuh bagus bisa beli satu mobil,&quot; tukasnya.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wNi8xLzE2MzgxOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALANG - Mantra merupakan bunyi, suku kata, kata, atau kalimat yang dianggap mampu menciptakan perubahan secara spiritual. Mantra biasanya ditulis dengan manuskrip kuno dan dipercaya mengandung hal-hal mistis yang dipelajari oleh  orang zaman dahulu.
Lulut Edi Santoso, seorang pemerhati sejarah dan kolektor naskah kuno. Dia pun menceritakan ada satu manuskrip kuno yang dikoleksi yang berisikan kutukan berupa mantra-mantra. Naskah kuno itu berasal dari tahun 1700-an yang didapatnya dari pedagang di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
&quot;Kalau yang di sini tertua 1700-an tertua, terbuat dari lontar. Ini isinya mantra tidak boleh dibaca orang juga,&quot; kata Lulut Edi Santoso, saat pameran naskah kuno di Malang Creative Center (MCC), pada Senin (6/3/2023).
Lulut menyatakan bahwa mantra ini tak boleh dibaca oleh sembarang orang lantaran mitosnya itu sebagai sarana menguasai ilmu sihir atau mantra. Pesan itu ia dapat dari filolog atau ahli pembaca naskah kuno.
Baca juga:&amp;nbsp;Pesan Jokowi di KTT ASEAN: Kesatuan dan Sentralitas ASEAN Jangan Jadi Mantra Kosong!
&quot;Karena tidak boleh dibaca orang juga, kata seorang filolog berpesan ke saya ini jangan dibaca, karena ada mantranya. Saya tidak tahu tapi kenyataannya atau tidak, relatif, mantra-mantra ketika dibaca orang niat mempelajari atau tidak langsung masuk, saya bukan masalah percaya atau tidak. Cuma karena dipesan seperti itu saya ya patuh,&quot; jelasnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Alasan Indonesia Memiliki Tingkat Frekuensi Bencana yang Tinggi
Menurutnya, dari 100-an koleksi naskah kuno di era kerajaan, 1.000-an naskah kuno terkait dokumen masa kolonial, dan 4.000 lembar manuskrip kuno, naskah kuno mengenai mantra sihir yang konon berasal dari Kesultanan Mataram menjadi yang menarik. Dari jumlah itu, naskah kuno menceritakan mengenai Malang biasanya berupa cerita Kerajaan Jenggala Panjalu, Brawijaya, Panji, Babad Demak.
&quot;Ada juga pengaturan makam pada zaman Belanda, masih masa Gementee Malang (pemerintahan Malang di era kolonial Belanda), Tapi sayangnya tidak saya buka (naskah kunonya),&quot; bebernya.Di naskah kuno peninggalan Belanda itu dijelaskan Lulut, bahwa pengaturan makam di Malang sifatnya umum. Dimana khusus untuk orang pribumi tidak ada pembiayaan tambahan, sementara untuk orang China dan Eropa ada aturan - aturan tertentu.
&quot;Bagaimana orang pribumi tanpa pembiayaannya kemudian orang Cina bagaimana orang Eropa ada aturan-aturannya di sini, jadi ada pemberlakuan yang tidak sama,&quot; paparnya.
Hobinya mengumpulkan naskah - naskah kuno dan artefak bersejarah membuat pria yang juga guru di SMAN 3 ini, kerap berburu naskah - naskah kuno dari masyarakat dan pedagang. Namun diakuinya ia belum memiliki kemampuan untuk membaca sejumlah naskah kuno yang tertulis dengan huruf aksara Jawa kuno, aksara Sunda, hingga huruf Mandarin.
&quot;Kalau saya nggak begitu paham tentang itu. Saya bukan seorang pembaca yang benar, niat saya yang awal mengumpulkan yang ada di masyarakat, Saya tidak terbuang, dan diperjualbelikan, yang membaca biar orang lain nantinya. Tentang pemahaman isi saya masih boleh dikatakan nol nggak paham,&quot; terangnya.
Kini ia berharap pemerintah bisa mengawasi pergerakan naskah - naskah kuno yang seharusnya masuk bagian dari benda cagar budaya. Pasalnya sejumlah naskah kuno yang langka justru diperjualbelikan bebas, bahkan hingga ke luar negeri. Hal itulah yang mendorongnya juga berupaya mengumpulkan naskah-naskah kuno itu agar bisa menjadi bagian edukasi sejarah bagi generasi penerus.
&quot;Seharusnya ini benda cagar budaya, tidak boleh diperjualbelikan, Tapi sayangnya Ini lemah kontrolnya, sampai terbang ke luar negeri antara bebas dan tidak bebas. Saya tidak mengatakan bebas, dilarang tapi masih ada perjalanan ke sana, dan harganya di sana satu manuskrip yang kondisi utuh bagus bisa beli satu mobil,&quot; tukasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
