<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Hasil Analisis Badan Geologi Penyebab Bencana Longsor di Natuna</title><description>Bencana gerakan tanah yang terjadi itu diperkirakan berupa aliran bahan rombakan atau debris flow.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/08/337/2777185/ini-hasil-analisis-badan-geologi-penyebab-bencana-longsor-di-natuna</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/08/337/2777185/ini-hasil-analisis-badan-geologi-penyebab-bencana-longsor-di-natuna"/><item><title>Ini Hasil Analisis Badan Geologi Penyebab Bencana Longsor di Natuna</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/08/337/2777185/ini-hasil-analisis-badan-geologi-penyebab-bencana-longsor-di-natuna</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/08/337/2777185/ini-hasil-analisis-badan-geologi-penyebab-bencana-longsor-di-natuna</guid><pubDate>Rabu 08 Maret 2023 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/07/337/2777185/ini-hasil-analisis-badan-geologi-penyebab-bencana-longsor-di-natuna-sOULHBL0ql.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Longsor di Natuna (Foto: BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/07/337/2777185/ini-hasil-analisis-badan-geologi-penyebab-bencana-longsor-di-natuna-sOULHBL0ql.jpg</image><title>Longsor di Natuna (Foto: BNPB)</title></images><description>JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis hasil analisis terkait fenomena longsor yang terjadi di Desa Pangkalan, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Kepala Badan Geologi, Sugeng Mujiyanto mengatakan, bencana gerakan tanah yang terjadi itu diperkirakan berupa aliran bahan rombakan atau debris flow.
&quot;Berdasarkan Peta Geologi Regional Natuna, batuan penyusun di daerah bencana termasuk dalam batuan plutonik serasan yang tersusun granodiorit biotit dan granit hornblenda dengan helatan metasedimen,&quot; ujarnya melansir Antara, Selasa (7/3/2023).
Ia menuturkan, faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan akibat kemiringan lereng tebing yang curam, tanah palapukan yang tebal dari batuan tua berupa lapukan granodiorit, serta curah hujan yang tinggi dengan durasi lama.
Baca juga:&amp;nbsp;Longsor di Natuna Tewaskan Belasan Orang, Basarnas Pontianak Kirim Tim Penyelamat
Pada 6 Maret 2023, sekitar pukul 11.15 WIB, longsor besar menimbun satu kampung akibat puncak bukit berubah menjadi sungai yang membawa material tanah di Natuna.
Baca juga:&amp;nbsp;Ini Identitas ke-47 Korban Longsor Natuna yang Belum Ditemukan
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wNy8xLzE2MzkxNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Bencana gerakan tanah itu mengakibatkan 10 orang meninggal dan diperkirakan setidaknya 50 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah setempat melaporkan ada 1.216 orang mengungsi ke tempat aman karena masih terjadi longsor susulan.
Badan Geologi mengimbau warga yang berada dekat alur aliran bahan rombakan untuk selalu waspada, khususnya saat hujan maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama. Hal itu karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
Baca Berita Selengkapnya:&amp;nbsp;Soal Longsor di Natuna, Ini Analisis Badan Geologi

</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis hasil analisis terkait fenomena longsor yang terjadi di Desa Pangkalan, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Kepala Badan Geologi, Sugeng Mujiyanto mengatakan, bencana gerakan tanah yang terjadi itu diperkirakan berupa aliran bahan rombakan atau debris flow.
&quot;Berdasarkan Peta Geologi Regional Natuna, batuan penyusun di daerah bencana termasuk dalam batuan plutonik serasan yang tersusun granodiorit biotit dan granit hornblenda dengan helatan metasedimen,&quot; ujarnya melansir Antara, Selasa (7/3/2023).
Ia menuturkan, faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan akibat kemiringan lereng tebing yang curam, tanah palapukan yang tebal dari batuan tua berupa lapukan granodiorit, serta curah hujan yang tinggi dengan durasi lama.
Baca juga:&amp;nbsp;Longsor di Natuna Tewaskan Belasan Orang, Basarnas Pontianak Kirim Tim Penyelamat
Pada 6 Maret 2023, sekitar pukul 11.15 WIB, longsor besar menimbun satu kampung akibat puncak bukit berubah menjadi sungai yang membawa material tanah di Natuna.
Baca juga:&amp;nbsp;Ini Identitas ke-47 Korban Longsor Natuna yang Belum Ditemukan
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wNy8xLzE2MzkxNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Bencana gerakan tanah itu mengakibatkan 10 orang meninggal dan diperkirakan setidaknya 50 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah setempat melaporkan ada 1.216 orang mengungsi ke tempat aman karena masih terjadi longsor susulan.
Badan Geologi mengimbau warga yang berada dekat alur aliran bahan rombakan untuk selalu waspada, khususnya saat hujan maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama. Hal itu karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
Baca Berita Selengkapnya:&amp;nbsp;Soal Longsor di Natuna, Ini Analisis Badan Geologi

</content:encoded></item></channel></rss>
