<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Awal Ramadan NU dan Muhammadiyah Kemungkinan Sama, Idul Fitri Berbeda, Begini Penjelasan BRIN</title><description>Awal Ramadan 1444 H antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah kemungkinan sama.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/09/337/2778456/awal-ramadan-nu-dan-muhammadiyah-kemungkinan-sama-idul-fitri-berbeda-begini-penjelasan-brin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/09/337/2778456/awal-ramadan-nu-dan-muhammadiyah-kemungkinan-sama-idul-fitri-berbeda-begini-penjelasan-brin"/><item><title>Awal Ramadan NU dan Muhammadiyah Kemungkinan Sama, Idul Fitri Berbeda, Begini Penjelasan BRIN</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/09/337/2778456/awal-ramadan-nu-dan-muhammadiyah-kemungkinan-sama-idul-fitri-berbeda-begini-penjelasan-brin</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/09/337/2778456/awal-ramadan-nu-dan-muhammadiyah-kemungkinan-sama-idul-fitri-berbeda-begini-penjelasan-brin</guid><pubDate>Kamis 09 Maret 2023 20:25 WIB</pubDate><dc:creator>Bachtiar Rojab</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/09/337/2778456/awal-ramadhan-nu-dan-muhammadiyah-kemungkinan-sama-idul-fitri-berbeda-begini-penjelasan-brin-Ya87YZ8Pda.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi pemantauan hilal (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/09/337/2778456/awal-ramadhan-nu-dan-muhammadiyah-kemungkinan-sama-idul-fitri-berbeda-begini-penjelasan-brin-Ya87YZ8Pda.jpg</image><title>Ilustrasi pemantauan hilal (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Awal Ramadan 1444 H antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah kemungkinan sama. Namun, berbeda untuk tanggal Hari Raya Idul Fitrinya.
Hal tersebut diungkapkan Peneliti Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin dalam laman resmi BRIN.
&quot;Apabila saat Maghrib 22 Maret 2023 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, dengan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal [WH] (antara arsir putih pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH] bahwa 1 Ramadhan 1444 pada 23 Maret 2023,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
Dukung Program Lintas Agama Indonesia Bangkit, Kemenag: Kerukunan Penting Rawat Kebhinekaan

Thomas menjelaskan kesamaan dan perbedaan itu berdasarkan Kriteria Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah. Kemudian, Imkan Rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan NU dan beberapa ormas lain.
&quot;Penentuan awal bulan memerlukan kriteria agar bisa disepakati bersama. Rukyat memerlukan verifikasi kriteria untuk menghindari kemungkinan rukyat keliru,&quot; ujar Thomas.
Hisab, lanjut Thomas, tidak bisa menentukan masuknya awal bulan tanpa adanya kriteria. Sehingga kriteria menjadi dasar pembuatan kalender berbasis hisab yang dapat digunakan dalam prakiraan rukyat.

BACA JUGA:
Sidang Isbat Ramadan 1444 H pada 22 Maret, Berikut 123 Lokasi Titik Rukyatul Hilal
Adapun kriteria hilal yang diadopsi adalah kriteria berdasarkan pada dalil atau hukum agama tentang awal bulan dan hasil kajian astronomis yang sahih. Kriteria itu harus mengupayakan titik temu pengamal rukyat dan pengamal hisab, untuk menjadi kesepakatan bersama termasuk Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Sedangkan potensi perbedaan Idul Fitri 1444 dijelaskan Thomas, karena pada saat Maghrib 20 April 2023, ada potensi di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas).
Namun, sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] yang ditunjukkan pada antara arsir putih dan arsip merah pada gambar bawah. Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Syawal 1444 pada 22 April 2023, tetapi versi [WH] 1 Syawal 1444 pada 21 April 2023.
Thoman menambahkan, penyebab utama terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha yang terus berulang karena belum disepakatinya kriteria awal bulan hijriyah.
Adapun prasyarat utama untuk terwujudnya unifikasi kalender hijriyah, harus ada otoritas tunggal. Otoritas tunggal akan menentukan kriteria dan batas tanggalnya yang dapat diikuti bersama.Sementara kondisi sekarang otoritas tunggal mungkin bisa diwujudkan dulu di tingkat nasional atau regional. Kata Thomas, penentuan ini mengacu pada batas wilayah sebagai satu wilayah hukum (wilayatul hukmi) sesuai batas kedaulatan negara. Kemudian, kriterianya diupayakan untuk disepakati bersama.
Dalam penentuan 1 Ramadan 1444 H sendiri, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) baru akan menggelar sidang isbat pada Rabu 22 Maret 2023.
Sedangkan Muhammadiyah sudah menentukan 1 Ramadan 1444 H jatuh pada Kamis 23 Maret 2023 dan 1 Syawal 1444 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Jumat 21 April 2023.</description><content:encoded>JAKARTA - Awal Ramadan 1444 H antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah kemungkinan sama. Namun, berbeda untuk tanggal Hari Raya Idul Fitrinya.
Hal tersebut diungkapkan Peneliti Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin dalam laman resmi BRIN.
&quot;Apabila saat Maghrib 22 Maret 2023 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, dengan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal [WH] (antara arsir putih pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH] bahwa 1 Ramadhan 1444 pada 23 Maret 2023,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
Dukung Program Lintas Agama Indonesia Bangkit, Kemenag: Kerukunan Penting Rawat Kebhinekaan

Thomas menjelaskan kesamaan dan perbedaan itu berdasarkan Kriteria Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah. Kemudian, Imkan Rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan NU dan beberapa ormas lain.
&quot;Penentuan awal bulan memerlukan kriteria agar bisa disepakati bersama. Rukyat memerlukan verifikasi kriteria untuk menghindari kemungkinan rukyat keliru,&quot; ujar Thomas.
Hisab, lanjut Thomas, tidak bisa menentukan masuknya awal bulan tanpa adanya kriteria. Sehingga kriteria menjadi dasar pembuatan kalender berbasis hisab yang dapat digunakan dalam prakiraan rukyat.

BACA JUGA:
Sidang Isbat Ramadan 1444 H pada 22 Maret, Berikut 123 Lokasi Titik Rukyatul Hilal
Adapun kriteria hilal yang diadopsi adalah kriteria berdasarkan pada dalil atau hukum agama tentang awal bulan dan hasil kajian astronomis yang sahih. Kriteria itu harus mengupayakan titik temu pengamal rukyat dan pengamal hisab, untuk menjadi kesepakatan bersama termasuk Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Sedangkan potensi perbedaan Idul Fitri 1444 dijelaskan Thomas, karena pada saat Maghrib 20 April 2023, ada potensi di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas).
Namun, sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] yang ditunjukkan pada antara arsir putih dan arsip merah pada gambar bawah. Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Syawal 1444 pada 22 April 2023, tetapi versi [WH] 1 Syawal 1444 pada 21 April 2023.
Thoman menambahkan, penyebab utama terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha yang terus berulang karena belum disepakatinya kriteria awal bulan hijriyah.
Adapun prasyarat utama untuk terwujudnya unifikasi kalender hijriyah, harus ada otoritas tunggal. Otoritas tunggal akan menentukan kriteria dan batas tanggalnya yang dapat diikuti bersama.Sementara kondisi sekarang otoritas tunggal mungkin bisa diwujudkan dulu di tingkat nasional atau regional. Kata Thomas, penentuan ini mengacu pada batas wilayah sebagai satu wilayah hukum (wilayatul hukmi) sesuai batas kedaulatan negara. Kemudian, kriterianya diupayakan untuk disepakati bersama.
Dalam penentuan 1 Ramadan 1444 H sendiri, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) baru akan menggelar sidang isbat pada Rabu 22 Maret 2023.
Sedangkan Muhammadiyah sudah menentukan 1 Ramadan 1444 H jatuh pada Kamis 23 Maret 2023 dan 1 Syawal 1444 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Jumat 21 April 2023.</content:encoded></item></channel></rss>
