<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Amunisi yang Diminta Tak Juga Datang, Bos Tentara Bayaran Rusia Duga Ada Pengkhianatan</title><description>Pasukan Wagner berperan penting dalam upaya Rusia merebut Bakhmut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/10/18/2778445/amunisi-yang-diminta-tak-juga-datang-bos-tentara-bayaran-rusia-duga-ada-pengkhianatan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/10/18/2778445/amunisi-yang-diminta-tak-juga-datang-bos-tentara-bayaran-rusia-duga-ada-pengkhianatan"/><item><title>Amunisi yang Diminta Tak Juga Datang, Bos Tentara Bayaran Rusia Duga Ada Pengkhianatan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/10/18/2778445/amunisi-yang-diminta-tak-juga-datang-bos-tentara-bayaran-rusia-duga-ada-pengkhianatan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/10/18/2778445/amunisi-yang-diminta-tak-juga-datang-bos-tentara-bayaran-rusia-duga-ada-pengkhianatan</guid><pubDate>Jum'at 10 Maret 2023 07:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/09/18/2778445/amunisi-yang-diminta-tak-juga-datang-bos-tentara-bayaran-rusia-duga-ada-pengkhianatan-1gpyPhvqqF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pimpinan Grup Wagner Yevgeny Prigozhin. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/09/18/2778445/amunisi-yang-diminta-tak-juga-datang-bos-tentara-bayaran-rusia-duga-ada-pengkhianatan-1gpyPhvqqF.jpg</image><title>Pimpinan Grup Wagner Yevgeny Prigozhin. (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wOC8xMC8xNjM5OTAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BAKHMUT &amp;ndash; Serangan pasukan Rusia untuk merebut Kota Bakhmut, Ukraina berlangsung terus menerus. Di tengah sengitnya pertempuran bos tentara bayaran Wagner, Yevgeny Prigozhin mengeluhkan kekurangan amunisi dan menuding adanya &amp;ldquo;pengkhianatan&amp;rdquo; dari para pejabat militer Rusia.

BACA JUGA:
Diungkap Bos Tentara Bayaran Wagner, Ternyata Ini Alasan Rusia Ogah Akhiri Perang di Ukraina

Tentara bayaran Wagner yang dipimpin Prigozhin memainkan peran kunci dalam upaya Rusia merebut kota Bakhmut yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, Prigozhin yang tampaknya berkonflik dengan para pejabat militer Rusia mengeluh tentaranya tidak mendapatkan amunisi yang dibutuhkan.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Minggu (5/3/2023), Prigozhin mengatakan bahwa pada 22 Februari dia telah menandatangani dokumen untuk meminta amunisi dikirim ke Bakhmut. Namun, hingga saat kini amunisi yang diminta belum juga datang, sehingga pasukannya mengalami &amp;ldquo;kelaparan amunisi&amp;rdquo;.

BACA JUGA:
Kecam Petinggi Militer Rusia, Bos Wagner Pajang Foto Mayat Tentara Bayaran yang Tewas

Dia mengatakan bahwa hal ini bisa disebabkan karena kesalahan logistik atau bisa juga disengaja oleh para perwira militer Rusia untuk menghambat pasukannya. Dia mengatakan bahwa jika ketiadaan amunisi ini merupakan kesengajaan, maka hal tersebut adalah sebuah &amp;ldquo;pengkhianatan&amp;rdquo;.Keluhan Prigozhin ini dilihat sebagai sebuah tanda keretakan lebih lanjut antara dia dan militer Rusia. Dalam beberapa waktu belakangan, Prigozhin kerap bersuara keras mengkritik kemajuan dan kebijakan militer konvensional Rusia dalam perang di Ukraina.
Dalam video terpisah pada Sabtu, (4/3/2023) Prigozhin juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa dia dan pasukannya &amp;ldquo;dijebak&amp;rdquo; untuk dijadikan kambing hitam jika Rusia kalah perang di Ukraina.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wOC8xMC8xNjM5OTAvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BAKHMUT &amp;ndash; Serangan pasukan Rusia untuk merebut Kota Bakhmut, Ukraina berlangsung terus menerus. Di tengah sengitnya pertempuran bos tentara bayaran Wagner, Yevgeny Prigozhin mengeluhkan kekurangan amunisi dan menuding adanya &amp;ldquo;pengkhianatan&amp;rdquo; dari para pejabat militer Rusia.

BACA JUGA:
Diungkap Bos Tentara Bayaran Wagner, Ternyata Ini Alasan Rusia Ogah Akhiri Perang di Ukraina

Tentara bayaran Wagner yang dipimpin Prigozhin memainkan peran kunci dalam upaya Rusia merebut kota Bakhmut yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, Prigozhin yang tampaknya berkonflik dengan para pejabat militer Rusia mengeluh tentaranya tidak mendapatkan amunisi yang dibutuhkan.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Minggu (5/3/2023), Prigozhin mengatakan bahwa pada 22 Februari dia telah menandatangani dokumen untuk meminta amunisi dikirim ke Bakhmut. Namun, hingga saat kini amunisi yang diminta belum juga datang, sehingga pasukannya mengalami &amp;ldquo;kelaparan amunisi&amp;rdquo;.

BACA JUGA:
Kecam Petinggi Militer Rusia, Bos Wagner Pajang Foto Mayat Tentara Bayaran yang Tewas

Dia mengatakan bahwa hal ini bisa disebabkan karena kesalahan logistik atau bisa juga disengaja oleh para perwira militer Rusia untuk menghambat pasukannya. Dia mengatakan bahwa jika ketiadaan amunisi ini merupakan kesengajaan, maka hal tersebut adalah sebuah &amp;ldquo;pengkhianatan&amp;rdquo;.Keluhan Prigozhin ini dilihat sebagai sebuah tanda keretakan lebih lanjut antara dia dan militer Rusia. Dalam beberapa waktu belakangan, Prigozhin kerap bersuara keras mengkritik kemajuan dan kebijakan militer konvensional Rusia dalam perang di Ukraina.
Dalam video terpisah pada Sabtu, (4/3/2023) Prigozhin juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa dia dan pasukannya &amp;ldquo;dijebak&amp;rdquo; untuk dijadikan kambing hitam jika Rusia kalah perang di Ukraina.

</content:encoded></item></channel></rss>
