<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Bupati Dihukum Mati Adipati Pasuruan Usai Kalah Duel Melawan Panembahan Senopati</title><description>Awalnya, Panembahan Senopati hanya berpura-pura sebagai pemimpin pasukan penombak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789126/kisah-bupati-dihukum-mati-adipati-pasuruan-usai-kalah-duel-melawan-panembahan-senopati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789126/kisah-bupati-dihukum-mati-adipati-pasuruan-usai-kalah-duel-melawan-panembahan-senopati"/><item><title>Kisah Bupati Dihukum Mati Adipati Pasuruan Usai Kalah Duel Melawan Panembahan Senopati</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789126/kisah-bupati-dihukum-mati-adipati-pasuruan-usai-kalah-duel-melawan-panembahan-senopati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789126/kisah-bupati-dihukum-mati-adipati-pasuruan-usai-kalah-duel-melawan-panembahan-senopati</guid><pubDate>Rabu 29 Maret 2023 05:46 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/29/337/2789126/kisah-bupati-dihukum-mati-adipati-pasuruan-usai-kalah-duel-melawan-panembahan-senopati-mBzb5eHP4N.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Panembahan Senopati (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/29/337/2789126/kisah-bupati-dihukum-mati-adipati-pasuruan-usai-kalah-duel-melawan-panembahan-senopati-mBzb5eHP4N.jpg</image><title>Panembahan Senopati (Foto: Ist)</title></images><description>PANEMBAHAN Senopati raja pertama Kerajaan Mataram Islam terus berusaha memperluas wilayah kekuasaannya. Ekspansi pun dilakukan menuju wilayah timur dari Mataram. Setelah wilayah Madiun, Mataram berusaha memperluas wilayahnya ke Pasuruan.

Mendengar rencana Panembahan Senopati, Adipati Pasuruan memutuskan hendak menyerah dan bersedia menyerahkan upeti. Tetapi bawahannya sebagaimana sumber Babad Tanah Djawi yang dikutip dari &quot;Awal Kebangkitan Mataram : Masa Pemerintahan Senapati&quot;, tulisan De Graaf, Bupati Kinten berniat mengadakan perang tanding dengan Senopati, niatnya pun mendapat persetujuan.

BACA JUGA:
Momen Sunan Giri Cegah Pertempuran Panembahan Senopati dengan Pangeran Surabaya


Mendengar kabar itu, Senopati berangkat dari pesanggerahannya untuk menghadapi Ki Kinten. Sang penguasa Mataram itu menunggangi kuda dan berpakaian biru tua, bersama 40 orang prajurit numbak cemeng, atau ahli tombak yang juga berpakaian biru tua.

Awalnya, Panembahan Senopati hanya berpura-pura sebagai pemimpin pasukan penombak itu. Selanjutnya, pertarungan pun dimulai, disaksikan oleh para pengiring yang bersorak-sorai. Setelah berdoa kepada Allah, Senopati dapat melukai lutut musuhnya sehingga terlempar dari pelana dan jatuh pingsan.

Ki Kaniten kemudian dinaikkan di atas seekor kuda betina yang pincang tanpa pelana, dengan tambang tebal sebagai kekang, dan dikirimkan kembali kepada gustinya di Pasuruan, diantar oleh 40 prajurit numbak cemeng.

BACA JUGA:
Panembahan Senopati Memiliki Gelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, Apa Artinya?


Di saat terluka itulah Bupati Kinten mengaku tak tahu jika yang dihadapi adalah Panembahan Senopati. Bahkan, ia berujar jika yang bertarung dengannya adalah Panembahan Senopati ia mengaku tidak berani, memilih kembali pulang, atau lebih baik mati. Perkataan itulah yang konon membuat Adipati Pasuruan marah.



Sang adipati segera memerintahkan agar Ki Kaniten dipenggal kepalanya, tetapi saat hendak dipenggal kapak pemenggal patah. Cairan timah segera dituangkan ke dalam tenggorokannya sehingga mati. Adipati kemudian memberi hadiah kepada 40 orang prajurit Senapati itu dan mengirimkan seorang utusan yang membawa upeti untuk Senapati sebagai tanda takluk dan penyerahan Kerajaan Pasuruan.



Panembahan Senopati yang gembira atas kabar itu kemudian berkata ke utusan tersebut, &quot;sampaikanlah bahwa saya segera kembali ke Mataram, dan bahwa gustimu tetap mengepalai daerahnya. Tetapi apabila ada perintah mengenai bupati-bupati Jawa Timur, hendaklah perintah itu dipatuhinya.&quot; Setelah itu Senopati kembali ke Kerajaan Mataram.

</description><content:encoded>PANEMBAHAN Senopati raja pertama Kerajaan Mataram Islam terus berusaha memperluas wilayah kekuasaannya. Ekspansi pun dilakukan menuju wilayah timur dari Mataram. Setelah wilayah Madiun, Mataram berusaha memperluas wilayahnya ke Pasuruan.

Mendengar rencana Panembahan Senopati, Adipati Pasuruan memutuskan hendak menyerah dan bersedia menyerahkan upeti. Tetapi bawahannya sebagaimana sumber Babad Tanah Djawi yang dikutip dari &quot;Awal Kebangkitan Mataram : Masa Pemerintahan Senapati&quot;, tulisan De Graaf, Bupati Kinten berniat mengadakan perang tanding dengan Senopati, niatnya pun mendapat persetujuan.

BACA JUGA:
Momen Sunan Giri Cegah Pertempuran Panembahan Senopati dengan Pangeran Surabaya


Mendengar kabar itu, Senopati berangkat dari pesanggerahannya untuk menghadapi Ki Kinten. Sang penguasa Mataram itu menunggangi kuda dan berpakaian biru tua, bersama 40 orang prajurit numbak cemeng, atau ahli tombak yang juga berpakaian biru tua.

Awalnya, Panembahan Senopati hanya berpura-pura sebagai pemimpin pasukan penombak itu. Selanjutnya, pertarungan pun dimulai, disaksikan oleh para pengiring yang bersorak-sorai. Setelah berdoa kepada Allah, Senopati dapat melukai lutut musuhnya sehingga terlempar dari pelana dan jatuh pingsan.

Ki Kaniten kemudian dinaikkan di atas seekor kuda betina yang pincang tanpa pelana, dengan tambang tebal sebagai kekang, dan dikirimkan kembali kepada gustinya di Pasuruan, diantar oleh 40 prajurit numbak cemeng.

BACA JUGA:
Panembahan Senopati Memiliki Gelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, Apa Artinya?


Di saat terluka itulah Bupati Kinten mengaku tak tahu jika yang dihadapi adalah Panembahan Senopati. Bahkan, ia berujar jika yang bertarung dengannya adalah Panembahan Senopati ia mengaku tidak berani, memilih kembali pulang, atau lebih baik mati. Perkataan itulah yang konon membuat Adipati Pasuruan marah.



Sang adipati segera memerintahkan agar Ki Kaniten dipenggal kepalanya, tetapi saat hendak dipenggal kapak pemenggal patah. Cairan timah segera dituangkan ke dalam tenggorokannya sehingga mati. Adipati kemudian memberi hadiah kepada 40 orang prajurit Senapati itu dan mengirimkan seorang utusan yang membawa upeti untuk Senapati sebagai tanda takluk dan penyerahan Kerajaan Pasuruan.



Panembahan Senopati yang gembira atas kabar itu kemudian berkata ke utusan tersebut, &quot;sampaikanlah bahwa saya segera kembali ke Mataram, dan bahwa gustimu tetap mengepalai daerahnya. Tetapi apabila ada perintah mengenai bupati-bupati Jawa Timur, hendaklah perintah itu dipatuhinya.&quot; Setelah itu Senopati kembali ke Kerajaan Mataram.

</content:encoded></item></channel></rss>
