<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertanyaan Menohok Panglima Perang Jepang ke Hatta: Indonesia Segera Merdeka, Kapan Kau Menikah?</title><description>Dallat merupakan sebuah kota yang terletak 300 km sebelah Utara Saigon, Vietnam.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789450/pertanyaan-menohok-panglima-perang-jepang-ke-hatta-indonesia-segera-merdeka-kapan-kau-menikah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789450/pertanyaan-menohok-panglima-perang-jepang-ke-hatta-indonesia-segera-merdeka-kapan-kau-menikah"/><item><title>Pertanyaan Menohok Panglima Perang Jepang ke Hatta: Indonesia Segera Merdeka, Kapan Kau Menikah?</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789450/pertanyaan-menohok-panglima-perang-jepang-ke-hatta-indonesia-segera-merdeka-kapan-kau-menikah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/03/29/337/2789450/pertanyaan-menohok-panglima-perang-jepang-ke-hatta-indonesia-segera-merdeka-kapan-kau-menikah</guid><pubDate>Kamis 30 Maret 2023 03:10 WIB</pubDate><dc:creator>Novia Adristi Zhafira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/03/29/337/2789450/pertanyaan-menohok-panglima-perang-jepang-ke-hatta-indonesia-segera-merdeka-kapan-kau-menikah-odfQ4KBpkx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Hatta/Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/03/29/337/2789450/pertanyaan-menohok-panglima-perang-jepang-ke-hatta-indonesia-segera-merdeka-kapan-kau-menikah-odfQ4KBpkx.jpg</image><title>Bung Hatta/Foto: Istimewa</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMi8yMC8xNTczNTEvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pada 9 Agustus 1945, tiga pemimpin bangsa Indonesia yaitu Soekarno, Mohammad Hatta dan Radjiman Wediodiningrat dikirim ke Dallat. Dallat merupakan sebuah kota yang terletak 300 km sebelah Utara Saigon, Vietnam.

Soekarno sebagai ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Mohammad Hatta (Wakil Ketua PPKI), dan Radjiman Wediodiningrat (Mantan Ketua BPUPKI) berangkat ke Dallat dengan tujuan menemui Marsekal Terauchi Hisaichi.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ayah David Ozora Bakal Jadi Saksi dalam Persidangan Pacar Mario Dandy

Dikutip dalam buku &amp;ldquo;Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik&amp;rdquo; yang ditulis oleh Adhe Riyanto, Marsekal Terauchi Hisaichi adalah sang Panglima Perang Jepang yang rencananya akan bertemu dengan ketiga pemimpin bangsa Indonesia di Markas Besar Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara.

Pertemuan dengan sang panglima itu dilaksanakan secara singkat, namun tetap khidmat. Wajah Terauchi tampak muram sebab sedang sakit dan gelisah akan kondisi mengkhawatirkan pasukan Jepang dalam Perang Asia Pasifik.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pengacara David Ozora Harap Hakim PN Jaksel Memihak Korban di Sidang Perkara AG&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;

Pada saat hidangan makan, Terauchi sempat bergurau kepada Hatta. Ia menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia pasti akan segera terjadi. Lantas ia bertanya kepada Hatta, &amp;ldquo;Indonesia segera merdeka, kapan kau menikah?&amp;rdquo;

Hatta tidak memberikan jawaban, hanya saja mukanya terlihat memerah. Ia sama sekali tidak memikirkan pernikahannya terlebih dahulu, karena ia masih sibuk memikirkan bagaimana kemerdekaan Indonesia.

Tidak lama setelah itu, saat mereka ingin segera kembali ke Indonesia. Mereka mendengar berita mengenai serangan tentara Rusia di Manchuria. Kemudian mendengar kabar bahwa Singapura dibom oleh sekutu.

Oleh karena itu, pesawatnya harus mendarat terlebih dahulu di Taipin, Malaya. Hingga pada sore 13 Agustus 1945 mereka mendarat di Singapura, dan keesokan harinya sampai di Bandara Kemayoran, Jakarta.



Sementara itu, tanpa sempat beristirahat, ketiga pemimpin bangsa Indonesia langsung diminta menghadap Gunseikan untuk melaporkan hasil pertemuan di Dallat.



Pada saat itu, pemerintah Balatentara Jepang juga menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia bergantung pada kesiapan PPKI.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMi8yMC8xNTczNTEvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pada 9 Agustus 1945, tiga pemimpin bangsa Indonesia yaitu Soekarno, Mohammad Hatta dan Radjiman Wediodiningrat dikirim ke Dallat. Dallat merupakan sebuah kota yang terletak 300 km sebelah Utara Saigon, Vietnam.

Soekarno sebagai ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Mohammad Hatta (Wakil Ketua PPKI), dan Radjiman Wediodiningrat (Mantan Ketua BPUPKI) berangkat ke Dallat dengan tujuan menemui Marsekal Terauchi Hisaichi.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ayah David Ozora Bakal Jadi Saksi dalam Persidangan Pacar Mario Dandy

Dikutip dalam buku &amp;ldquo;Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik&amp;rdquo; yang ditulis oleh Adhe Riyanto, Marsekal Terauchi Hisaichi adalah sang Panglima Perang Jepang yang rencananya akan bertemu dengan ketiga pemimpin bangsa Indonesia di Markas Besar Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara.

Pertemuan dengan sang panglima itu dilaksanakan secara singkat, namun tetap khidmat. Wajah Terauchi tampak muram sebab sedang sakit dan gelisah akan kondisi mengkhawatirkan pasukan Jepang dalam Perang Asia Pasifik.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pengacara David Ozora Harap Hakim PN Jaksel Memihak Korban di Sidang Perkara AG&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;

Pada saat hidangan makan, Terauchi sempat bergurau kepada Hatta. Ia menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia pasti akan segera terjadi. Lantas ia bertanya kepada Hatta, &amp;ldquo;Indonesia segera merdeka, kapan kau menikah?&amp;rdquo;

Hatta tidak memberikan jawaban, hanya saja mukanya terlihat memerah. Ia sama sekali tidak memikirkan pernikahannya terlebih dahulu, karena ia masih sibuk memikirkan bagaimana kemerdekaan Indonesia.

Tidak lama setelah itu, saat mereka ingin segera kembali ke Indonesia. Mereka mendengar berita mengenai serangan tentara Rusia di Manchuria. Kemudian mendengar kabar bahwa Singapura dibom oleh sekutu.

Oleh karena itu, pesawatnya harus mendarat terlebih dahulu di Taipin, Malaya. Hingga pada sore 13 Agustus 1945 mereka mendarat di Singapura, dan keesokan harinya sampai di Bandara Kemayoran, Jakarta.



Sementara itu, tanpa sempat beristirahat, ketiga pemimpin bangsa Indonesia langsung diminta menghadap Gunseikan untuk melaporkan hasil pertemuan di Dallat.



Pada saat itu, pemerintah Balatentara Jepang juga menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia bergantung pada kesiapan PPKI.</content:encoded></item></channel></rss>
