<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Demi Kelancaran Petronas, Anwar Ibrahim Ajak Xi Jinping Dialog Masalah Laut China Selatan</title><description>Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim mengaku siap melakukan negosiasi dengan China atas perkara Laut China Selatan (LCS).</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792825/demi-kelancaran-petronas-anwar-ibrahim-ajak-xi-jinping-dialog-masalah-laut-china-selatan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792825/demi-kelancaran-petronas-anwar-ibrahim-ajak-xi-jinping-dialog-masalah-laut-china-selatan"/><item><title>Demi Kelancaran Petronas, Anwar Ibrahim Ajak Xi Jinping Dialog Masalah Laut China Selatan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792825/demi-kelancaran-petronas-anwar-ibrahim-ajak-xi-jinping-dialog-masalah-laut-china-selatan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792825/demi-kelancaran-petronas-anwar-ibrahim-ajak-xi-jinping-dialog-masalah-laut-china-selatan</guid><pubDate>Selasa 04 April 2023 12:12 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Fadli Rizal</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/04/18/2792825/demi-kelancaran-petronas-anwar-ibrahim-ajak-xi-jinping-dialog-masalah-laut-china-selatan-ZvT5lHGTus.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PM Anwar Ibrahim dan Presiden Xi Jinping (Foto Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/04/18/2792825/demi-kelancaran-petronas-anwar-ibrahim-ajak-xi-jinping-dialog-masalah-laut-china-selatan-ZvT5lHGTus.jpg</image><title>PM Anwar Ibrahim dan Presiden Xi Jinping (Foto Antara)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8xNy8yMC8xNjQzNzQvNS94OGo5N2M2&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALAYSIA - Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim mengaku siap melakukan negosiasi dengan China atas perkara Laut China Selatan (LCS). Hal itu ia lontarkan pada Senin (3/4/2023) waktu setempat.

Anwar Ibrahim menyatakan kesiapannya untuk melakukan negosiasi setelah sebuah think tank melaporkan China melakukan patroli di dekat proyek gas lepas pantai Malaysia.

Pria berusia 75 tahun itu mengatakan isu tersebut dipilih mengingat perusahaan minyak dan gas Malaysia Petronas memiliki platform terbesar proyek eksplorasi yang beroperasi di kawasan perairan itu, yang juga diklaim oleh China.

&amp;ldquo;Di daerah itu ada klaim serupa dari China. Saya bilang (kepada mereka) sebagai negara yang butuh sumber migas, kita harus jalan terus. Tapi, kalau syaratnya harus ada negosiasi, maka kita siap. untuk bernegosiasi,&quot; kata Anwar, seperti dikutip dari Reuters.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Beijing Ancam AS: Setop Provokasi di Laut China Selatan Atau Tanggung Konsekuensi Serius

Ia mengatakan telah menyampaikan pada Xi Jinping bahwa sebagai negara kecil yang membutuhkan sumber daya, Malaysia menganggap eksplorasi tersebut harus diteruskan.

Anwar Ibrahim menyatakan siap berunding jika harus ada negosiasi untuk memastikan aktivitas tersebut dapat tetap berjalan.


Sebelumnya, China mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh Laut China Selatan, yang dilalui kapal dagang bernilai sekitar USD3 triliun setiap tahunnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Media AS: Balon Mata-Mata Kirim Data ke China Secara Real Time Sebelum Ditembak Jatuh

Malaysia, Brunei, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga memiliki beberapa klaim yang tumpang tindih.

China mengklaim sekitar 90 persen Laut China Selatan melalui sembilan garis putus-putus berbentuk U. Garis itu bersinggungan dengan zona ekonomi eksklusif (ZEE) dari lima negara Asia Tenggara.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8xNy8yMC8xNjQzNzQvNS94OGo5N2M2&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALAYSIA - Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim mengaku siap melakukan negosiasi dengan China atas perkara Laut China Selatan (LCS). Hal itu ia lontarkan pada Senin (3/4/2023) waktu setempat.

Anwar Ibrahim menyatakan kesiapannya untuk melakukan negosiasi setelah sebuah think tank melaporkan China melakukan patroli di dekat proyek gas lepas pantai Malaysia.

Pria berusia 75 tahun itu mengatakan isu tersebut dipilih mengingat perusahaan minyak dan gas Malaysia Petronas memiliki platform terbesar proyek eksplorasi yang beroperasi di kawasan perairan itu, yang juga diklaim oleh China.

&amp;ldquo;Di daerah itu ada klaim serupa dari China. Saya bilang (kepada mereka) sebagai negara yang butuh sumber migas, kita harus jalan terus. Tapi, kalau syaratnya harus ada negosiasi, maka kita siap. untuk bernegosiasi,&quot; kata Anwar, seperti dikutip dari Reuters.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Beijing Ancam AS: Setop Provokasi di Laut China Selatan Atau Tanggung Konsekuensi Serius

Ia mengatakan telah menyampaikan pada Xi Jinping bahwa sebagai negara kecil yang membutuhkan sumber daya, Malaysia menganggap eksplorasi tersebut harus diteruskan.

Anwar Ibrahim menyatakan siap berunding jika harus ada negosiasi untuk memastikan aktivitas tersebut dapat tetap berjalan.


Sebelumnya, China mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh Laut China Selatan, yang dilalui kapal dagang bernilai sekitar USD3 triliun setiap tahunnya.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Media AS: Balon Mata-Mata Kirim Data ke China Secara Real Time Sebelum Ditembak Jatuh

Malaysia, Brunei, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga memiliki beberapa klaim yang tumpang tindih.

China mengklaim sekitar 90 persen Laut China Selatan melalui sembilan garis putus-putus berbentuk U. Garis itu bersinggungan dengan zona ekonomi eksklusif (ZEE) dari lima negara Asia Tenggara.
</content:encoded></item></channel></rss>
