<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Main-Main, AS Kucurkan Rp4,4 Triliun untuk Bangun Database Riset Penyakit Alzheimer</title><description>Alzheimer bisa menjangkit 20 tahun sebelum masalah-masalah soal ingatan mulai tampak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792873/tak-main-main-as-kucurkan-rp4-4-triliun-untuk-bangun-database-riset-penyakit-alzheimer</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792873/tak-main-main-as-kucurkan-rp4-4-triliun-untuk-bangun-database-riset-penyakit-alzheimer"/><item><title>Tak Main-Main, AS Kucurkan Rp4,4 Triliun untuk Bangun Database Riset Penyakit Alzheimer</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792873/tak-main-main-as-kucurkan-rp4-4-triliun-untuk-bangun-database-riset-penyakit-alzheimer</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/04/18/2792873/tak-main-main-as-kucurkan-rp4-4-triliun-untuk-bangun-database-riset-penyakit-alzheimer</guid><pubDate>Selasa 04 April 2023 13:00 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Susanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/04/18/2792873/tak-main-main-as-kucurkan-rp4-4-triliun-untuk-bangun-database-riset-penyakit-alzheimer-6F8v0GIl1O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi penyakit Alzheimer (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/04/18/2792873/tak-main-main-as-kucurkan-rp4-4-triliun-untuk-bangun-database-riset-penyakit-alzheimer-6F8v0GIl1O.jpg</image><title>Ilustrasi penyakit Alzheimer (Foto: Reuters)</title></images><description>CHICAGO &amp;ndash; National Institute on Aging (NIA) di Amerika Serikat (AS) mengucurkan dana sebesar USD300 juta (Rp4,4 triliun) untuk sebuah proyek berjangka enam  tahun dalam rangka pembuatan database Alzheimer.&amp;nbsp;Ini bisa digunakan untuk mencatat kondisi kesehatan warga selama puluhan tahun dan akan bisa membantu para peneliti untuk lebih memahami penyakit tersebut.
Petinggi NIA mengatakan kepada Reuters, NIA, yang tergabung dalam Institut Kesehatan Nasional (NIH) milik pemerintah, menargetkan pembangunan platform data yang bisa menyimpan data kesehatan mayoritas warga Amerika Serikat dalam jangka panjang.

BACA JUGA:
Studi Terbaru: Otak dari 3 Lumba-Lumba yang Terdampar di Pantai Skotlandia Tunjukkan Ciri-Ciri Penyakit Alzheimer

Platform data tersebut akan mengambil data kesehatan dari catatan kesehatan, asuransi, farmasi, perangkat pribadi, sensor, dan berbagai agen pemerintahan yang lain.

BACA JUGA:
Studi: Atlet Sepakbola Lebih Berisiko 60 Persen Kena Alzheimer

&quot;Data nyata adalah hal yang kita butuhkan untuk membuat berbagai macam keputusan mengenai efektivitas obat dan menjangkau populasi secara lebih luas dari apa yang uji klinik bisa lakukan,&quot; kata Dr Nina Silverberg, Direktur pusat riset Alzheimer NIA, dikutip Antara.

Mencatat perkembangan pasien sebelum dan sesudah menunjukkan gejala Alzheimer diyakini penting dalam membuat langkah-langkah penanganan penyakit tersebut. Alzheimer bisa menjangkit 20 tahun sebelum masalah-masalah soal ingatan mulai tampak.

Penelitian Alzheimer dibantu oleh Leqembi, sebuah terobosan baru yang dibuat Eisai Co Ltd dan Biogen Inc. Pengobatan itu bisa memperlambat laju penyakit pada pasien stadium awal.
Database ini bisa mengidentifikasi orang-orang sehat yang punya resiko terkena Alzheimer, dan datanya bisa digunakan untuk uji coba obat di masa mendatang. Database ini juga diharapkan bisa menangani masalah kurangnya representasi orang-orang etnis lain dalam uji klinis Alzheimer, dan juga menarik perhatian di luar kalangan medis akademik di perkotaan.



Setelah dibangun, platform ini bisa melacak pasien yang sudah menerima pengobatan semacam Leqembi. Leqembi sudah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat, dan diharapkan akan mendapatkan izin dari Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) pada 6 Juli mendatang.



Kemungkinan fitur pelacakan tersebut akan dibutuhkan dalam paket kesehatan Medicare khusus orang dewasa, sebagai syarat untuk mengganti dana yang dikeluarkan untuk pengobatan Leqembi.



&quot;Kita tidak mendesainnya untuk hal itu,&quot; lanjutnya. Namun, dia menambahkan bahwa mungkin saja hal tersebut dilakukan.



Silverberg menambahkan bahwa platform tersebut memungkinkan para peneliti yang sedang melakukan riset penyakit lain, untuk lebih memahami jenis pasien yang paling rawan terkena dampak dari obat-obatan terkait.



Di saat pandemi, AS tertinggal dibandingkan negara-negara lain yang sistem kesehatannya bisa menganalisis data pasien untuk resiko Covid-19.


Silverberg mengatakan sistem yang direncanakan ini akan dibuat dalam lingkungan komputasi yang aman, yang dilindungi beberapa pembatasan sebagai upaya untuk membuat privasi data kesehatan lebih aman.



Program hibah yang diumumkan pada 13 Maret itu telah direncanakan selama bertahun-tahun lamanya. Dana tersebut akan mulai disalurkan pada April 2024, dengan tujuan untuk membuat daftar khusus Alzheimer pada 21 bulan yang akan datang.



Kepala bagian data di divisi sumber daya dan analisis data NIH, Partha Bhattacharyya, mengatakan bahwa dia membayangkan bahwa platform ini akan membantu peneliti untuk merekrut orang di berbagai belahan Amerika Serikat.







&quot;Jika mau berkontribusi lebih besar dalam pencegahan, kita harus mulai lebih awal. Ya tidak pada saat umurnya 65 tahun,&quot; ujarnya.



Sementara itu, beberapa pemangku kepentingan, seperti Medicare, Asosiasi Alzheimer, dan UsAgainstAlzheimer (Kita Melawan Alzheimer), dilaporkan mengikuti lokakarya yang membahas tentang desain platform tersebut, pada musim semi yang lalu.



Pusat Pelayanan Medicaid dan Medicare, yang menjalankan program asuransi tersebut, tidak membalas permintaan untuk berkomentar.



Adapun Kepala bidang sains di Asosiasi Alzheimer, Maria Carillo, mengatakan bahwa pihaknya akan membuat permohonan atas dana hibah NIA tersebut. Selama 6 tahun, akan diberikan USD50 juta (Rp748 miliar) per tahun.







</description><content:encoded>CHICAGO &amp;ndash; National Institute on Aging (NIA) di Amerika Serikat (AS) mengucurkan dana sebesar USD300 juta (Rp4,4 triliun) untuk sebuah proyek berjangka enam  tahun dalam rangka pembuatan database Alzheimer.&amp;nbsp;Ini bisa digunakan untuk mencatat kondisi kesehatan warga selama puluhan tahun dan akan bisa membantu para peneliti untuk lebih memahami penyakit tersebut.
Petinggi NIA mengatakan kepada Reuters, NIA, yang tergabung dalam Institut Kesehatan Nasional (NIH) milik pemerintah, menargetkan pembangunan platform data yang bisa menyimpan data kesehatan mayoritas warga Amerika Serikat dalam jangka panjang.

BACA JUGA:
Studi Terbaru: Otak dari 3 Lumba-Lumba yang Terdampar di Pantai Skotlandia Tunjukkan Ciri-Ciri Penyakit Alzheimer

Platform data tersebut akan mengambil data kesehatan dari catatan kesehatan, asuransi, farmasi, perangkat pribadi, sensor, dan berbagai agen pemerintahan yang lain.

BACA JUGA:
Studi: Atlet Sepakbola Lebih Berisiko 60 Persen Kena Alzheimer

&quot;Data nyata adalah hal yang kita butuhkan untuk membuat berbagai macam keputusan mengenai efektivitas obat dan menjangkau populasi secara lebih luas dari apa yang uji klinik bisa lakukan,&quot; kata Dr Nina Silverberg, Direktur pusat riset Alzheimer NIA, dikutip Antara.

Mencatat perkembangan pasien sebelum dan sesudah menunjukkan gejala Alzheimer diyakini penting dalam membuat langkah-langkah penanganan penyakit tersebut. Alzheimer bisa menjangkit 20 tahun sebelum masalah-masalah soal ingatan mulai tampak.

Penelitian Alzheimer dibantu oleh Leqembi, sebuah terobosan baru yang dibuat Eisai Co Ltd dan Biogen Inc. Pengobatan itu bisa memperlambat laju penyakit pada pasien stadium awal.
Database ini bisa mengidentifikasi orang-orang sehat yang punya resiko terkena Alzheimer, dan datanya bisa digunakan untuk uji coba obat di masa mendatang. Database ini juga diharapkan bisa menangani masalah kurangnya representasi orang-orang etnis lain dalam uji klinis Alzheimer, dan juga menarik perhatian di luar kalangan medis akademik di perkotaan.



Setelah dibangun, platform ini bisa melacak pasien yang sudah menerima pengobatan semacam Leqembi. Leqembi sudah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat, dan diharapkan akan mendapatkan izin dari Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) pada 6 Juli mendatang.



Kemungkinan fitur pelacakan tersebut akan dibutuhkan dalam paket kesehatan Medicare khusus orang dewasa, sebagai syarat untuk mengganti dana yang dikeluarkan untuk pengobatan Leqembi.



&quot;Kita tidak mendesainnya untuk hal itu,&quot; lanjutnya. Namun, dia menambahkan bahwa mungkin saja hal tersebut dilakukan.



Silverberg menambahkan bahwa platform tersebut memungkinkan para peneliti yang sedang melakukan riset penyakit lain, untuk lebih memahami jenis pasien yang paling rawan terkena dampak dari obat-obatan terkait.



Di saat pandemi, AS tertinggal dibandingkan negara-negara lain yang sistem kesehatannya bisa menganalisis data pasien untuk resiko Covid-19.


Silverberg mengatakan sistem yang direncanakan ini akan dibuat dalam lingkungan komputasi yang aman, yang dilindungi beberapa pembatasan sebagai upaya untuk membuat privasi data kesehatan lebih aman.



Program hibah yang diumumkan pada 13 Maret itu telah direncanakan selama bertahun-tahun lamanya. Dana tersebut akan mulai disalurkan pada April 2024, dengan tujuan untuk membuat daftar khusus Alzheimer pada 21 bulan yang akan datang.



Kepala bagian data di divisi sumber daya dan analisis data NIH, Partha Bhattacharyya, mengatakan bahwa dia membayangkan bahwa platform ini akan membantu peneliti untuk merekrut orang di berbagai belahan Amerika Serikat.







&quot;Jika mau berkontribusi lebih besar dalam pencegahan, kita harus mulai lebih awal. Ya tidak pada saat umurnya 65 tahun,&quot; ujarnya.



Sementara itu, beberapa pemangku kepentingan, seperti Medicare, Asosiasi Alzheimer, dan UsAgainstAlzheimer (Kita Melawan Alzheimer), dilaporkan mengikuti lokakarya yang membahas tentang desain platform tersebut, pada musim semi yang lalu.



Pusat Pelayanan Medicaid dan Medicare, yang menjalankan program asuransi tersebut, tidak membalas permintaan untuk berkomentar.



Adapun Kepala bidang sains di Asosiasi Alzheimer, Maria Carillo, mengatakan bahwa pihaknya akan membuat permohonan atas dana hibah NIA tersebut. Selama 6 tahun, akan diberikan USD50 juta (Rp748 miliar) per tahun.







</content:encoded></item></channel></rss>
