<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Bung Hatta Marahi Pejabat Jepang Jelang Proklamasi Kemerdekaan</title><description>Bung Hatta memarahi pejabat Jepang jelang proklamasi kemerdekaan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/04/337/2792466/ketika-bung-hatta-marahi-pejabat-jepang-jelang-proklamasi-kemerdekaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/04/337/2792466/ketika-bung-hatta-marahi-pejabat-jepang-jelang-proklamasi-kemerdekaan"/><item><title>Ketika Bung Hatta Marahi Pejabat Jepang Jelang Proklamasi Kemerdekaan</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/04/337/2792466/ketika-bung-hatta-marahi-pejabat-jepang-jelang-proklamasi-kemerdekaan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/04/337/2792466/ketika-bung-hatta-marahi-pejabat-jepang-jelang-proklamasi-kemerdekaan</guid><pubDate>Selasa 04 April 2023 02:40 WIB</pubDate><dc:creator>Novia Adristi Zhafira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/03/337/2792466/ketika-bung-hatta-marahi-pejabat-jepang-jelang-proklamasi-kemerdekaan-DBlv2fepbN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Hatta. (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/03/337/2792466/ketika-bung-hatta-marahi-pejabat-jepang-jelang-proklamasi-kemerdekaan-DBlv2fepbN.jpg</image><title>Bung Hatta. (Ist)</title></images><description>

DALAM persiapan proklamasi kemerdekaan, Soekarno dan Hatta harus menghadapi perbedaan pendapat dari golongan muda. Achmad Subardjo sebagai penengah golongan muda dengan Soekarno-Hatta segera menghubungi anggota-anggota PPKI.

Subardjo berencana mengadakan sidang di rumah Laksamana Maeda. Kemudian Soekarno dan Hatta yang didampingi Maeda bertemu Somubucho (Kepala Pemerintahan Umum), Nishimura.

Dikutip dalam buku &amp;ldquo;Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik&amp;rdquo; yang ditulis Adhe Riyanto, pertemuan berlangsung sangat tegang karena pihak Jepang bersikap tegas menjalankan syarat-syarat pernyataan kalah perang terhadap Sekutu.

Mulai pukul 13.00 keesokan harinya, mereka diwajibkan untuk menjaga &amp;ldquo;status quo&amp;rdquo; hingga menunggu kedatangan tentara Sekutu sehingga PPKI tidak dibenarkan untuk berkumpul mengadakan rapat, apalagi sampai menyelenggarakan proklamasi kemerdekaan.




BACA JUGA:
 Alasan Soekarno-Hatta Menolak Desakan Pemuda untuk Segera Umumkan Kemerdekaan Indonesia&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Sejak saat itu, semua pihak tidak diperbolehkan melakukan kegiatan dalam bentuk apapun. Semuanya harus berjalan seperti sebelum tengah hari. Kondisi ini cukup sulit diterima para pemimpin Indonesia.



BACA JUGA:
Pertanyaan Menohok Panglima Perang Jepang ke Hatta: Indonesia Segera Merdeka, Kapan Kau Menikah?


Sehingga, Hatta tidak dapat lagi menahan emosi ketika mendengar ucapan Nishimura. Ia marah dengan suara lantang dan mengingatkan Nishimura pada semangat samurai atau ksatria Jepang yang selama ini diajarkan kepada bangsa Indonesia.

Menurut Hatta, tidak seharusnya kekalahan Jepang meluluhkan hati prajuritnya, apalagi sampai &amp;ldquo;menjilat&amp;rdquo; musuh atau bekas musuhnya sendiri. Pada saat itu, Soekarno dengan tegas menyampaikan pendiriannya bahwa mereka akan tetap berjalan sesuai rencana.



Kemudian Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda untuk mempersiapkan Proklamasi kemerdekaan bersama anggota PPKI dan sejumlah tokoh pemuda yang hadir. Agenda yang dibahas adalah teks, penandatanganan, pembacaan, waktu dan tempat pembacaan teks.



Akhirnya, proklamasi kemerdekaan Indonesia resmi dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno dan didampingi oleh Hatta. Proklamasi kemerdekaan inilah yang menjadi bukti Indonesia telah merdeka.

</description><content:encoded>

DALAM persiapan proklamasi kemerdekaan, Soekarno dan Hatta harus menghadapi perbedaan pendapat dari golongan muda. Achmad Subardjo sebagai penengah golongan muda dengan Soekarno-Hatta segera menghubungi anggota-anggota PPKI.

Subardjo berencana mengadakan sidang di rumah Laksamana Maeda. Kemudian Soekarno dan Hatta yang didampingi Maeda bertemu Somubucho (Kepala Pemerintahan Umum), Nishimura.

Dikutip dalam buku &amp;ldquo;Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik&amp;rdquo; yang ditulis Adhe Riyanto, pertemuan berlangsung sangat tegang karena pihak Jepang bersikap tegas menjalankan syarat-syarat pernyataan kalah perang terhadap Sekutu.

Mulai pukul 13.00 keesokan harinya, mereka diwajibkan untuk menjaga &amp;ldquo;status quo&amp;rdquo; hingga menunggu kedatangan tentara Sekutu sehingga PPKI tidak dibenarkan untuk berkumpul mengadakan rapat, apalagi sampai menyelenggarakan proklamasi kemerdekaan.




BACA JUGA:
 Alasan Soekarno-Hatta Menolak Desakan Pemuda untuk Segera Umumkan Kemerdekaan Indonesia&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Sejak saat itu, semua pihak tidak diperbolehkan melakukan kegiatan dalam bentuk apapun. Semuanya harus berjalan seperti sebelum tengah hari. Kondisi ini cukup sulit diterima para pemimpin Indonesia.



BACA JUGA:
Pertanyaan Menohok Panglima Perang Jepang ke Hatta: Indonesia Segera Merdeka, Kapan Kau Menikah?


Sehingga, Hatta tidak dapat lagi menahan emosi ketika mendengar ucapan Nishimura. Ia marah dengan suara lantang dan mengingatkan Nishimura pada semangat samurai atau ksatria Jepang yang selama ini diajarkan kepada bangsa Indonesia.

Menurut Hatta, tidak seharusnya kekalahan Jepang meluluhkan hati prajuritnya, apalagi sampai &amp;ldquo;menjilat&amp;rdquo; musuh atau bekas musuhnya sendiri. Pada saat itu, Soekarno dengan tegas menyampaikan pendiriannya bahwa mereka akan tetap berjalan sesuai rencana.



Kemudian Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda untuk mempersiapkan Proklamasi kemerdekaan bersama anggota PPKI dan sejumlah tokoh pemuda yang hadir. Agenda yang dibahas adalah teks, penandatanganan, pembacaan, waktu dan tempat pembacaan teks.



Akhirnya, proklamasi kemerdekaan Indonesia resmi dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno dan didampingi oleh Hatta. Proklamasi kemerdekaan inilah yang menjadi bukti Indonesia telah merdeka.

</content:encoded></item></channel></rss>
