<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Cerita Jenderal Sarwo Edhie Wibowo Menolak Diusung Menjadi Calon Presiden</title><description>Pada tahun 1978, suhu politik Indonesia mendekati titik didih karena masifnya demonstrasi yang menuntut kekuasaan Soeharto diakhiri</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2793978/cerita-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-menolak-diusung-menjadi-calon-presiden</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2793978/cerita-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-menolak-diusung-menjadi-calon-presiden"/><item><title> Cerita Jenderal Sarwo Edhie Wibowo Menolak Diusung Menjadi Calon Presiden</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2793978/cerita-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-menolak-diusung-menjadi-calon-presiden</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2793978/cerita-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-menolak-diusung-menjadi-calon-presiden</guid><pubDate>Kamis 06 April 2023 04:14 WIB</pubDate><dc:creator>Faisal Haris</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/06/337/2793978/cerita-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-menolak-diusung-menjadi-calon-presiden-uKhpqZlgiF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sarwo Edhie/Foto: Wikipedia</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/06/337/2793978/cerita-jenderal-sarwo-edhie-wibowo-menolak-diusung-menjadi-calon-presiden-uKhpqZlgiF.jpg</image><title>Sarwo Edhie/Foto: Wikipedia</title></images><description>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8wNS8yMC8xNjQ5NzUvNS94OGpzdnAy&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Pada tahun 1978, suhu politik Indonesia mendekati titik didih karena masifnya demonstrasi yang menuntut kekuasaan Soeharto diakhiri. Di tengah hiruk-pikuk kondisi tersebut, nama Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo muncul untuk diusung sebagai calon presiden menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Mengutip buku seri Tempo berjudul &quot;Sarwo Edhie dan Misteri 1965&quot;, pada Februari 1978, tiga mantan aktivis 1966 yakni Fahmi Idris (Pendiri Grup Kodel), Abdul Latief (Pendiri Grup Sarinah Jaya), dan Christianto Wibisono (Mantan Direktur Majalah Tempo) meminta Sarwo untuk menggantikan Soeharto sebagai presiden melalui Sidang Umum MPR.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sultan Hamengku Buwono IX Ungkap Besarnya Arti Bisikan Gaib dari Nenek Moyangnya

Mereka bertiga pergi jauh-jauh ke Seoul pada musim dingin untuk menemui Sarwo, yang ketika itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Korea Selatan. Menurut mereka tindakan itu tidak ditunggangi atau mewakili siapapun.

Diusungnya Sarwo menjadi calon presiden oleh ketiga mantan aktivis tersebut karena didasarkan pada kedekatan personal dan tingkat popularitas. Fahmi, yang sudah kenal dekat dengan Sarwo sejak 1965, menyorongkan mantan Komandan RPKAD itu sebagai calon presiden karena meyakini Sarwo masih cukup populer.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rakon Perindo DPW Sultra, Yusuf Lakaseng: Struktur Partai Harus Jadi Ujung Tombak Pemenangan!

Namun, bujukan yang dilakukan ketiga mantan aktivis itu ditolak Sarwo.

&quot;Beliau menolak dengan halus. Katanya, masih banyak senior militer yang lain,&quot; kata Fahmi.

Sarwo juga melihat tidak adanya kemungkinan dirinya berhasil menjadi presiden melalui Sidang Umum MPR 1978.

&quot;Apalagi kami, menurut Pak Sarwo, juga tak punya suara di Sidang Umum MPR,&quot; beber Fahmi, seperti dikutip dalam buku seri Tempo tersebut.



Tiga hari di Seoul, ketiga aktivis 1966 itu gagal membujuk Sarwo pulang kampung dan pada akhirnya hasil Sidang Umum MPR pada Maret 1978 kembali mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI.

</description><content:encoded>
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8wNS8yMC8xNjQ5NzUvNS94OGpzdnAy&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Pada tahun 1978, suhu politik Indonesia mendekati titik didih karena masifnya demonstrasi yang menuntut kekuasaan Soeharto diakhiri. Di tengah hiruk-pikuk kondisi tersebut, nama Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo muncul untuk diusung sebagai calon presiden menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Mengutip buku seri Tempo berjudul &quot;Sarwo Edhie dan Misteri 1965&quot;, pada Februari 1978, tiga mantan aktivis 1966 yakni Fahmi Idris (Pendiri Grup Kodel), Abdul Latief (Pendiri Grup Sarinah Jaya), dan Christianto Wibisono (Mantan Direktur Majalah Tempo) meminta Sarwo untuk menggantikan Soeharto sebagai presiden melalui Sidang Umum MPR.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sultan Hamengku Buwono IX Ungkap Besarnya Arti Bisikan Gaib dari Nenek Moyangnya

Mereka bertiga pergi jauh-jauh ke Seoul pada musim dingin untuk menemui Sarwo, yang ketika itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Korea Selatan. Menurut mereka tindakan itu tidak ditunggangi atau mewakili siapapun.

Diusungnya Sarwo menjadi calon presiden oleh ketiga mantan aktivis tersebut karena didasarkan pada kedekatan personal dan tingkat popularitas. Fahmi, yang sudah kenal dekat dengan Sarwo sejak 1965, menyorongkan mantan Komandan RPKAD itu sebagai calon presiden karena meyakini Sarwo masih cukup populer.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rakon Perindo DPW Sultra, Yusuf Lakaseng: Struktur Partai Harus Jadi Ujung Tombak Pemenangan!

Namun, bujukan yang dilakukan ketiga mantan aktivis itu ditolak Sarwo.

&quot;Beliau menolak dengan halus. Katanya, masih banyak senior militer yang lain,&quot; kata Fahmi.

Sarwo juga melihat tidak adanya kemungkinan dirinya berhasil menjadi presiden melalui Sidang Umum MPR 1978.

&quot;Apalagi kami, menurut Pak Sarwo, juga tak punya suara di Sidang Umum MPR,&quot; beber Fahmi, seperti dikutip dalam buku seri Tempo tersebut.



Tiga hari di Seoul, ketiga aktivis 1966 itu gagal membujuk Sarwo pulang kampung dan pada akhirnya hasil Sidang Umum MPR pada Maret 1978 kembali mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI.

</content:encoded></item></channel></rss>
