<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Antropolog Nilai Pengobatan Ida Dayak Populer karena Orang Sudah Putus Asa</title><description>Ia, dalam beberapa video yang beredar terlihat mampu meluruskan tulang-tulang pasien yang bengkok.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2794081/antropolog-nilai-pengobatan-ida-dayak-populer-karena-orang-sudah-putus-asa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2794081/antropolog-nilai-pengobatan-ida-dayak-populer-karena-orang-sudah-putus-asa"/><item><title>Antropolog Nilai Pengobatan Ida Dayak Populer karena Orang Sudah Putus Asa</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2794081/antropolog-nilai-pengobatan-ida-dayak-populer-karena-orang-sudah-putus-asa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/06/337/2794081/antropolog-nilai-pengobatan-ida-dayak-populer-karena-orang-sudah-putus-asa</guid><pubDate>Kamis 06 April 2023 09:57 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/06/337/2794081/antropolog-nilai-pengobatan-ida-dayak-populer-karena-orang-sudah-putus-asa-szUiedzEik.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ida Dayak/Foto: Istimewa</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/06/337/2794081/antropolog-nilai-pengobatan-ida-dayak-populer-karena-orang-sudah-putus-asa-szUiedzEik.jpg</image><title>Ida Dayak/Foto: Istimewa</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8yMy8xLzE2MTMzMy81L3g4ajZqcDU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Pegobatan alternatif yang diberikan oleh Ida Andriani atau Ida Dayak viral belakangan ini di sosial media. Ia, dalam beberapa video yang beredar terlihat mampu meluruskan tulang-tulang pasien yang bengkok.

Namun, pengobatan Ida Dayah kemudian menuai pro-kontra. Seorang antropolog dari Kalimantan Timur Martinus Nanang menilai pengobatan alternatif masih menarik karena faktor &quot;putus asa&quot; masyarakat terhadap pengobatan medis.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Viral Ida Dayak, Kemenkes Sebut Pengobatan Tradisional Harus Punya Surat Praktik&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sementara, dokter spesialis ortopedi mengingatkan masyarakat agar tetap mempertimbangkan segala risiko sebelum mengunjungi pengobatan tradisional.

Di sisi lain, pemerintah memunculkan wacana tentang kewajiban ahli pengobatan tradisional untuk memiliki surat pendaftar penyehat tradisional (STPT).

Mengenal Ida Dayak

Dari hasil informasi yang dihimpun berbagai media, Ida Dayak diketahui memiliki nama asli Ida Andriani. Ia lahir di Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur tahun 1972.

Pengobatan tradisional yang dijalankan oleh Ida Dayak sudah sempat heboh pada 2021. Ia mengobati orang berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya, sambil menawarkan botol Minyak Bintang seharga Rp50.000.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Heboh Ida Dayak, Dokter Spesialis Bedah Tulang Bongkar Trik Pengobatannya hingga Singgung Ponari

Pertengahan Februari 2021, akun TikTok @Alvian2501 mengunggah video Ida Dayak yang sedang mengobati seorang pria yang tangan kanannya bengkok.

Saat mengoleskan Minyak Bintang pada pria tersebut, Ida Dayak kemudian merasakan adanya pen dalam tulang pria tersebut. &quot;Masih juga bengkok biar ada pen,&quot; katanya sembari meluruskan tangan pria tersebut.

&quot;Tidak usah bayar, gratis ya,&quot; kata Ida Dayak, dilansir dari BBC, Kamis (6/4/2023).

Video ini viral dan telah ditonton 35,5 juta kali dengan jumlah komentar sebanyak 30.000.

Selain urusan patah tulang, pengobatan tradisional Ida Dayak dalam video-video yang beredar antara lain mengobati orang yang kesulitan bicara, membuat pengguna kursi roda dapat menggerakkan kakinya, urat kejepit, hingga mata rabun.



Namun, nama sisipan &quot;Dayak&quot; ini juga mengundang tanya antropolog Universitas Mulawarman, Martinus Nanang. Musababnya, warga Kabupaten Paser cenderung mengakui dirinya sebagai etnik Paser yang terpisah dari Dayak.



&quot;Ibu Ida ini bisa saja lahir di Paser. Saya enggak tahu apakah dia lahir di Paser dari keluarga Pasernya atau orang luar yang lahir di Paser.&quot;



Berdasarkan motif pakaian dan aksesoris yang digunakan Ida Dayak, &quot;bukan motif etnik Paser, melainkan etnik Dayak Kenyah atau kelompok Kayanic yang terdiri dari Kayan, Kenyah dan Bahau.&quot;



Menurut Martinus, kemungkinan kata Dayak dipakai karena nilai jual lebih tinggi. &quot;Kata Dayak itu memiliki nilai jual, eksotismenya itu yang dijual dengan kata Dayak itu,&quot; katanya.



Mengapa pengobatan alternatif Ida Dayak diminati?



Antropolog sosial-budaya dari Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur, Martinus Nanang, mengatakan sebagian masyarakat masih percaya dengan kekuatan supranatural.



&quot;Sepertinya kepercayaan itu masih kuat di seluruh Indonesia,&quot; kata Martinus dilansir dari BBC News Indonesia, Kamis (6/4/2023).



Faktor ini yang mendominasi alasan minat masyarakat masih tinggi terhadap pengobatan alternatif, kata Martinus.










Kepercayaan terhadap yang di luar nalar itu kemudian dibuktikan melalui video yang bersirkulasi di tengah masyarakat lewat media sosial.















&quot;Orang suka melihat yang sulit dipercaya, tapi terjadi. Kalau melihat videonya, kalau tidak diedit-edit, sepertinya betulan,&quot; katanya.













Ditambah lagi, lanjut Martinus, pengobatan alternatif ini juga difasilitasi oleh TNI. &quot;Orang lebih percaya lagi, orang akan terkesan nggak main-main Ibu Dayak ini sampai ada institusi yang mendukungnya,&quot; katanya.







Dalam sebuah unggahan, bahkan mantan Panglima TNI Andika Perkasa menyempatkan diri menyapa Ida Dayak saat sedang makan.







Martinus juga menilai minat masyarakat terhadap pengobatan alternatif bukan karena menolak pengobatan medis.







&quot;Di Kalimantan, di pedalaman itu, orang kalau sakit enggak ke alternatif dulu. Beli obat dulu, pergi ke dokter, pergi ke rumah sakit. Nanti kalau sudah putus asa nanti kembali ke alternatif,&quot; katanya.







Kondisi ini, kata Martinus, umumnya juga berlaku untuk masyarakat di wilayah lainnya. Masyarakat yang frustasi penyakitnya tak kunjung sembuh karena pengobatan medis, akan mencari sosok yang memiliki mukjizat untuk menyembuhkan.







Ia juga meyakini hal ini akan terus ada di tengah masyarakat Indonesia. Sebelumnya juga terdapat kasus pengobatan alternatif yang sempat menghebohkan di Indonesia, tapi kemudian surut.







Contoh kehebohan pengobatan alternatif ini adalah Ponari Batu Petir (2010-2011) dan Ningsih Tinampi (2015).







Tapi pengobatan alternatifnya berangsur-angsur tak lagi jadi pembicaraan warganet.







&quot;Saya yakin, ke depan akan ada orang-orang seperti itu. Tapi dia tidak akan menjadi fenomena dominan. Muncul kemudian tenggelam, terus nanti yang lain muncul lagi,&quot; kata Martinus sambil menambahkan hal ini tak perlu ditolak meskipun tak bisa diterima nalar.







&quot;Biarlah masyarakat berkembang menilainya sendiri, enggak perlu ditolak. Dan orang kan mencari jalan, terutama jadi ultimate solution ketika yang lain enggak jalan. Orang akhirnya cari jalan akhir, oh itu bisa membantu.&quot;







Dalam kasus tertentu, pengobatan alternatif justru dikembangkan menjadi pengobatan medis, seperti refleksologi.



</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8yMy8xLzE2MTMzMy81L3g4ajZqcDU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Pegobatan alternatif yang diberikan oleh Ida Andriani atau Ida Dayak viral belakangan ini di sosial media. Ia, dalam beberapa video yang beredar terlihat mampu meluruskan tulang-tulang pasien yang bengkok.

Namun, pengobatan Ida Dayah kemudian menuai pro-kontra. Seorang antropolog dari Kalimantan Timur Martinus Nanang menilai pengobatan alternatif masih menarik karena faktor &quot;putus asa&quot; masyarakat terhadap pengobatan medis.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Viral Ida Dayak, Kemenkes Sebut Pengobatan Tradisional Harus Punya Surat Praktik&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Sementara, dokter spesialis ortopedi mengingatkan masyarakat agar tetap mempertimbangkan segala risiko sebelum mengunjungi pengobatan tradisional.

Di sisi lain, pemerintah memunculkan wacana tentang kewajiban ahli pengobatan tradisional untuk memiliki surat pendaftar penyehat tradisional (STPT).

Mengenal Ida Dayak

Dari hasil informasi yang dihimpun berbagai media, Ida Dayak diketahui memiliki nama asli Ida Andriani. Ia lahir di Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur tahun 1972.

Pengobatan tradisional yang dijalankan oleh Ida Dayak sudah sempat heboh pada 2021. Ia mengobati orang berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnya, sambil menawarkan botol Minyak Bintang seharga Rp50.000.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Heboh Ida Dayak, Dokter Spesialis Bedah Tulang Bongkar Trik Pengobatannya hingga Singgung Ponari

Pertengahan Februari 2021, akun TikTok @Alvian2501 mengunggah video Ida Dayak yang sedang mengobati seorang pria yang tangan kanannya bengkok.

Saat mengoleskan Minyak Bintang pada pria tersebut, Ida Dayak kemudian merasakan adanya pen dalam tulang pria tersebut. &quot;Masih juga bengkok biar ada pen,&quot; katanya sembari meluruskan tangan pria tersebut.

&quot;Tidak usah bayar, gratis ya,&quot; kata Ida Dayak, dilansir dari BBC, Kamis (6/4/2023).

Video ini viral dan telah ditonton 35,5 juta kali dengan jumlah komentar sebanyak 30.000.

Selain urusan patah tulang, pengobatan tradisional Ida Dayak dalam video-video yang beredar antara lain mengobati orang yang kesulitan bicara, membuat pengguna kursi roda dapat menggerakkan kakinya, urat kejepit, hingga mata rabun.



Namun, nama sisipan &quot;Dayak&quot; ini juga mengundang tanya antropolog Universitas Mulawarman, Martinus Nanang. Musababnya, warga Kabupaten Paser cenderung mengakui dirinya sebagai etnik Paser yang terpisah dari Dayak.



&quot;Ibu Ida ini bisa saja lahir di Paser. Saya enggak tahu apakah dia lahir di Paser dari keluarga Pasernya atau orang luar yang lahir di Paser.&quot;



Berdasarkan motif pakaian dan aksesoris yang digunakan Ida Dayak, &quot;bukan motif etnik Paser, melainkan etnik Dayak Kenyah atau kelompok Kayanic yang terdiri dari Kayan, Kenyah dan Bahau.&quot;



Menurut Martinus, kemungkinan kata Dayak dipakai karena nilai jual lebih tinggi. &quot;Kata Dayak itu memiliki nilai jual, eksotismenya itu yang dijual dengan kata Dayak itu,&quot; katanya.



Mengapa pengobatan alternatif Ida Dayak diminati?



Antropolog sosial-budaya dari Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur, Martinus Nanang, mengatakan sebagian masyarakat masih percaya dengan kekuatan supranatural.



&quot;Sepertinya kepercayaan itu masih kuat di seluruh Indonesia,&quot; kata Martinus dilansir dari BBC News Indonesia, Kamis (6/4/2023).



Faktor ini yang mendominasi alasan minat masyarakat masih tinggi terhadap pengobatan alternatif, kata Martinus.










Kepercayaan terhadap yang di luar nalar itu kemudian dibuktikan melalui video yang bersirkulasi di tengah masyarakat lewat media sosial.















&quot;Orang suka melihat yang sulit dipercaya, tapi terjadi. Kalau melihat videonya, kalau tidak diedit-edit, sepertinya betulan,&quot; katanya.













Ditambah lagi, lanjut Martinus, pengobatan alternatif ini juga difasilitasi oleh TNI. &quot;Orang lebih percaya lagi, orang akan terkesan nggak main-main Ibu Dayak ini sampai ada institusi yang mendukungnya,&quot; katanya.







Dalam sebuah unggahan, bahkan mantan Panglima TNI Andika Perkasa menyempatkan diri menyapa Ida Dayak saat sedang makan.







Martinus juga menilai minat masyarakat terhadap pengobatan alternatif bukan karena menolak pengobatan medis.







&quot;Di Kalimantan, di pedalaman itu, orang kalau sakit enggak ke alternatif dulu. Beli obat dulu, pergi ke dokter, pergi ke rumah sakit. Nanti kalau sudah putus asa nanti kembali ke alternatif,&quot; katanya.







Kondisi ini, kata Martinus, umumnya juga berlaku untuk masyarakat di wilayah lainnya. Masyarakat yang frustasi penyakitnya tak kunjung sembuh karena pengobatan medis, akan mencari sosok yang memiliki mukjizat untuk menyembuhkan.







Ia juga meyakini hal ini akan terus ada di tengah masyarakat Indonesia. Sebelumnya juga terdapat kasus pengobatan alternatif yang sempat menghebohkan di Indonesia, tapi kemudian surut.







Contoh kehebohan pengobatan alternatif ini adalah Ponari Batu Petir (2010-2011) dan Ningsih Tinampi (2015).







Tapi pengobatan alternatifnya berangsur-angsur tak lagi jadi pembicaraan warganet.







&quot;Saya yakin, ke depan akan ada orang-orang seperti itu. Tapi dia tidak akan menjadi fenomena dominan. Muncul kemudian tenggelam, terus nanti yang lain muncul lagi,&quot; kata Martinus sambil menambahkan hal ini tak perlu ditolak meskipun tak bisa diterima nalar.







&quot;Biarlah masyarakat berkembang menilainya sendiri, enggak perlu ditolak. Dan orang kan mencari jalan, terutama jadi ultimate solution ketika yang lain enggak jalan. Orang akhirnya cari jalan akhir, oh itu bisa membantu.&quot;







Dalam kasus tertentu, pengobatan alternatif justru dikembangkan menjadi pengobatan medis, seperti refleksologi.



</content:encoded></item></channel></rss>
