<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ogah Repot dan Takut Tak Punya Uang, Separuh Lajang di Jepang Enggan Nikah</title><description>Separuh orang lajang di Jepang berusia di bawah 30 tahun menyatakan diri tak tertarik memiliki anak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/08/18/2795326/ogah-repot-dan-takut-tak-punya-uang-separuh-lajang-di-jepang-enggan-nikah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/08/18/2795326/ogah-repot-dan-takut-tak-punya-uang-separuh-lajang-di-jepang-enggan-nikah"/><item><title>Ogah Repot dan Takut Tak Punya Uang, Separuh Lajang di Jepang Enggan Nikah</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/08/18/2795326/ogah-repot-dan-takut-tak-punya-uang-separuh-lajang-di-jepang-enggan-nikah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/08/18/2795326/ogah-repot-dan-takut-tak-punya-uang-separuh-lajang-di-jepang-enggan-nikah</guid><pubDate>Sabtu 08 April 2023 16:52 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Fadli Rizal</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/08/18/2795326/ogah-repot-dan-takut-tak-punya-uang-separuh-lajang-di-jepang-enggan-nikah-zBnUosbkWf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi lajang di Jepang (Foto Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/08/18/2795326/ogah-repot-dan-takut-tak-punya-uang-separuh-lajang-di-jepang-enggan-nikah-zBnUosbkWf.jpg</image><title>Ilustrasi lajang di Jepang (Foto Freepik)</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8wNi82Ni8xNjQ5OTMvNS94OGp0dWdh&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JEPANG - Separuh orang lajang di Jepang berusia di bawah 30 tahun menyatakan diri tak tertarik memiliki anak. Hal itu terungkap dalam survei yang dilakukan perusahaan farmasi Rohto Pharmaceutical Co.

Para responden dalam survei itu mengaku enggan memiliki anak karena beberapa hal. Mereka enggan pusing karena masalah ekonomi, beban melahirkan, dan tugas mengasuh anak.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Produsen Jepang Mulai Main Skutik Klasik, Vespa Malah Bilang Begini

Dari 400 responden yang berusia 18--29 tahun, 49,4 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak ingin mempunyai anak. Persentase tersebut tertinggi dari tiga survei tahunan yang telah dilakukan oleh Rohto.

Rohto mengatakan apabila dikelompokan berdasarkan gender, ditemukan bahwa 53,0 persen pria dan 45,6 persen perempuan tidak tertarik untuk menjadi orang tua. Mereka mengungkap tak ingin punya anak karena tingginya biaya hidup dan khawatir dengan masa depan Jepang.

Perusahaan yang berbasis di Osaka itu menuturkan hasil survei daring yang dilakukan pada Januari itu muncul setelah data pemerintah menunjukkan bahwa jumlah bayi yang lahir di Jepang turun pada tahun lalu menjadi di bawah 800.000 kelahiran.
Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pencatatan kelahiran bayi dimulai pada 1899.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

1,5 Juta Orang Jepang Anut Hikikomori, Kurung Diri dan Ogah Bergaul

Jepang memiliki populasi usia tua yang bertambah dengan cepat. Untuk meningkatkan angka kelahiran, pemerintah pada April telah meluncurkan Badan Anak dan Keluarga untuk mengawasi kebijakan anak, termasuk pelecehan anak dan kemiskinan.

Survei perusahaan itu pada 2022 menemukan bahwa 48,1 persen pria dan perempuan menikah, yang ingin memiliki anak, bekerja sama untuk kesuburan pasangan mereka. Survei tersebut melibatkan 800 pasangan menikah yang berusia 25--44 tahun.

Angka tersebut turun signifikan dari 60,3 persen dalam survei pada 2020.

Seorang pejabat Rohto berspekulasi bahwa orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu dengan pasangan mereka karena kehidupan berangsur normal setelah pandemi virus corona.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8wNi82Ni8xNjQ5OTMvNS94OGp0dWdh&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JEPANG - Separuh orang lajang di Jepang berusia di bawah 30 tahun menyatakan diri tak tertarik memiliki anak. Hal itu terungkap dalam survei yang dilakukan perusahaan farmasi Rohto Pharmaceutical Co.

Para responden dalam survei itu mengaku enggan memiliki anak karena beberapa hal. Mereka enggan pusing karena masalah ekonomi, beban melahirkan, dan tugas mengasuh anak.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Produsen Jepang Mulai Main Skutik Klasik, Vespa Malah Bilang Begini

Dari 400 responden yang berusia 18--29 tahun, 49,4 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak ingin mempunyai anak. Persentase tersebut tertinggi dari tiga survei tahunan yang telah dilakukan oleh Rohto.

Rohto mengatakan apabila dikelompokan berdasarkan gender, ditemukan bahwa 53,0 persen pria dan 45,6 persen perempuan tidak tertarik untuk menjadi orang tua. Mereka mengungkap tak ingin punya anak karena tingginya biaya hidup dan khawatir dengan masa depan Jepang.

Perusahaan yang berbasis di Osaka itu menuturkan hasil survei daring yang dilakukan pada Januari itu muncul setelah data pemerintah menunjukkan bahwa jumlah bayi yang lahir di Jepang turun pada tahun lalu menjadi di bawah 800.000 kelahiran.
Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pencatatan kelahiran bayi dimulai pada 1899.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

1,5 Juta Orang Jepang Anut Hikikomori, Kurung Diri dan Ogah Bergaul

Jepang memiliki populasi usia tua yang bertambah dengan cepat. Untuk meningkatkan angka kelahiran, pemerintah pada April telah meluncurkan Badan Anak dan Keluarga untuk mengawasi kebijakan anak, termasuk pelecehan anak dan kemiskinan.

Survei perusahaan itu pada 2022 menemukan bahwa 48,1 persen pria dan perempuan menikah, yang ingin memiliki anak, bekerja sama untuk kesuburan pasangan mereka. Survei tersebut melibatkan 800 pasangan menikah yang berusia 25--44 tahun.

Angka tersebut turun signifikan dari 60,3 persen dalam survei pada 2020.

Seorang pejabat Rohto berspekulasi bahwa orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu dengan pasangan mereka karena kehidupan berangsur normal setelah pandemi virus corona.</content:encoded></item></channel></rss>
