<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KPK: Penangkapan Koruptor Masih Kalah dengan Kecepatan Regenerasi Koruptornya</title><description>Upaya penangkapan yang dilakukan KPK menjadi sia-sia dan tak berarti untuk pemberantasan korupsi di tanah air.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/13/337/2798126/kpk-penangkapan-koruptor-masih-kalah-dengan-kecepatan-regenerasi-koruptornya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/13/337/2798126/kpk-penangkapan-koruptor-masih-kalah-dengan-kecepatan-regenerasi-koruptornya"/><item><title>KPK: Penangkapan Koruptor Masih Kalah dengan Kecepatan Regenerasi Koruptornya</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/13/337/2798126/kpk-penangkapan-koruptor-masih-kalah-dengan-kecepatan-regenerasi-koruptornya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/13/337/2798126/kpk-penangkapan-koruptor-masih-kalah-dengan-kecepatan-regenerasi-koruptornya</guid><pubDate>Kamis 13 April 2023 16:06 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Al Fiqri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/13/337/2798126/kpk-penangkapan-koruptor-masih-kalah-dengan-kecepatan-regenerasi-koruptornya-QNvRA4L4Bq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/13/337/2798126/kpk-penangkapan-koruptor-masih-kalah-dengan-kecepatan-regenerasi-koruptornya-QNvRA4L4Bq.jpg</image><title>Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xMy8xLzE2NTIxMC81L3g4azFxYnU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron mengatakan bahwa upaya penangkapan koruptor terasa sia-sia lantaran daya regenarasi para koruptor terlampau lebih cepat.
&quot;KPK menangkap para pejabat dan bupati, walikota, gubernur sampai para menteri. Anggota dewan dan lain-lain itu ketepatannya sudah tepat. Tetapi daya menangkapnya masih kalah dengan daya kecepatan regenerasi koruptornya,&quot; tutur Ghufron dalam sambutan pada kegiatan MoU pemberantasan korupsi dengan DMI, di Kantor DMI, Jakarta Timur, Kamis (13/4/2023).
Menurutnya, upaya penangkapan yang dilakukan KPK menjadi sia-sia dan tak berarti untuk pemberantasan korupsi di tanah air. Ia merasa, perbaikan di sektor hulu perlu dilakukan guna memberantas korupsi.

BACA JUGA:
Kumpulkan Alat Bukti, KPK Perpanjang Masa Tahanan Rafael Alun Trisambodo

&quot;Proses di hulunya yaitu proses politik yang gagal, demokrasinya, demokrasi yang melahirkan bukan orang-orang yang secara baik kapabilitas, baik kompetensi maupun integritas dan komitmennya untuk rakyat itu tidak ada, karena asumsinya kemudian seakan-akan jabatan hanya pertarungan modal untuk mendudukinya,&quot; terang Ghufron.

BACA JUGA:
KPK Ungkap Total Suap Kasus Proyek Jalur KA Capai Rp14,5 Miliar

Ghufron merasa praktik korupsi bukan lagi menjadi potensi, melainkan suatu hal yang pasti. &quot;Yang tidak tertangkap hanya belum apes saja. Yang ditangkap apes saja. Ini fakta yang terjadi tentang kehidupan berbangsa kita saat ini,&quot; terang Ghufron.Menurutnya, praktik korupsi di tanah air telah menyentuh hingga akar. Salah satunya, ada tokoh agama yang meminta timbal balik lantaran telah memberi dukungan terhadap kepala daerah.

&quot;Mohon maaf ada bupati didukung para kiai dan macam-macam. Ketika duduk, tidak mampu menyumbang pada pondok dan masih banyak dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, minimal dianggap pelit,&quot; tutur Ghufron.

&quot;Ini yang mari kita kemudian sadari bersama. Kalau kondisinya seperti ini kita berbangsa sudah menjelang 77 tahun itu kita tidak sedang menuju negara yang kita cita-citakan oleh para penghuni bangsa. Negara yang kita hidup bersama untuk sebuah kemampuan dan keadilan bersama tidak akan tercapai kalau kemudian proses politiknya masih ini,&quot; terang Ghufron.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xMy8xLzE2NTIxMC81L3g4azFxYnU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron mengatakan bahwa upaya penangkapan koruptor terasa sia-sia lantaran daya regenarasi para koruptor terlampau lebih cepat.
&quot;KPK menangkap para pejabat dan bupati, walikota, gubernur sampai para menteri. Anggota dewan dan lain-lain itu ketepatannya sudah tepat. Tetapi daya menangkapnya masih kalah dengan daya kecepatan regenerasi koruptornya,&quot; tutur Ghufron dalam sambutan pada kegiatan MoU pemberantasan korupsi dengan DMI, di Kantor DMI, Jakarta Timur, Kamis (13/4/2023).
Menurutnya, upaya penangkapan yang dilakukan KPK menjadi sia-sia dan tak berarti untuk pemberantasan korupsi di tanah air. Ia merasa, perbaikan di sektor hulu perlu dilakukan guna memberantas korupsi.

BACA JUGA:
Kumpulkan Alat Bukti, KPK Perpanjang Masa Tahanan Rafael Alun Trisambodo

&quot;Proses di hulunya yaitu proses politik yang gagal, demokrasinya, demokrasi yang melahirkan bukan orang-orang yang secara baik kapabilitas, baik kompetensi maupun integritas dan komitmennya untuk rakyat itu tidak ada, karena asumsinya kemudian seakan-akan jabatan hanya pertarungan modal untuk mendudukinya,&quot; terang Ghufron.

BACA JUGA:
KPK Ungkap Total Suap Kasus Proyek Jalur KA Capai Rp14,5 Miliar

Ghufron merasa praktik korupsi bukan lagi menjadi potensi, melainkan suatu hal yang pasti. &quot;Yang tidak tertangkap hanya belum apes saja. Yang ditangkap apes saja. Ini fakta yang terjadi tentang kehidupan berbangsa kita saat ini,&quot; terang Ghufron.Menurutnya, praktik korupsi di tanah air telah menyentuh hingga akar. Salah satunya, ada tokoh agama yang meminta timbal balik lantaran telah memberi dukungan terhadap kepala daerah.

&quot;Mohon maaf ada bupati didukung para kiai dan macam-macam. Ketika duduk, tidak mampu menyumbang pada pondok dan masih banyak dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, minimal dianggap pelit,&quot; tutur Ghufron.

&quot;Ini yang mari kita kemudian sadari bersama. Kalau kondisinya seperti ini kita berbangsa sudah menjelang 77 tahun itu kita tidak sedang menuju negara yang kita cita-citakan oleh para penghuni bangsa. Negara yang kita hidup bersama untuk sebuah kemampuan dan keadilan bersama tidak akan tercapai kalau kemudian proses politiknya masih ini,&quot; terang Ghufron.</content:encoded></item></channel></rss>
