<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketika Soekarno Lupa Sedang Menyamar saat Turun ke Masyarakat, Ribuan Orang Mengerubungi</title><description>Ketika Soekarno Lupa Sedang Menyamar saat Turun ke Masyarakat, Ribuan Orang Mengerubungi</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/14/337/2798305/ketika-soekarno-lupa-sedang-menyamar-saat-turun-ke-masyarakat-ribuan-orang-mengerubungi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/14/337/2798305/ketika-soekarno-lupa-sedang-menyamar-saat-turun-ke-masyarakat-ribuan-orang-mengerubungi"/><item><title>Ketika Soekarno Lupa Sedang Menyamar saat Turun ke Masyarakat, Ribuan Orang Mengerubungi</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/14/337/2798305/ketika-soekarno-lupa-sedang-menyamar-saat-turun-ke-masyarakat-ribuan-orang-mengerubungi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/14/337/2798305/ketika-soekarno-lupa-sedang-menyamar-saat-turun-ke-masyarakat-ribuan-orang-mengerubungi</guid><pubDate>Jum'at 14 April 2023 03:22 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/13/337/2798305/ketika-soekarno-lupa-sedang-menyamar-saat-turun-ke-masyarakat-ribuan-orang-mengerubungi-nHJSBQBslX.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Soekarno (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/13/337/2798305/ketika-soekarno-lupa-sedang-menyamar-saat-turun-ke-masyarakat-ribuan-orang-mengerubungi-nHJSBQBslX.jpeg</image><title>Soekarno (Ist)</title></images><description>

&amp;nbsp;SELAMA&amp;nbsp; menjadi Presiden, Soekarno sering turun langsung ke tengah-tengah masyarakat. Ada kalanya Soekarno bahkan harus menyamar agar warga tidak mengetahui keberadaannya. Namun, suatu waktu, Soekarno lupa menyamar ketika tengah turun ke masyarakat hingga akhirnya dirinya ketahuan.

Dalam buku &amp;lsquo;Total Soekarno&amp;rsquo; karya Roso Daras, disebutkan ada kalanya Bung Karno lupa dirinya sedang menyamar. Lupa untuk tidak berbicara atau lupa untuk tidak mengeluarkan suara. Seperti yang terjadi di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, di dekat lokasi pembangunan gudang stasiun.

Saat itu, secara spontan ia bertanya kepada tukang bangunan.


&amp;ldquo;Dari mana diambil batubata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?&amp;rdquo;

Apa yang terjadi setelah Bung Karno bersuara? Belum sempat tukang bangunan menjawab pertanyaan Bung Karno, terdengar seorang perempuan berteriak sangat kencang. &amp;ldquo;Itu suara Bapak&amp;hellip; Ya&amp;hellip; suara Bapak!!!&amp;hellip; Hee&amp;hellip; orang-orang, ini Bapak&amp;hellip;. Bapak&amp;hellip;.!!!!&amp;rdquo;

Dalam sekejap ratusan, kemudian ribuan orang menyemut mengerubungi Bung Karno. Mereka berebut untuk menyalami, suasana pun jadi gaduh.




BACA JUGA:
 Alasan Soekarno-Hatta Menolak Desakan Pemuda untuk Segera Umumkan Kemerdekaan Indonesia&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Ajudan segera mengamankan Bung Karno, menyibak kerubungan massa, memasukkannya ke mobil, dan menghilang.

Dalam biografinya &quot;Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia &quot;karya Cindy Adams, ia mengatakan, sering merasa lemas, napas seakan berhenti apabila tidak bisa keluar Istana dan bersatu dengan rakyat-jelata yang melahirkannya.



BACA JUGA:
2 Buku Kegemaran Soekarno, Salah Satunya Didapat saat Dalam Penjara&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Karena itu, Soekarno tak jarang keluar Istana seorang diri. Ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman.


Bagaimana ia menyamar? Menurut Bung Karno, tidak terlalu sulit. Sebab, rakyat kebanyakan sangat lekat dengan penampilan Bung Karno khas dengan baju seragam dan peci hitam.



Karena itu, ketika Bung Karno berganti pakaian, memakai sandal, pantalon, atau hanya berkemeja, lalu mengenakan kacamata berbingkai tanduk, rupa Bung Karno langsung berbeda.







Dengan cara itu, Bung Karno bisa leluasa masuk-keluar pasar tanpa dikenali orang. Ia merasa kepunyaan rakyat, karenanya menjadi lebih nyaman bila berada di tengah rakyat.



Perasaan Bung Karno langsung tenteram jika mendengar percakapan riuh orang-orang.





Bung Karno menyimak rakyat bergunjing, rakyat bergosip, rakyat berdebat, rakyat berkelakar, rakyat bercumbu-kasih. Pada saat itulah Bung Karno merasakan sebuah kekuatan merasuk, mengaliri seluruh pembuluh darah.



Dari satu tempat ke tempat lain, sesekali bahkan Bung Karno berhenti di pinggir jalan, memesan sate ayam yang disajikan menggunakan pincuk dan pisang, dan memakannya sambil duduk di trotoar. Saat-saat seperti itulah Bung Karno merasakan kesenangan luar biasa.





</description><content:encoded>

&amp;nbsp;SELAMA&amp;nbsp; menjadi Presiden, Soekarno sering turun langsung ke tengah-tengah masyarakat. Ada kalanya Soekarno bahkan harus menyamar agar warga tidak mengetahui keberadaannya. Namun, suatu waktu, Soekarno lupa menyamar ketika tengah turun ke masyarakat hingga akhirnya dirinya ketahuan.

Dalam buku &amp;lsquo;Total Soekarno&amp;rsquo; karya Roso Daras, disebutkan ada kalanya Bung Karno lupa dirinya sedang menyamar. Lupa untuk tidak berbicara atau lupa untuk tidak mengeluarkan suara. Seperti yang terjadi di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, di dekat lokasi pembangunan gudang stasiun.

Saat itu, secara spontan ia bertanya kepada tukang bangunan.


&amp;ldquo;Dari mana diambil batubata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?&amp;rdquo;

Apa yang terjadi setelah Bung Karno bersuara? Belum sempat tukang bangunan menjawab pertanyaan Bung Karno, terdengar seorang perempuan berteriak sangat kencang. &amp;ldquo;Itu suara Bapak&amp;hellip; Ya&amp;hellip; suara Bapak!!!&amp;hellip; Hee&amp;hellip; orang-orang, ini Bapak&amp;hellip;. Bapak&amp;hellip;.!!!!&amp;rdquo;

Dalam sekejap ratusan, kemudian ribuan orang menyemut mengerubungi Bung Karno. Mereka berebut untuk menyalami, suasana pun jadi gaduh.




BACA JUGA:
 Alasan Soekarno-Hatta Menolak Desakan Pemuda untuk Segera Umumkan Kemerdekaan Indonesia&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Ajudan segera mengamankan Bung Karno, menyibak kerubungan massa, memasukkannya ke mobil, dan menghilang.

Dalam biografinya &quot;Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia &quot;karya Cindy Adams, ia mengatakan, sering merasa lemas, napas seakan berhenti apabila tidak bisa keluar Istana dan bersatu dengan rakyat-jelata yang melahirkannya.



BACA JUGA:
2 Buku Kegemaran Soekarno, Salah Satunya Didapat saat Dalam Penjara&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Karena itu, Soekarno tak jarang keluar Istana seorang diri. Ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman.


Bagaimana ia menyamar? Menurut Bung Karno, tidak terlalu sulit. Sebab, rakyat kebanyakan sangat lekat dengan penampilan Bung Karno khas dengan baju seragam dan peci hitam.



Karena itu, ketika Bung Karno berganti pakaian, memakai sandal, pantalon, atau hanya berkemeja, lalu mengenakan kacamata berbingkai tanduk, rupa Bung Karno langsung berbeda.







Dengan cara itu, Bung Karno bisa leluasa masuk-keluar pasar tanpa dikenali orang. Ia merasa kepunyaan rakyat, karenanya menjadi lebih nyaman bila berada di tengah rakyat.



Perasaan Bung Karno langsung tenteram jika mendengar percakapan riuh orang-orang.





Bung Karno menyimak rakyat bergunjing, rakyat bergosip, rakyat berdebat, rakyat berkelakar, rakyat bercumbu-kasih. Pada saat itulah Bung Karno merasakan sebuah kekuatan merasuk, mengaliri seluruh pembuluh darah.



Dari satu tempat ke tempat lain, sesekali bahkan Bung Karno berhenti di pinggir jalan, memesan sate ayam yang disajikan menggunakan pincuk dan pisang, dan memakannya sambil duduk di trotoar. Saat-saat seperti itulah Bung Karno merasakan kesenangan luar biasa.





</content:encoded></item></channel></rss>
