<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyabab Sulitnya Evakuasi Pratu Miftahul Arifin, Cuaca Buruk dan Medan Pegunungan   </title><description>Cuaca dan medan pegunungan menjadi penghambat evakuasi jenazah Pratu Miftahul Arifin.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/18/337/2800393/penyabab-sulitnya-evakuasi-pratu-miftahul-arifin-cuaca-buruk-dan-medan-pegunungan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/18/337/2800393/penyabab-sulitnya-evakuasi-pratu-miftahul-arifin-cuaca-buruk-dan-medan-pegunungan"/><item><title>Penyabab Sulitnya Evakuasi Pratu Miftahul Arifin, Cuaca Buruk dan Medan Pegunungan   </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/18/337/2800393/penyabab-sulitnya-evakuasi-pratu-miftahul-arifin-cuaca-buruk-dan-medan-pegunungan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/18/337/2800393/penyabab-sulitnya-evakuasi-pratu-miftahul-arifin-cuaca-buruk-dan-medan-pegunungan</guid><pubDate>Selasa 18 April 2023 00:02 WIB</pubDate><dc:creator>Riana Rizkia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/17/337/2800393/penyabab-sulitnya-evakuasi-pratu-miftahul-arifin-cuaca-buruk-dan-medan-pegunungan-mJozll9DH6.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Laksda Julius Widjojono. (Foto: Riana Rizkia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/17/337/2800393/penyabab-sulitnya-evakuasi-pratu-miftahul-arifin-cuaca-buruk-dan-medan-pegunungan-mJozll9DH6.jpeg</image><title>Laksda Julius Widjojono. (Foto: Riana Rizkia)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xNy8xLzE2NTMxNi81L3g4azV3c2w=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Laksamana Muda Julius Widjojono mengatakan, cuaca dan medan pegunungan menjadi penghambat evakuasi jenazah Pratu Miftahul Arifin.&amp;nbsp;

&quot;Cuaca dan medan yang menyulitkan,&quot; kata Julius saat dihubungi MNC Portal, Senin (17/4/2023) malam.

Prajurit yang gugur usai ditembak Kelompok Separatis Terorisme (KST) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) teroris di Nduga, Papua, pada Sabtu, 15 April 2023 itu masih berada di jurang sedalam 15 meter.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Kontak Tembak KKB dan TNI: 1 Prajurit Gugur, 4 Sudah Kembali, 5 Hilang Kontak&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Julius mengungkap, pihaknya telah mengerahkan satu helikopter pagi ini. Namun nahas hujan turun begitu lebat, sehingga proses evakuasi pun terhambat.&amp;nbsp;

&quot;Tadi pagi helikopter sudah mendekat namun balik kanan karena hujan lebat,&quot; kata Julius.&amp;nbsp;

Hal serupa diungkap Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen Bambang Ismawan. Ia mengatakan, hingga siang hari, jenazah belum bisa dievakuasi.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Bukan 6 Prajurit, TNI Tegaskan Satu Orang yang Gugur Akibat Serangan KKB di Nduga Papua

&quot;Sampai tadi siang belum bisa diambil karena memang, pertama di sana cuacanya tidak menentu, kadang-kadang satu hari hanya dua jam cerah abis itu tertutup kabut,&quot; kata Bambang di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin (17/4/2023).&quot;Jadi untuk pengambilan jenazah helikopter kan kita tidak bisa langsung merapat. Karena memang di samping cuaca kan medannya bukan medan datar. Ya itu memang kendala utama,&quot; sambungnya.



</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xNy8xLzE2NTMxNi81L3g4azV3c2w=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Laksamana Muda Julius Widjojono mengatakan, cuaca dan medan pegunungan menjadi penghambat evakuasi jenazah Pratu Miftahul Arifin.&amp;nbsp;

&quot;Cuaca dan medan yang menyulitkan,&quot; kata Julius saat dihubungi MNC Portal, Senin (17/4/2023) malam.

Prajurit yang gugur usai ditembak Kelompok Separatis Terorisme (KST) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) teroris di Nduga, Papua, pada Sabtu, 15 April 2023 itu masih berada di jurang sedalam 15 meter.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Kontak Tembak KKB dan TNI: 1 Prajurit Gugur, 4 Sudah Kembali, 5 Hilang Kontak&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Julius mengungkap, pihaknya telah mengerahkan satu helikopter pagi ini. Namun nahas hujan turun begitu lebat, sehingga proses evakuasi pun terhambat.&amp;nbsp;

&quot;Tadi pagi helikopter sudah mendekat namun balik kanan karena hujan lebat,&quot; kata Julius.&amp;nbsp;

Hal serupa diungkap Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen Bambang Ismawan. Ia mengatakan, hingga siang hari, jenazah belum bisa dievakuasi.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Bukan 6 Prajurit, TNI Tegaskan Satu Orang yang Gugur Akibat Serangan KKB di Nduga Papua

&quot;Sampai tadi siang belum bisa diambil karena memang, pertama di sana cuacanya tidak menentu, kadang-kadang satu hari hanya dua jam cerah abis itu tertutup kabut,&quot; kata Bambang di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin (17/4/2023).&quot;Jadi untuk pengambilan jenazah helikopter kan kita tidak bisa langsung merapat. Karena memang di samping cuaca kan medannya bukan medan datar. Ya itu memang kendala utama,&quot; sambungnya.



</content:encoded></item></channel></rss>
