<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Beragam Strategi Jitu Sarwo Edhie Wibowo Kawal Pepera 1969</title><description>Beragam Strategi Jitu Sarwo Edhie Wibowo Kawal Pepera 1969
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2800802/beragam-strategi-jitu-sarwo-edhie-wibowo-kawal-pepera-1969</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2800802/beragam-strategi-jitu-sarwo-edhie-wibowo-kawal-pepera-1969"/><item><title>Beragam Strategi Jitu Sarwo Edhie Wibowo Kawal Pepera 1969</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2800802/beragam-strategi-jitu-sarwo-edhie-wibowo-kawal-pepera-1969</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2800802/beragam-strategi-jitu-sarwo-edhie-wibowo-kawal-pepera-1969</guid><pubDate>Rabu 19 April 2023 10:31 WIB</pubDate><dc:creator>Faisal Haris</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/18/337/2800802/beragam-strategi-jitu-sarwo-edhie-wibowo-kawal-pepera-1969-fx9ugmuy6A.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sarwo Edhie Wibowo. (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/18/337/2800802/beragam-strategi-jitu-sarwo-edhie-wibowo-kawal-pepera-1969-fx9ugmuy6A.jpg</image><title>Sarwo Edhie Wibowo. (Ist)</title></images><description>


JAKARTA - Sarwo Edhie Wibowo merupakan seorang perwira tinggi militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berpangkat Jenderal. Sarwo Edhie punya banyak rekam jejak yang cukup cemerlang sewaktu berkarier sebagai TNI. Salah satunya sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih pada 1968-1970.

Ketika mengetahui akan dijadikan sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Jenderal Sarwo Edhie tampak semangat.

&quot;Ini tantangan untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia,&quot; ujar Sarwo ditirukan Ani Yudhoyono, yang dikutip dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965.

Selanjutnya, disebutkan pada awal kedatangannya di Jayapura pada Juni 1968 untuk mengemban tugas sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Jenderal Sarwo Edhie langsung dihadapkan dengan persiapan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

Sesuai dengan Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962, referendum untuk menentukan bergabung atau tidaknya Irian Barat dengan Indonesia harus digelar paling lambat pada 1969. Pada saat itu, Jenderal Sarwo Edhie diberi satu misi yaitu Indonesia harus menang dalam referendum.

Misi yang diamanatkan tersebut jelas tidak mudah untuk direalisasikan, mengingat tenggat waktu hanya tinggal setahun. Selain itu, banyak operasi sebelumnya seperti Operasi Wisnumurti, Sadar, dan Bharatayudha yang gagal dan menyebabkan gangguan keamanan dari Organisasi Papua Merdeka meningkat.




BACA JUGA:
3 Alasan Sarwo Edhie Wibowo Mundur dari Parlemen pada Masa Orde Baru




Gangguan keamanan yang paling meresahkan saat itu adalah gerakan yang dipimpin Sersan Mayor Permenas Ferry Awom yaitu seorang bekas sukarelawan Batalion Papua bentukan Belanda. Serta ada juga dari Hotmoes &quot;Lodewijk&quot; Mandatjan, dan ondoai alias kepala suku Arfak.



BACA JUGA:
Tiba di Papua, Panglima TNI Langsung Evaluasi Mendalam Operasi SAR Pilot Susi Air&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Berkaca pada pengalaman panglima-panglima pendahulunya, Jenderal Sarwo Edhie membuat dan menyempurnakan strategi atau operasi yang sebelumnya pernah dijalankan. Hal yang dilakukan yaitu membenahi model Operasi Sadar, warisan Brigadir Jenderal Kartidjo, dalam bentuk Operasi Wibawa.


Seperti dituliskan dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Operasi Wibawa ini mengutamakan operasi teritorial bersifat persuasif tanpa peperangan, meski secara bersamaan operasi intelijen dan tempur tetap dilakukan.







Hal yang dilakukan dalam operasi ini yaitu menerbangkan Pesawat Dakota dan pengebom ringan B-25 Mitchell untuk menyebarkan selebaran berisi seruan agar gerilyawan turun gunung.



Cara lainnya adalah dengan merangkul masyarakat Papua dengan memberikan barang mewah pada saat itu berupa radio transistor merk Philips L4 kepada para tokoh masyarakat setempat. Serta sering mengunjungi dan bertemu dengan tokoh-tokoh Papua untuk berdiskusi perihal Pepera.



Setelah 2 tahun mengemban tugas sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih dan lewat Operasi Wibawa tersebut, Jenderal Sarwo Edhie berhasil menjalankan misi yang diamanatkan. Akhirnya, rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia dalam sebuah referendum yang dikenal Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada Juli &amp;ndash; Agustus 1969.

</description><content:encoded>


JAKARTA - Sarwo Edhie Wibowo merupakan seorang perwira tinggi militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berpangkat Jenderal. Sarwo Edhie punya banyak rekam jejak yang cukup cemerlang sewaktu berkarier sebagai TNI. Salah satunya sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih pada 1968-1970.

Ketika mengetahui akan dijadikan sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Jenderal Sarwo Edhie tampak semangat.

&quot;Ini tantangan untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia,&quot; ujar Sarwo ditirukan Ani Yudhoyono, yang dikutip dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965.

Selanjutnya, disebutkan pada awal kedatangannya di Jayapura pada Juni 1968 untuk mengemban tugas sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Jenderal Sarwo Edhie langsung dihadapkan dengan persiapan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

Sesuai dengan Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962, referendum untuk menentukan bergabung atau tidaknya Irian Barat dengan Indonesia harus digelar paling lambat pada 1969. Pada saat itu, Jenderal Sarwo Edhie diberi satu misi yaitu Indonesia harus menang dalam referendum.

Misi yang diamanatkan tersebut jelas tidak mudah untuk direalisasikan, mengingat tenggat waktu hanya tinggal setahun. Selain itu, banyak operasi sebelumnya seperti Operasi Wisnumurti, Sadar, dan Bharatayudha yang gagal dan menyebabkan gangguan keamanan dari Organisasi Papua Merdeka meningkat.




BACA JUGA:
3 Alasan Sarwo Edhie Wibowo Mundur dari Parlemen pada Masa Orde Baru




Gangguan keamanan yang paling meresahkan saat itu adalah gerakan yang dipimpin Sersan Mayor Permenas Ferry Awom yaitu seorang bekas sukarelawan Batalion Papua bentukan Belanda. Serta ada juga dari Hotmoes &quot;Lodewijk&quot; Mandatjan, dan ondoai alias kepala suku Arfak.



BACA JUGA:
Tiba di Papua, Panglima TNI Langsung Evaluasi Mendalam Operasi SAR Pilot Susi Air&amp;nbsp; &amp;nbsp;



Berkaca pada pengalaman panglima-panglima pendahulunya, Jenderal Sarwo Edhie membuat dan menyempurnakan strategi atau operasi yang sebelumnya pernah dijalankan. Hal yang dilakukan yaitu membenahi model Operasi Sadar, warisan Brigadir Jenderal Kartidjo, dalam bentuk Operasi Wibawa.


Seperti dituliskan dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Operasi Wibawa ini mengutamakan operasi teritorial bersifat persuasif tanpa peperangan, meski secara bersamaan operasi intelijen dan tempur tetap dilakukan.







Hal yang dilakukan dalam operasi ini yaitu menerbangkan Pesawat Dakota dan pengebom ringan B-25 Mitchell untuk menyebarkan selebaran berisi seruan agar gerilyawan turun gunung.



Cara lainnya adalah dengan merangkul masyarakat Papua dengan memberikan barang mewah pada saat itu berupa radio transistor merk Philips L4 kepada para tokoh masyarakat setempat. Serta sering mengunjungi dan bertemu dengan tokoh-tokoh Papua untuk berdiskusi perihal Pepera.



Setelah 2 tahun mengemban tugas sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih dan lewat Operasi Wibawa tersebut, Jenderal Sarwo Edhie berhasil menjalankan misi yang diamanatkan. Akhirnya, rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia dalam sebuah referendum yang dikenal Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada Juli &amp;ndash; Agustus 1969.

</content:encoded></item></channel></rss>
