<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Melihat Peran Media Konvensional dan Baru Jelang Pemilu 2024</title><description>Keduanya tidak bisa dipisahkan tanpa ada status salah satu lebih penting dari yang lainnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2801056/melihat-peran-media-konvensional-dan-baru-jelang-pemilu-2024</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2801056/melihat-peran-media-konvensional-dan-baru-jelang-pemilu-2024"/><item><title>Melihat Peran Media Konvensional dan Baru Jelang Pemilu 2024</title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2801056/melihat-peran-media-konvensional-dan-baru-jelang-pemilu-2024</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/19/337/2801056/melihat-peran-media-konvensional-dan-baru-jelang-pemilu-2024</guid><pubDate>Rabu 19 April 2023 03:35 WIB</pubDate><dc:creator>Inin Nastain</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/19/337/2801056/melihat-peran-media-konvensional-dan-baru-jelang-pemilu-2024-fpE1ORgMEO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Aiman Witjaksono. (Foto: Tangkapan layar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/19/337/2801056/melihat-peran-media-konvensional-dan-baru-jelang-pemilu-2024-fpE1ORgMEO.jpg</image><title>Aiman Witjaksono. (Foto: Tangkapan layar)</title></images><description>JAKARTA - Keberadaan&amp;nbsp;media, baik&amp;nbsp;konvensional&amp;nbsp;maupun baru dinilai memiliki peran penting di era sekarang, khususnya menghadapi Pemilu 2024. Keduanya tidak bisa dipisahkan tanpa ada status salah satu lebih penting dari yang lainnya.

Peneliti Utama Indikator Politik Kenedy Muslim menjelaskan,&amp;nbsp;pengguna internet di Indonesia dewasa ini semakin meningkat.&amp;nbsp;

&quot;Media&amp;nbsp;baru akan semakin berpengaruh terhadap perpolitikan di Indonesia. Hal ini terlihat dari data pengguna&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru yang kian bertambah dari masa ke masa,&amp;rdquo; kata Kenedy dalam diskusi bertajuk 'Efektivitas Penggunaan&amp;nbsp;Media&amp;nbsp;Konvensional&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Media&amp;nbsp;Baru sebagai Platform Menghadapi Pemilu 2024,' pada Selasa (18/4/2023).

BACA JUGA:
Bicara di MNC Forum, Ketua KPU Ungkap Alasan Pemilu 2024 Ditetapkan Hari Rabu&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Di sisi lain, lanjutnya,&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional&amp;nbsp;seperti halnya berita televisi dan dialog politik, masih memiliki peran yang juga tidak kecil. Media tersebut memiliki peran yang cukup signifikan dalam memengaruhi calon pemilih.

Dalam kesempatan yang sama, influencer Tsamara Amany Alatas menjelaskan,&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru dinilai sangat efektif untuk meningkatkan popularitas, baik bagi tokoh maupun partai politik.

Hal itu terlihat dari topik-topik yang ada di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;sosial (medsos) tidak jarang diangkat sebagai berita di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional.

&quot;Seringkali topik-topik yang dibahas di Twitter, Tiktok, dan&amp;nbsp;media&amp;nbsp;sosial lainnya kemudian diangkat jadi pemberitaan di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional. Ini bukti bahwa&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru dapat memengaruhi&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional,&quot; ucap Tsamara.

BACA JUGA:
 KPU: Mantan Napi Boleh Nyaleg jika Lewat 5 Tahun Usai Jalani Proses Pidananya&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kendati demikian, Tsamara menilai,&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru tetap tidak bisa jadi tulang punggung utama bagi tokoh dan partai politik. Tidak berbanding lurusnya elektabilitas tokoh dengan tingkat popularitas di medsos, menjadi bukti akan hal itu.

&quot;Pada beberapa tokoh dan partai politik tingkat elektabilitas yang diperoleh tidak berbanding lurus dengan popularitas di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;sosial,&quot; jelas alumnus Paramadina itu.&amp;nbsp;

Sementara itu, praktisi&amp;nbsp;media&amp;nbsp;Aiman Witjaksono menekankan pentingnya kedua jenis&amp;nbsp;media&amp;nbsp;tersebut. Ditegaskannya, keberadaan dua jenis&amp;nbsp;media&amp;nbsp;itu, sudah seharusnya dimanfaatkan secara maksimal.&amp;nbsp;&quot;Tidak perlu kita memilih antara media baru atau media konvensional. Keduanya sama-sama perlu dimanfaatkan secara maksimal sesuai karakteristiknya masing-masing,&amp;rdquo; kata Aiman.



Dalam kesempatan itu, dia juga menekankan pentingnya literasi digital pada era masa kini. Hal itu untuk menyaring informasi dari kedua media tersebut.



Ketua Pelaksana diskusi Abdul Malik Anwar Hamisi menjelaskan, lewat kegiatan tersebut diharapkan bisa memberi pengetahuan kepada khalayak terkait transformasi komunikasi politik pada era digital.



&quot;Kami berharap, diskusi ini dapat memberi dampak positif,&quot; harapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Keberadaan&amp;nbsp;media, baik&amp;nbsp;konvensional&amp;nbsp;maupun baru dinilai memiliki peran penting di era sekarang, khususnya menghadapi Pemilu 2024. Keduanya tidak bisa dipisahkan tanpa ada status salah satu lebih penting dari yang lainnya.

Peneliti Utama Indikator Politik Kenedy Muslim menjelaskan,&amp;nbsp;pengguna internet di Indonesia dewasa ini semakin meningkat.&amp;nbsp;

&quot;Media&amp;nbsp;baru akan semakin berpengaruh terhadap perpolitikan di Indonesia. Hal ini terlihat dari data pengguna&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru yang kian bertambah dari masa ke masa,&amp;rdquo; kata Kenedy dalam diskusi bertajuk 'Efektivitas Penggunaan&amp;nbsp;Media&amp;nbsp;Konvensional&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Media&amp;nbsp;Baru sebagai Platform Menghadapi Pemilu 2024,' pada Selasa (18/4/2023).

BACA JUGA:
Bicara di MNC Forum, Ketua KPU Ungkap Alasan Pemilu 2024 Ditetapkan Hari Rabu&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Di sisi lain, lanjutnya,&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional&amp;nbsp;seperti halnya berita televisi dan dialog politik, masih memiliki peran yang juga tidak kecil. Media tersebut memiliki peran yang cukup signifikan dalam memengaruhi calon pemilih.

Dalam kesempatan yang sama, influencer Tsamara Amany Alatas menjelaskan,&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru dinilai sangat efektif untuk meningkatkan popularitas, baik bagi tokoh maupun partai politik.

Hal itu terlihat dari topik-topik yang ada di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;sosial (medsos) tidak jarang diangkat sebagai berita di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional.

&quot;Seringkali topik-topik yang dibahas di Twitter, Tiktok, dan&amp;nbsp;media&amp;nbsp;sosial lainnya kemudian diangkat jadi pemberitaan di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional. Ini bukti bahwa&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru dapat memengaruhi&amp;nbsp;media&amp;nbsp;konvensional,&quot; ucap Tsamara.

BACA JUGA:
 KPU: Mantan Napi Boleh Nyaleg jika Lewat 5 Tahun Usai Jalani Proses Pidananya&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kendati demikian, Tsamara menilai,&amp;nbsp;media&amp;nbsp;baru tetap tidak bisa jadi tulang punggung utama bagi tokoh dan partai politik. Tidak berbanding lurusnya elektabilitas tokoh dengan tingkat popularitas di medsos, menjadi bukti akan hal itu.

&quot;Pada beberapa tokoh dan partai politik tingkat elektabilitas yang diperoleh tidak berbanding lurus dengan popularitas di&amp;nbsp;media&amp;nbsp;sosial,&quot; jelas alumnus Paramadina itu.&amp;nbsp;

Sementara itu, praktisi&amp;nbsp;media&amp;nbsp;Aiman Witjaksono menekankan pentingnya kedua jenis&amp;nbsp;media&amp;nbsp;tersebut. Ditegaskannya, keberadaan dua jenis&amp;nbsp;media&amp;nbsp;itu, sudah seharusnya dimanfaatkan secara maksimal.&amp;nbsp;&quot;Tidak perlu kita memilih antara media baru atau media konvensional. Keduanya sama-sama perlu dimanfaatkan secara maksimal sesuai karakteristiknya masing-masing,&amp;rdquo; kata Aiman.



Dalam kesempatan itu, dia juga menekankan pentingnya literasi digital pada era masa kini. Hal itu untuk menyaring informasi dari kedua media tersebut.



Ketua Pelaksana diskusi Abdul Malik Anwar Hamisi menjelaskan, lewat kegiatan tersebut diharapkan bisa memberi pengetahuan kepada khalayak terkait transformasi komunikasi politik pada era digital.



&quot;Kami berharap, diskusi ini dapat memberi dampak positif,&quot; harapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
