<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Desak Sudan Lindungi WNI yang Terjebak Konflik Militer </title><description>Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta pemerintah Sudan melindungi warga negara Indonesia (WNI).</description><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/20/18/2801958/indonesia-desak-sudan-lindungi-wni-yang-terjebak-konflik-militer</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2023/04/20/18/2801958/indonesia-desak-sudan-lindungi-wni-yang-terjebak-konflik-militer"/><item><title>Indonesia Desak Sudan Lindungi WNI yang Terjebak Konflik Militer </title><link>https://news.okezone.com/read/2023/04/20/18/2801958/indonesia-desak-sudan-lindungi-wni-yang-terjebak-konflik-militer</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2023/04/20/18/2801958/indonesia-desak-sudan-lindungi-wni-yang-terjebak-konflik-militer</guid><pubDate>Kamis 20 April 2023 20:31 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Fadli Rizal</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/04/20/18/2801958/indonesia-desak-sudan-lindungi-wni-yang-terjebak-konflik-militer-ne27WHfbR7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Retno Marsudi (Youtube Mofa Indonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/04/20/18/2801958/indonesia-desak-sudan-lindungi-wni-yang-terjebak-konflik-militer-ne27WHfbR7.jpg</image><title>Retno Marsudi (Youtube Mofa Indonesia)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xOC80LzE2NTMzOS81L3g4azZyZnY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta pemerintah Sudan melindungi warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak konflik militer bersenjata di negara itu.

Retno menilai, sejak pertempuran antara militer Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus pada 15 April 2023, beberapa kali Wisma Indonesia dan KBRI Khartoum turut terdampak konflik.

Menanggapi kecenderungan eskalasi konflik, kata Retno, KBRI Khartoum terus melakukan komunikasi dan permintaan perlindungan WNI kepada Kementerian Luar Negeri Sudan.

&amp;ldquo;Saya juga telah mengirim pesan ke Menlu Sudan untuk meminta pembicaraan melalui telepon. Namun, sampai saat ini belum ditanggapi,&amp;rdquo; ujar Retno dalam keterangan pers yang digelar virtual, Kamis (20/4/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Situasi Keamanan di Sudan Memburuk, KBRI Khartoum Tetapkan Status Siaga 1

Pesan tersebut ditegaskan kembali oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI kepada Duta Besar Sudan di Jakarta.  Menlu kedua negara diharapkan bisa segera berbicara dan Indonesia meminta pelindungan bagi misi diplomatik dan keselamatan WNI di Sudan.

Sampai saat ini, kata Menlu Retno, situasi di Sudan tidak membaik dan bahkan cenderung terjadi eskalasi. Pertempuran untuk memperebutkan objek-objek vital antara lain terjadi di Istana Presiden, Markas Komando Militer, dan Bandara Internasional Khartoum.

&amp;ldquo;Titik pertempuran juga terjadi di Markas RSF, salah satunya berlokasi di dekat Universitas Internasional Afrika, di mana banyak WNI bertempat tinggal,&amp;rdquo; kata Retno.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

RI Ingin Evakuasi WNI dari Perang, Tapi Menlu Sudan Belum Respons Telepon Indonesia

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), korban meninggal mencapai 300 jiwa dan korban luka sudah lebih dari 3.000 orang. Beberapa upaya gencatan senjata pun belum membuahkan hasil.

&amp;ldquo;Perkembangan ini menimbulkan keprihatinan yang sangat dalam dan kewaspadaan yang sangat tinggi,&amp;rdquo; ujar dia.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNC8xOC80LzE2NTMzOS81L3g4azZyZnY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta pemerintah Sudan melindungi warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak konflik militer bersenjata di negara itu.

Retno menilai, sejak pertempuran antara militer Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) meletus pada 15 April 2023, beberapa kali Wisma Indonesia dan KBRI Khartoum turut terdampak konflik.

Menanggapi kecenderungan eskalasi konflik, kata Retno, KBRI Khartoum terus melakukan komunikasi dan permintaan perlindungan WNI kepada Kementerian Luar Negeri Sudan.

&amp;ldquo;Saya juga telah mengirim pesan ke Menlu Sudan untuk meminta pembicaraan melalui telepon. Namun, sampai saat ini belum ditanggapi,&amp;rdquo; ujar Retno dalam keterangan pers yang digelar virtual, Kamis (20/4/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Situasi Keamanan di Sudan Memburuk, KBRI Khartoum Tetapkan Status Siaga 1

Pesan tersebut ditegaskan kembali oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI kepada Duta Besar Sudan di Jakarta.  Menlu kedua negara diharapkan bisa segera berbicara dan Indonesia meminta pelindungan bagi misi diplomatik dan keselamatan WNI di Sudan.

Sampai saat ini, kata Menlu Retno, situasi di Sudan tidak membaik dan bahkan cenderung terjadi eskalasi. Pertempuran untuk memperebutkan objek-objek vital antara lain terjadi di Istana Presiden, Markas Komando Militer, dan Bandara Internasional Khartoum.

&amp;ldquo;Titik pertempuran juga terjadi di Markas RSF, salah satunya berlokasi di dekat Universitas Internasional Afrika, di mana banyak WNI bertempat tinggal,&amp;rdquo; kata Retno.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

RI Ingin Evakuasi WNI dari Perang, Tapi Menlu Sudan Belum Respons Telepon Indonesia

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), korban meninggal mencapai 300 jiwa dan korban luka sudah lebih dari 3.000 orang. Beberapa upaya gencatan senjata pun belum membuahkan hasil.

&amp;ldquo;Perkembangan ini menimbulkan keprihatinan yang sangat dalam dan kewaspadaan yang sangat tinggi,&amp;rdquo; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
